Jenis Trading Kripto dan Tipe Trader yang Wajib Diketahui

Perlahan tapi pasti, cryptocurrency akhirnya menjadi populer di Tanah Air. Kini ada banyak investor atau trader yang tertarik untuk berdagang di pasar kripto, dengan alasan utama cuansangat besar. Karena bagaimana tidak tergiur, pada dua pekan pertama bulan November 2021, harga cryptocurrency melambung yang membuat banyak orang ingin mempelajari berbagai jenis trading kripto.

Bukan tanpa alasan kenapa trading kripto sangat diminati, karena aset digital ini memiliki pergerakan harga yang luar biasa dinamis. Bisa saja di awal pekan harga cryptocurrency tengah melambung, tapi dalam hitungan hari saja langsung terperosok. Hal ini terjadi di banyak mata uang kripto termasuk bitcoin alias BTC, yang memang dianggap sebagai aset digital paling menggiurkan dan berkapitalisasi terbesar.

Baca juga: Performa Harga Cryptocurrency Kapitalisasi Pasar Terbesar Saat Ini

Bayangkan saja, bitcoin sempat menyentuh angka Rp963 juta per ‘keping’ di pekan pertama November, tapi hingga Selasa (23/11) pagi, harganya justru ambruk ke Rp798 juta per ‘keping’. Dengan kondisi seperti ini, tentu menjadikan bitcoin sebagai aset investasi memang luar biasa berisiko. Hanya saja masih banyak orang yang justru mampu meraih cuan lewat skema trading.

Hal inilah yang akhirnya membuat berbagai jenis trading kripto bermunculan, demi memenuhi kebutuhan calon trader. Asalkan Anda mengenalinya satu-persatu, tentu akan bisa menetapkan keputusan yang tepat. Karena bagaimanapun juga, siapapun bisa meraup untung maksimal jika melakukan perdagangan cryptocurrency sesuai kemampuan dan kebutuhan. Jadi, apakah Anda siap untuk belajar?

Jenis-Jenis Trading Kripto yang Wajib Dikenali

via First Post

Menjadi seorang trader cryptocurrency pemula memang bukan sesuatu yang mudah. Ada banyak hal yang wajib dipelajari supaya uang yang dialokasikan tidak terbuang sia-sia. Karena bagaimanapun, melakukan trading di pasar kripto membutuhkan pengetahuan yang mumpuni mulai dari melakukan analisa fundamental aset kripto, hingga memahami berita-berita perekonomian global.

Tunggu, bukankah cryptocurrency punya sifat terdesentralisasi? Kenapa harus memahami berita ekonomi global?

Memang benar. Namun sepanjang waktu berjalan, kondisi perekonomian dunia ikut memberikan pengaruh terhadap pergerakan harga mata uang kriptp. Misalnya saja saat pandemi Covid-19 terjadi, resesi ekonomi menghantam banyak negara dan membuat bank sentral melakukan penyesuaian suku bunga. Ternyata ini memberikan dampak positif ke mata uang kripto.

Begitu pula pada skandal utang yang dialami raksasa properti asal China, Evergrande, rupanya juga ikut mempengaruhi cryptocurrency karena bisa membentuk sentimen pada investor dan trader. Nah, untuk bisa meminimalisir kerugian itulah, tak ada salahnya turut mengetahui perkembangan ekonomi di dunia. Dipadukan dengan pemilihan jenis trading kripto yang tepat, maka Anda bisa memaksimalkan cuan.

Seperti apa saja jenis-jenis trading kripto itu? Berikut beberapa di antaranya yang wajib diketahui:

1. Day Trading

Seperti namanya, day trading merupakan kegiatan trading cryptocurrency yang dilakukan secara harian. Karena harian inilah, Anda sebagai trader harus melakukan pembelian dan penjualan mata uang kripto dalam waktu sehari alias di hari yang sama. Maksudnya jika pembelian pada pagi hari, penjualan bisa dilakukan saat sore tiba. Kunci sukses dari day trading ini adalah senantiasa mengamati pasar.

Karena ketika Anda memilih jenis trading kripto yang satu ini, trader harus benar-benar teliti dan tahu diri kapan waktu yang tepat untuk menjual dan membeli cryptocurrency. Maksudnya ketika harga jual tengah melambung, maka jangan tunggu lama dan segera jual aset kripto. Begitu pula ketika ada cryptocurrency yang harganya tengah anjlok, Anda harus membelinya tapi tetap dengan pertimbangan analisa fundamental yang tepat.

2. Scalping

Jika day trading kegiatannya terjadi dalam waktu satu hari jam operasional pasar, maka scalping bisa dibilang jauh lebih berisiko. Kenapa begitu? Karena jenis trading kripto yang satu ini hanya butuh waktu beberapa menit saja. Yap, dalam kurun waktu menit itu, Anda sebagai trader harus punya keputusan yang tepat mau melakukan pembelian atau penjualan koin.

Mereka yang menggunakan metode scalping, biasanya mengambil cuan dari mata uang-mata uang kripto yang punya pergerakan harga super dinamis dalam waktu menit saja. Meskipun memang keuntungan yang ditawarkan lebih sedikit jika dibandingkan dengan day trading, tetap saja jika dikumpulkan secara terus-menerus dan pastinya berulang, bakal memberikan cuan begitu besar.

3. Swing Trading

Nah, berbeda dengan jenis trading kripto sebelumnya, swing trading rupanya lebih dianjurkan pada pemegang uang bitcoin saja. Berbeda dengan dua jenis trading sebelumnya, swing trading meminta trader untuk senantiasa mengamati grafik harga sekaligus tren pasar tanpa harus melakukannya selama 24 jam penuh atau setiap waktu seperti metode day trading maupun scalping.

Dengan menggunakan swing trading, maka Anda akan menemukan trader yang memilih menahan selama mungkin aset-aset kripto yang mereka miliki, demi memperoleh harga jual terbaik. Apakah sudah pasti untung besar? Tak ada yang bisa memastikan apakah bitcoin bakalan kembali ke ATH (All Time High) hingga hampir satu miliar rupiah per keping, atau justru ambles ke Rp500 jutaan.

Baca juga: Rahasia Sukses Trading Kripto Harian Bagi Pemula

Tipe-Tipe Trader di Pasar Kripto, Anda yang Mana?

via India

Melihat kalau ada lebih dari satu jenis trading kripto, rupanya berpengaruh ke tipe trader. Ya, para pelaku pasar yang sehari-hari melakukan trading ini ternyata juga memiliki beberapa tipe sesuai dengan kebutuhan mereka. Mana yang lebih baik? Menurut Ekrut setidaknya ada tiga tipe trader cryptocurrency masa kini dan paling populer berikut ini:

1. Trader

Dan inilah jenis yang pertama dalam perdagangan pasar kripto yakni trader. Sesuai dengan namanya, trader adalah mereka yang melakukan trading sesuai dengan jenis trading kripto sebelumnya. Tak heran kalau akhirnya trader pun memiliki dua jenis utama yakni day trader dan swing trader.

2. Investor

Berbeda jauh dengan trader yang fokus pada keuntungan jangka pendek, investor lebih mengincar cuan besar meskipun itu butuh waktu lama. Tak heran kalau mereka memang sangat berhati-hati dalam memilih aset kripto, termasuk pertimbangan fundamental sampai akhirnya memutuskan mengalokasikan semua dana untuk membeli cryptocurency tersebut.

Meskipun sedikit mirip dengan swing trading, investor bisa jauh lebih sabar dalam menahan aset dan benar-benar memilih aset yang punya kapitalisasi besar saja seperti bictoin, ethereum (ETH) dan binance coin (BNB). Sama seperti jenis trading kripto yang makin variatif, investor ternyata juga punya dua kategori berbeda yakni uninformed serta informed investor.

Sesuai dengan namanya, uninformed investor biasanya memakai jasa pihak lain untuk mengatur portofolio kripto mereka. Seperti MI (Manajer Investasi), biasanya uninformed investor cuma akan memeriksa performa portofolio sesekali. Lalu kedua ada informed investor yang memang mengelola aset-aset kripto mereka secara mandiri, hingga rela mempelajari pergerakan pasar secara maksimal dan menyimpan aset minimal tiga tahun.

3. Speculator

Jenis trader ketiga ini bisa dibilang yang paling berbahaya dan sudah pasti wajib diwaspadai terutama jika Anda adalah seorang pemula dan benar-benar baru di pasar cryptocurrency. Yap, speculator dianggap sebagai pelaku perdagangan kripto yang hanya mengutamakan keuntungan bagi dirinya sendiri, meskipun harus diperoleh denga merugikan pihak lain.

Para speculator ini biasanya saling berkumpul di sebuah platform dan memasuki pasar kripto hanya sekadar mencoba peruntungan semata. Bukannya mempelajari analisa fundamental masing-masing mata uang kripto, speculator lebih suka mencuri dengar apa yang tengah dibicarakan oleh pelaku pasar lainnya. Bahkan beberapa speculator besar suka mengumpulkan trader dengan tujuan menggiring opini.

Baca juga: Mengenal Solana, Mata Uang Kripto Calon ‘Pembunuh’ Ethereum

Misalkan saja ada mata uang kripto A yang hendak digiring punya harga mahal, maka biasanya para speculator berkumpul dan mengajak para trader untuk membangun informasi sesuai tujuan mereka. Ketika target aset sudah mencapai harga sesuai keinginan karena banyak diburu trader yang ‘termakan’ bujuk rayu, speculator biasanya pergi begitu saja dan tak mempedulikan aset yang sudah dispekulasikan, serta tak peduli trader lain merugi.

Tips Trading Kripto Agar Maksimalkan Cuan

via MPO Times

Jika ditanyakan, mana yang paling unggul dari trader, investor atau speculator dalam pasar kripto? Maka jawabannya tentu tergantung aset yang Anda pilih. Tentu jika pada aset yang sama dengan fundamental baik, bisa dibilang investor berpeluang memperoleh untung terbesar. Seperti halnya pemilk bitcoin yang membeli mata uang kripto itu di harga Rp200 juta beberapa tahun lalu, kini dijual dengan lebih dari Rp800 juta per token.

Namun menanti adanya cryptocurrency lain yang punya hoki sebesar bitcoin tentu sedikit riskan. Daripada cuma berharap pada keuntungan semata, beberapa tips berikut ini bisa coba Anda terapkan supaya mampu memaksimalkan cuan di pasar kripto.

Pertama, pelajari aset kripto terlebih dulu.

Yap, dunia cryptocurrency tidaklah cuma mengandalkan keuntungan semata. Jika memang untung besar yang diincar, Anda haruslah tahu seperti apa sih aset kripto yang dipilih. Siapa pembesutnya, platform blockchain seperti apa yang dibangun hingga pergerakan harganya dalam beberapa waktu terakhir. Dengan mengenal mendalam aset itu, Anda tentu akan tahu seperti apa potensi keuntungan dan juga ruginya dengan jelas.

Kedua, gunakan uang dingin.

Maksud dari uang dingin ini adalah uang yang sebetulnya tidak Anda gunakan dan memang sengaja ditabung untuk penghasilan. Dengan menggunakan uang yang menganggur, maka Anda tak akan cemas kalau nanti ternyata kinerja aset kripto tidak sesuai harapan. Karena jika Anda memaksa trading cryptocurrency dengan uang panas atau uang yang dipakai dalam waktu dekat, jika merugi tentu bisa bikin stres.

Baca juga: Review ADA (Cardano), Mata Uang Kripto Pesaing Bitcoin dan Ethereum

Ketiga, beli aset kripto saat harga anjlok.

Sama seperti berbagai instrumen investasi pada umumnya, jika memang ingin memaksimalkan keuntungan, belilah aset-aset kripto yang tengah dijual murah. Namun jangan semabrangan pilih, karena Anda harus membeli mata uang kripto yang memang punya fundamental baik sehingga tetap mampu menghasilkan keuntungan sekalipun harganya terjangkau.

Keempat, beli perlahan..

Karena Anda adalah seorang trader pemula, ada baiknya membeli aset kripto secara perlahan alias sedikit demi sedikit. Misalkan saja Anda memiliki dana menganggur di tabungan sebesar Rp20 juta yang memang dialokasikan untuk investasi. Jangan digunakan semuanya, tapi pakai maksimal 20% alias Rp4 juta untuk trading kripto. Dengan dana yang ada, amati dulu pergerakan cryptocurrency baru kemudian tambah lagi pembeliannya.

Dan hal terakhir yang sangat penting dan wajib dipahami setiap pelaku pasar kripto terlepas dari jenis trading kripto yang mereka pilih adalah hindari FOMO (Fear of Missing Out), Maksudnya adalah jangan terburu-buru membeli kripto ketika harganya tengah melambung hanya karena enggan ketinggalan tren seperti viralnya dogecoin (DOGE) beberapa waktu lalu. Namun belilah di waktu yang tepat dengan pertimbangan bijak.

Bagikan ;

Tinggalkan komentar