Usai Dogecoin dan Shiba Inu, Cryptocurrency ini Menonjol di 2022?

Tanpa disadari, tahun 2021 ternyata tinggal menyisakan kurang dari 40 hari lagi. Jelang 2022 tentu ada banyak harapan didengungkan termasuk urusan cryptocurrency. Bahkan bisa dibilang pergerakan mata uang kripto di tahun 2021 ini sangatlah memuaskan. Ada banyak mata uang-mata uang kripto yang makin dikenal dan menonjol termasuk dogecoin (DOGE) dan shiba inu (SHIB).

Dari banyaknya aset kripto, DOGE dan SHIB seolah membuktikan kalau spekulasi justru membuat mereka makin populer. Kendati begitu jika dibandingkan dengan ethereum (ETH) atau bahkan lebih-lebih bitcoin (BTC), kedua mata uang kripto yang memiliki lambang anjing itu memang masih sangat jauh. Hanya saja liarnya pergerakan dogecoin dan shiba inu menguatkan fakta bahwa ‘meme coin’ punya peluang besar untuk tumbuh.

Melihat popularitas dogecoin dan shiba inu yang begitu melesat ini, Pang Xue Kai selaku CEO Tokocrypto pun angkat bicara kepada Bisnis. Menurut Kai, pertumbuhan DOGE dan SHIB dipengaruhi oleh psikologi masyarakat di mana permintaan dan penawarannya sangat tinggi. Tingginya sugesti bahwa harga kedua mata uang kripto itu bakal melambung lagi, membuat banyak investor dan juga trader tertarik.

Baca juga: Jenis Trading Kripto dan Tipe Trader yang Wajib Diketahui

Namun jika dilihat pergerakannya sepanjang 2021 ini, baik dogecoin dan shiba inu mulai populer setelah Elon Musk berkomentar di Twitter. CEO Tesla dan SpaceX yang berstatus sebagai salah satu orang terkaya di Bumi itu memaparkan pandangannya terhadap DOGE dan SHIB yang membuat kedua koin itu harganya melesat. Namun apakah bakal tetap bersinar di 2022? Bagaimana jika nanti akan ada kripto-kripto baru yang populer juga?

Untuk menjawabnya, kami akan mengulas secara lengkap untuk Anda.

Mengenal dan Pergerakan Harga Dogecoin di 2021

via CNBC

Kalau disuruh menyebutkan apa cryptocurrency yang sangat mencuri perhatian di tahun ini, DOGE jelas muncul di posisi teratas. Seperti yang sudah disebut sebelumnya, nama DOGE begitu menonjol sejak Musk secara terang-terangan memberikan dukungan pada bulan April 2021 lalu di akun Twitter resminya. Tak butuh banyak waktu, DOGE langsung diburu penggemar kripto.

Dengan harganya yang melambung kala itu, cukup menarik mengetahui karena pada awalnya dogecoin hadir seperti kelakar sjaa. Diciptakan oleh programmer Jackson Palmer dan Billy Markus pada tahun 2013 lalu, dogecoin sebetulnya hadir sebagai luckycoin fork sehingga sebetulnya sudah tidak berfungsi. Tak heran kalau Yahoo Finance sempat menyebut DOGE sebagai litecoin (LTC) fork.

Bagi Anda yang tidak tahu, cryptocurrency fork sebetulnya merupakan tweak dari source code protokol jaringan blockhain sehingga menghasilkan koin atau yang dalam bahasa pemrograman kriptografi disebut sebagai protokol. Tak heran kalau akhirnya di tahun 2014 silam, dogecoin sempat mendukung penambangan gabungan dengan LTC, seperti dilansir CNN Indonesia.

Dua tahun sejak ‘melahirkan’ DOGE, Palmer justru keluar dari perusahaan dan menegaskan kalau dogecoin sebetulnya hanya merupakan lelucon, sehingga tidak berharap bakal menghasilkan uang. Namun pada tahun 2018 atau sekitar tiga tahun sejak dirinya keluar, harga dogecoin justru sudah melambung hingga enam kali lipat, tanpa adanya batas penambangan.

Baca juga: Performa Harga Cryptocurrency Kapitalisasi Pasar Terbesar Saat Ini

Untuk pergerakan harganya sendiri, Coinbase dan Morningstar melaporkan jika dogecoin ada di level Rp3.194 per ‘keping’ pada hari Kamis (25/11) malam kemarin. Apa yang diraih DOGE ini bisa dibilang cukup muram karena meskipun tercatat meningkat 2,64% atau sekitar 82 poin, pergerakan harga dogecoin dalam sepekan dan sebulan terakhir masih di zona merah.

Kondisi berbeda jika melihat naik-turunnya harga DOGE di sepanjang tahun 2021 ini, karena justru ada di zona hijau. Dibanderol dengan harga kurang dari Rp100 per token di bulan Desember 2020 lalu, dogecoin benar-benar melesat hingga ATH (All Time High) pada bulan April hingga Mei. Di mana kala itu dogecoin bertengger di posisi Rp9.734 pada 7 Mei.

Namun sejak pencapaian tertingginya, harga dogecoin justru berangsur-angsur anjlok. Kurang dari dua bulan sejak di awal Mei itu, DOGE justru terperosok ke level Rp2.598 pada 21 Juni kemarin. Dan hingga di pertengahan bulan November saat ini, harga DOGE memang luar biasa fluktuatif dan tak sanggup lagi menembus Rp5.000 per ‘keping’.

Kapitalisasi Pasar Cukup Besar, DOGE Diburu di AS

Kendati pergerakan harganya tidak memperlihatkan kondisi memuaskan hingga bulan November mau berakhir ini, faktanya publik Amerika Serikat (AS) justru luar biasa antusias. Bahkan dalam sebuah penelitian yang dilakukan penasihat keuangan The Advisor Coach, DOGE menjadi cryptocurrency yang diburu setidaknya penduduk di 23 negara bagian AS, seperti dilansir Kontan.

Kondisi ini diperkuat oleh hasil analisis data Google Trends yang membuktikan jika dogegcoin menjadi crypcocoin pilihan banyak penduduk AS termasuk di Illinois, Florida, Hawai sampai New Jersey. Memiliki total kapitalisasi pasar sebesar US$29 miliar, hingga sejauh ini jumlah DOGE yang telah beredar di pasaran sebanyak lebih dari 132 miliar token.

Mengenal dan Pergerakan Harga Shiba Inu di 2021

© InterestingEngineer

Nah selain dogecoin, inilah meme coin berikutnya yang juga menarik perhatian. Seperti DOGE, shiba inu juga memilih gambar anjing sebagai lambang koin virtualnya ini. Sama seperti DOGE, SHIB juga meraih popularitas tinggi berkat cuitan Musk di akun Twitternya. Kala itu Musk mengunggah foto anak anjing miliknya yang bernama Floki dengan caption ‘Floki Funkpuppy. Sekadar informasi, Floki adalah anjing ras Shiba Inu asal Jepang.

Kendati mungkin tak ada kaitannya, faktanya apa yang dilakukan Musk langsung membuat harga SHIB melambung kala itu. Sedangkan pada hari Jumat (26/11) pagi, Coinmarketcap melaporkan jika koin shiba inu ada di posisi $0,00004203 per ‘kepingnya’. Memiliki total kapitalisasi pasar mencapai lebih dari US$23 miliar, bisa dibilang pencapaian ini membuat SHIB memasuki zona hijau setelah sempat ada di area merah beberapa hari lalu.

Hanya saja jika dibandingkan dengan raihannya dalam sepekan terakhir, harga SHIB saat ini memang masih terkoreksi lantaran sempat ada di level $0,00005121 pada 19 November 2021 kemarin. Sedangkan jika ditarik mundur lagi hingga satu bulan terakhir, butuh perjuangan agar SHIB sanggup kembali ke level $0,00006144 pada 28 Oktober 2021 yang lalu.

Lantas kapan sebetulnya SHIB mampu meraih posisi ATH seperti yang dialami dogecoin? Tenryata pada 27 Oktober 2021 di level $0,00008, jauh lebih tinggi daripada saat pertama kali diluncurkan pada awal Agustus 2020 silam di level $0,00000000051. Pencapaian ini membuat shiba inu tercatat sudah melambung lebih dari 13.211% hanya dalam waktu 15 bulan terakhir.

Lalu sebetulnya, apa yang membuat harga koin shiba inu itu mampu melambung besar? Dilansir Kontan, berikut beberapa di antaranya:

  • Makin banyak investor dan trader yang memilih mendaftarkan token SHIB dalam kegiatan mereka di pasar kripto, sehingga membuat aset kripto yang satu ini meroket
  • Dirilisnya pertukaran terdesentralisasi ShibaSwap pada bulan Juli lalu. Kondisi ini membuat pelaku bursa kripto mulai mengoleksi SHIB sebagai salah satu cryptoasset dalam waktu relatif lama

Hanya saja meskipun harganya cukup melambung, para analisa cryptocurrency tetap menganjurkan agar pengoleksi pemula cukup berhati-hati dengan pergerakan koin shiba inu. Tak lain lantaran SHIB telah dilaporkan gagal dalam tes sniff yang bertujuan melihat keunggulan kompetitif. Kondisi ini membuat kripto yang digadang-gadang sebagai ‘Sang Pembunuh Dogecoin’ ini tak punya kemampuan dalam memproses transaksi.

Baca juga: Rahasia Sukses Trading Kripto Harian Bagi Pemula

Belum lagi adanya pembayaran koin yang dipandang jauh lebih efisien dan murah daripada shiba inu, membuat mata uang kripto ini bahkan tak mampu menembus level US$1 per kepingnya. Akan seperti apakah pergerakan cryptocurrency yang dibesut entitas misterius bernama Ryoshi ini ke depannya? Patut untuk dinantikan karena memang pergerakan harga SHIB sejauh ini masih dikontrol oleh komunitas.

Cryptocurrency ini Gantikan Dogecoin dan Shiba Inu?

Lepas dari berbagai kontroversi yang mengikuti langkahnya, tak bisa dipungkiri kalau dogecoin dan shiba inu turut berkontribusi dalam meningkatkan kapitalisasi pasar mata uang kripto di seluruh dunia. Hanya saja dengan kini kondisinya yang cukup ‘terseok-seok’, pasar pun mulai menantikan kehadiran cryptocurrency terbaru. Dan The Motley Fool pun sempat menyebutkan mengenai dua koin kripto yang berpotensi di 2022 nanti.

Apa saja? Berikut ulasan aset kripto yang kabarnya akan menarik perhatian di tahun depan seperti dogecoin dan shiba inu:

1. Stellar

© Shutterstock

Berada di posisi ke-24, sejauh ini total kapitalisasi pasar stellar (XLM) menembus US$8,3 miliar dan diprediksi bisa melampaui pencapaian shiba inu pada tahun 2022 mendatang. Mempunyai total suplai lebih dari 24,3 miliar token, stellar memiliki keunggulan dalam hal pembayaran lintas batas yang meningkat cukup signifikan. Kini dengan infrastruktur pembayaran yang dimiliki, XLM butuh waktu hingga satu pekan untuk validasi lintas batas.

Dengan menggunakan stellar, Anda bisa mengubah mata uang fiat seperti rupiah, dolar AS atau yen Jepang menjadi Lumens XLM yang merupakan token protokol pada jaringan blockchain stellar dan ditransfer ke seluruh penjuru dunia hanya dalam waktu 4-5 detik dan biaya 0,00001 XLM. Coinmarketcap melaporkan jika harga XLM pada Jumat (26/11) pagi di level $0,3417 (sekitar Rp4.881).

Baca juga: Rekor, Harga Bitcoin Tembus Rp944 Juta Per Keping!

2. Algorand

© Capital

Selain stellar, cryptocurrency berikutnya yang juga akan mengikuti jejak dogecoin dan shiba inu di tahun 2022 nanti adalah algorand (ALGO). Pada hari Jumat (26/11) pagi, Coinmarketcap merilis posisi nilai tukarnya di level $1,82 (sekitar Rp26 ribu). Bukan cuma harga token yang lebih tinggi, algorand rupanya juga punya kapitalisasi pasar lebih baik daripada stellar.

Di mana saat ini ALGO ada di posisi ke-20 berdasarkan total kapitalisasi pasar yakni sebesar lebih dari US$11,4 miliar. Dengan jumlah distribusi token sekitar 6,26 miliar, algorand tentu berpotensi besar menggeser dogecoin dan shiba inu. Sama seperti XLM, ALGO juga memiliki sejumlah keunggulan seperti mekanisme konsensus bukti kepemilikan yang sudah lebih baik yakni PPoS (Pure-Proof-of-Stake), daripada PoW (Proof-of-Work) ala BTC.

Nah, bagaimana? Apakah mungkin stellar dan algorand benar-benar bisa menggeser posisi dogecoin dan shiba inu sebagai cryptocurrency yang besar oleh spekulasi? Tentu untuk menjawabnya tinggal menanti tahun 2022 tiba. Namun sebetulnya selain XLM dan ALGO, masiih ada mata uang kripto lain yang patut diperhatikan seperti crypto.com coin (CRO), solana (SOL), nano (NANO), dan cardano (ADA). Dengan berbagai pilihan tersebut, pasar kripto tampaknya akan semakin hidup di tahun depan meskipun keberadaannya di Indonesia masih menuai kontroversi.

Bagikan ;

Tinggalkan komentar