Rekor, Harga Bitcoin Tembus Rp944 Juta Per Keping!

Bisa dibilang dalam sepekan terakhir, para pemilik aset cryptocurrency terutama Bitcoin, memang tengah bahagia. Tak ayal karena mata uang kripto dengan kapitalisasi terbesar itu mampu menembus nilai tertinggi sepanjang sejarah. Tercatat pada hari Kamis (21/10) sore, harga Bitcoin mencapai US$65.103 (sekitar Rp920 juta) per keping!

Raihan pada sore ini memang terbilang menurun jika dibandingkan sehari sebelumnya. Tak main-main pada Rabu (20/10) kemarin, Bitcoin (BTC) memecahkan rekor karena mampu mencapai US$67.016 (sekitar RP944 juta) per keping. Apa yang dicapai BTC pada pekan ketiga bulan Oktober ini jelas menjadi tertinggi sepanjang sejarah, bahkan lebih besar daripada pencapaian 14 April 2021 yakni US$64.895 per koin.

Tentu saja harga Bitcoin yang benar-benar fantastis ini seolah menghapus jejak keraguan publik yang menyebutkan jika BTC sudah habis. Ada banyak cryptocurrency yang dibangun jauh lebih kompleks, lebih aman dan lebih berkualitas dari sistem blockchain Bitcoin saat ini. Sejumlah mata uang kripto itu sempat disebut bakal mampu menggeser posisi mata uang kripto itu dari tahta puncak.

Baca juga: Mengenal Solana, Mata Uang Kripto Calon ‘Pembunuh’ Ethereum

Sekadar catatan, CNN Business melansir bahwa harga Bitcoin sudah memumbung tinggi hingga 50% di bulan Oktober ini. Padahal pada akhir September 2021 kemarin, Bitcoin sempat luar biasa terpuruk di posisi US$44 ribu.

Lantas apa yang menyebabkan harga Bitcoin begitu naik gila-gilaan?

Salah satu yang dianggap sebagai ‘biang keladi’ adalah langkah pemerintah Amerika Serikat yang tampak enggan menghapus cryptocurrency. Bukan itu saja, dukungan George Soros terhadap aset kripto seolah semakin menguatkan posisi cryptocurrency sebagai instrumen investasi masa depan, secara Soros adalah salah satu investor yang begitu disegani publik dunia.

Semakin menguatkan posisinya, Bitcoin juga mampu terkerek hingga puncak setelah bursa berjangka alias ETF (Exchange Traded Fund) berbasis Bitcoin diluncurkan perdana di Amerika Serikat. Semenjak dipedagangkan pada Selasa (19/10) pagi, ETF Strategi Bitcoin ProShares langsung meningkat sebesar tiga persen di hari Rabu (20/10).

Perlahan Tapi Pasti, Harga Bitcoin Bakal Tembus Rp1 Miliar?

via Kryptomoney

Geliat harga Bitcoin yang terus melambung ini memang sebetulnya sudah terlihat sejak awal bulan Oktober 2021. Saat itu berita hedge fund yang dikendalikan Soros mulai mempercayai BTC, membuat tren mata uang kripto ini makin berkilau.

Tak main-main, Bitcoin akhirnya mampu menembus level US$50 ribu untuk kali pertama dalam empat minggu. Bahkan di akhir September – awal Oktober kemarin itu, Bitcoin mencatat kenaikan hingga 35% dibandingkan pekan sebelumnya. Atas kondisi ini, bitcoinlogin.net sebetulnya sudah melakukan prediksi sejak bulan September 2021 lantaran minat masyarakat akan investasi BTC terus meningkat.

Berbeda dengan bitcoinlogin.net, Ruud Feltkamp selaku CEO bot perdagangan kripto otomatis yang berbasis cloud Cryptohopper, menyebutkan kalau kenaikan harga Bitcoin ini hanyalah fenomena biasa. “Saya sudah mengatakan berulang kali sejak musim panas, bahwa level tertinggi baru Bitcoin diperkirakan bakal terjadi pada Oktober 2021.”

Baca juga: Review ADA (Cardano), Mata Uang Kripto Pesaing Bitcoin dan Ethereum

“Jadi kalau begitu, apa alasan kenaikan baru Bitcoin saat ini? Saya pikir ini adalah karena siklus pasar tempat kita berada, bagian emosional benar-benar berperan penting. Jadi ketika Bitcoin berkinerja baik bulan ini, tentu merupakan ramalan yang sudah terpenuhi dengan sendirinya,” tutup Feltkamp.

Lantas apakah mungkin jika harga Bitcoin terus melambung sampai-sampai menembus Rp1 miliar per keping?

Jawabannya adalah mungkin!

Paul Spirgel selaku analis Reuters memperkirakan jika BTC bisa saja kembali menembus rekor US$64.900 per keping seperti yang terjadi pada bulan April 2021. Dan saat kondisi itu sudah terjadi pada Rabu (20/10) kemarin, peluang Bitcoin untuk mencetak sejarah dan nyaman di level US$70 ribu (sekitar Rp989 juta) bukanlah mimpi di siang bolong.

Sedangkan sebaliknya, untuk titik support alias batas tahanan bawah, BTC ternyata ada di posisi US$59.100 (sekitar Rp835 juta). Namun kalau titik supporti ini tertembus, nilai Bitcoin bisa saja langsung terjun bebas hingga US$52 ribu (sekitar Rp753 juta) per kepingan virtual.

Nah itu harga Bitcoin, bagaimana dengan kondisi Ethereum (ETH) dan mata uang dari Ripple (XRP)?

Dilansir CoinMarketCap, sebagai dua cryptocurrency yang digadang-gadang bisa jadi pesaing ketat BTC. faktanya harga ETH dan XRP bahkan tidak bisa mendekatinya. Di mana pada hari Kamis (21/10) sore, ETH ada di level US$4.181 (sekitar Rp59,1 juta) dan XRP di posisi US$1.14 (sekitar Rp16 ribu) per keping. Bahkan untuk Ethereum, Spirgel memprediksi bakal konsolidatif di posisi US$3.650 – 3.975.

Harga Bitcoin Melambung, Dolar AS Justru Terpuruk

© Twenty/20

Di saat harga Bitcoin terus menanjak, kondisi sebaliknya justru diperlihatkan dolar AS. Mata uang resmi Amerika Serikat itu bahkan dilaporkan anjlok drastis pada Kamis (21/10) pagi ini, karena sentimen risiko membaik. Tidak hanya itu saja, investor rupanya memilih fokus pada kenaikan harga-harga komoditas, lantaran ada upaya tumbuhnya suku bunga yang tengah digodok bank-bank sentral global.

Dilansir Suara, indeks dolar AS yang mengukur Greenback terhadap enam mata uang utama lainnya dilaporkan menyusut. Tercatat penurunan sebesar 0,24% jadi 93,57 Penurunan yang sama sebetulnya sudah terjadi pada Selasa (19/10). Di waktu dolar AS mengalami penyusutan untuk kali pertama pada pekan ini, Bitcoin justru mencapai level US$67.017 karena ETF Bitcoin berjangka mulai diperdagangkan di Amerika.

Menanggapi situasi dolar AS, ING selaku ahli strategi valas (valuta asing) menyebutkan kalau melemahnya salah satu mata uang terkuat di Bumi itu karena kombinasi berbagai hal di pasar. Mulai dari posisi beli dolar yang menutup hingga kewaspadaan inflasi, sehingga dolar AS seolah-olah kekurangan katalis yang menahan koreksi

Melihat apa yang diperoleh oleh Bitcoin, lagi-lagi semakin menguatkan anggapan kalau cryptocurrency yang satu ini memang luar biasa kokoh. Bahkan meskipun ada banyak aturan yang menjegal termasuk dari pemerintah Amerika Serikat, banyak pihak memprediksi kalau kekuatan Bitcoin tidak akan berkurang. Hal ini pula yang diungkapkan oleh Edward Snowden selaku mantan agen CIA.

Tak cuma memuji kemampuan bertahan BTC, Snowden juga mnilai kalau masa depan cryptocurrency sangatlah gemilang. Pendapat Snowden ini seolah memperkyat pernyataannya pada tahun 2020 lalu. Di mana pada bulan Maret kala itu, pasar kripto dan berbagai investasi seolah ambruk bersama-sama. Di saat banyak orang pesimis atas harga Bitcoin yang melemah hingga 50%, Snowden tidak berpengaruh.

“Meskipun ada banyak kampanye yang saling berhubungan untuk merusak pemahaman dan dukungan publik terhadap mata uang kripto, faktanya kini naik sebanyak sepuluh kali lipat,” tulis Snowden di akun Twitter resminya.

Sekadar informasi, dilaporkan pada bulan Maret 2020 kala itu, BTC memang terperosok hingga US$3.800 per keping. Namun saat ini di pekan ketiga Oktober 2021, Bitcoin justru perkasa menembus level US$65 ribu per keping! Selain Amerika Serikat yang seolah masih belum sepenuhnya mendukung cryptocurrency, salah satu raksasa ekonomi dunia yang juga melarang kehadiran BTC adalah China.

Pemerintah Negeri Tiang Bambu disebut melakukan tekanan pada peredaran BTC yang membuat aset kripto itu sempat melemah. Namun tidak bertahan lama lantaran ada sejumlah penambang Bitcoin yang memilih keluar dari Tiongkok demi mempertahankan asetnya, dan kembali melakukan penambangan alias mining di luar negeri.

Kehadiran ETF Bitcoin Berjangka dan Melunaknya Amerika

© Independent

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, perdagangan ETF Bitcoin berjangka memang membuat mata uang kripto itu mampu memecahkan rekor harga tertingginya. Menanggapi situasi gemilang Bitcoin, para pelaku pasar pun mulai melihat asa positif dari masa depan investasi aset digital.

Baca juga: Review Ethereum dan Prediksi Harga Lima Tahun ke Depan

Menurut James Quinn selaku managing partner Q9 Capital, ETF Bitcoin berjangka ini memang memiliki makna yang sangat vital dalam pergerakan harga BTC. Manajer kekayaan pribadi mata uang kripto yang tinggal di Hong Kong itu menegaskan bahwa kini setiap perusahaan pialang resmi di AS yang ingin memakai ETF, bisa melakukannya secara mudah seperti ETF lainnya. Membuat lingkup BTC makin luas.

Kok bisa begitu?

Menurut Quinn, ETF didasarkan pada Bitcoin berjangka sehingga perdagangan dan lindung nilai yang menahan ETF ini sudah pasti bakal menuju pasar spot dan harga Bitcoin. Sementara itu, aset digital ETF sudah dirilis resmi di Kanada dan Eropa pada tahun 2021, seiring dengan antusias yang cukup besar terhadap instrumen digital.

Lantas apakah kehadiran ETF Bitoin berjangka merupakan sinyal positif dari pemerintah Amerika Serikat?

Jauh sebelum harga Bitcoin jadi menggila maupun perdagangan ETF Bitcoin berjangka dimulai pada pekan ini, tanda melunaknya sikap pemerintah negara adikuasa itu terhadap Bitcoin sudah muncul. Di mana pada pertengahan September 2021 kemarin, Kementerian Keuangan AS melakukan pertemuan dengan sejumlah pelaku industri cryptocurrency mengenai risiko dan manfaat mata uang kripto.

Perkembangan mata uang kripto yang luar biasa pesat dengan nilai tukar mata uang konvensional, tentu membuat pemerintah AS penasaran sekaligus cemas. Kekhawatiran ini muncul setelah regulator di Amerika mendapat laporan kalau pasar kripto sudah menembus rekor US$2 triliun pada April 2021, seperti dilansir Reuters. Tak heran kalau pihak regulator mulai melakukan berbagai pertimbangan.

Janet Yellen selaku Menteri Keuangan AS memberikan pernyataan bahwa pemerintah tengah bekerja cepat untuk menciptakan konsep dan berbagai aturan stablecoin yang merupakan aset cadangan pendukung cryptocurrency. Bukan tanpa alasan karena memang lagi-lagi regulator mulai merasakan kecemasan atas melambungnya mata uang yang dioperasikan secara pribadi dan desenteralisasi itu.

Ditakutkan, Bitcoin dan berbagai cryptocurrency lainnya yang memang tak memiliki bank sentral ini bisa merusak sistem keuangan dan moneter, memicu terjadinya kriminalisasi keuangan hingga merugikan para investor.

Terpikat Melambungnya Harga Bitcoin? Simak Ini Dulu!

via Sadiga News

Meskipun masih menuai pro-kontra secara global hingga di Indonesia, tak ada yang bisa menolak kalau meningkatnya harga Bitcoin pada pekan ini memang benar-benar menggiurkan. Hanya saja bagi Anda yang tertarik dan ingin mulai mengalokasikan dana untuk investasi pada mata uang kripto, tentu harus ada banyak hal yang dipertimbangkan.

Baca juga: 10 Broker Crypto Terbaik Indonesia dan Luar Negeri

David Rubenstein selaku chairman dan co-founder The Carlyle Group memaparkan bahwa mata uang kripto akan tetap ada dan tidak hilang, seperti emas. Namun tetap saja bakal mengalami pasang surut, terutama karena kripto adalah instrumen baru, seperti dilansir CNBC Internasional.

Menyambung pendapat Rubenstein, Brian Brooks selaku CEO Binance US, menganjurkan para investor atau trader cryptocurrency pemula memperbanyak informasi dan pengetahuan supaya mengurangi volatilitas mata uang kripto. Dengan begitu ketika harga Bitcoin kembali memantul atau anjlok parah, Anda sudah memiliki langkah antisipasi secara tepat. Jadi, tetaplah semangat!

Tinggalkan komentar