Perhatikan Ini yah Sebelum Belanja Dengan Paylater

Saat ini metode pembayaran digital makin menarik dan mempermudah kita sebagai buyer. Kalau dulu kita mengenal kartu kredit sebagai satu-satunya metode pembayaran cicilan digital, sekarang kita sudah bisa belanja dengan paylater yang jauh lebih simple.

Fasilitas paylater sudah bisa dinikmati di berbagai aplikasi-aplikasi besar seperti ShopeePaylater, GoPaylater, Traveloka Paylater, OVO Paylater dll.

Untuk menggunakannya, kita hanya perlu menyediakan smartphone yang terhubung dengan internet dan tentunya menginstal aplikasi. Setelah itu verifikasi identitas seperti KTP/ SIM, mengisi beberapa data, lalu limit Paylater sudah bisa digunakan.

Sangat mudah ya?

Tapi beberapa hal yang sangat penting dalam menggunakan paylater seringkali tidak tersadari oleh para pengguna. Pada akhirnya, momen belanja menjadi tidak terkontrol, tagihan makin membludak, dan menghabiskan sebagian besar income kita perbulannya.

Hal ini tentu akan mempengaruhi kehidupan finansial dan bahkan merembet ke masalah lainnya. Untuk itu bagi Anda yang berminat menggunakan paylater, ada baiknya memperhatikan hal-hal ini sebelum belanja dengan paylater!

Baca juga, OVO PayLater Cicilan Tanpa Kartu Kredit Online

1. Sadari Betul Bahwa Paylater Adalah Pinjaman

Sadari Betul Bahwa Paylater Adalah Pinjaman
Sumber gambar : unsplash.com/ Sharon McCutcheon

Hal pertama yang wajib Anda perhatikan sebelum menggunakan paylater yakni paylater adalah pinjaman. Karena terkadang, saking mudahnya mengakses limit uang di berikan membuat kita lupa bahwa esensinya paylater hanyalah pinjaman. Bukan uang di berikan secara cuma-cuma untuk kita berbelanja sepuas hati,

Jadi semudah dalam mengakses layanan ini, sadari bahwa limit paylater yang Anda gunakan haruslah di bayar dikemudian hari.

Selain itu, jika sampai menunggak pembayaran maka Anda bukan hanya akan dikenakan denda/ biaya tambahan tapi catatan keuangan Anda juga jadi buruk saat BI Checking. Belum lagi merembet ke kehidupan finansial Anda dan keluarga.

Jika di awal Anda menyadari kedudukan paylater, setidaknya hal ini akan memberikan warning bagi Anda untuk mempertimbangkan kembali transaksi yang akan Anda buat menggunakan paylater. Dengan begitu, penggunaan paylater jadi lebih terkontrol.

2. Pahami Bunga Paylater yang Tinggi dan Biaya-biaya Tambahan

Sebelum menggunakan layanan paylater, ada baiknya Anda mengetahui bahwa bunga metode pembayaran yang satu ini cukup tinggi.

Misalnya ShopeePaylater menerapkan bunga minimal 2,95% per bulan, belum di tambah dengan biaya penangan sebesar 1%. Bunga ini akan lebih tinggi jika Anda menerapkan metode pembayaracan dengan cicilan.

Contoh lainnya GoPay , menerapkan sistem denda Rp 2000 perhari jika Anda terlambar membayar limit yang sudah di pakai. “Ah, cuma dua rebu perak!”

Mungkin Anda berpikir seperti itu, namun jika di kalkulasikan dalam persenan bunga, jumlah ini sangat tinggi loh!

Bayangkan jika Anda lupa menggunakan GoPaylater sebesar Rp 50.000 lalu lupa mengembalikannya selama seminggu. Maka Anda harus membayar denda Rp 14 ribu di tambah bunga regularnya dan jumlah limit yang terpakai (Rp 50.000). Jika di totalkan, total pengembalian dana Anda akan lebih dari 50% lebih besar dari yang di pinjam.

Setiap paylater biasanya memiliki ketentuan besaran bunga dan denda yang berbeda-beda. Namun satu hal yang sama, bunga dan denda yang di terapkan biasanya sangat tinggi. Jadi, bijaklah dalam menggunakan paylater jika Anda tidak ingin boncos setiap bulannya.

3. Hati-hati Dengan Perilaku Konsumtif

Salah satu resiko penggunaan paylater yang banyak terjadi adalah munculnya perilaku konsumtif. Karena saking mudahnya untuk di akses, barang-barang yang tidak perlu pun di beli padahal tadinya hanya sekedar window shopping lewat di aplikasi.

Karena iming-iming ‘belanja sekarang, bayar nanti’, barang yang dulunya tidak diperlukan malah terlihat menggiurkan. Keinginan berbelanja menjadi meningkat dan lebih impulsif karena merasa tidak perlu membayar saat ini. Seolah-olah uang Anda tidak berkurang, padahal tidak demikian.

Banyak penilitian dari berbagai negarapun menunjukan bahwa pembelanjaan menggunakan metode pembayaran non-tunai atau tidak mengeluarkan uang tunai membuat dorongan konsumsi lebih meningkat. Termasuk penggunaan paylater.

Hal ini diakui oleh salah satu organisasi terkemuka Grant Thornton, adanya Pyalater beresiko meningkatan perilaku konsumtif yang berlebihan tanpa disadari dan impulsif dalam keputusan pembelian. Apalagi jika ada promo, biasanya kita bisa kalap dan menggunakan paylater tanpa pikir panjang.

Jika sudah seperti ini, Anda wajib berhati-hati dengan jebakan paylater ya. Sebaiknya, gunakan paylater sesuai kebutuhan saja.

4. Jangan Atur Paylater Sebagai Default Metode Pembayaran

Jangan Atur Paylater Sebagai Default Metode Pembayaran
Sumber gambar : unsplash.com/ Jonas Leupe

Untuk mengerem penggunaan paylater, coba check default metode pembayaran Anda di semua aplikasi yang biasa Anda gunakan. Kenapa?

Jika pengaturannya ter-setting paylater sebagai default, maka setiap Anda hendak berbelanja atau bertransaksi, pembayaran secara otomatis akan menggunakan paylater.

Contohnya saja setting default GoPaylater. Jadi setiap Anda mengorder layanan Gojek, pembayarannya akan langsung di bebankan kepada limit Gopaylater Anda. Padahal awalnya beriniat ingin menggunakan Gopay (e-wallet).

Karena tidak sadar, Anda akan kaget dengan tagihan paylater di bulan selanjutnya. Apalagi jika sudah lewat dari jatuh tempo pembayaran. Tagihan tentunya bisa membengkak. Jadi sebisa mungkin hindari untuk mengatur metode paylater sebagai default metode pembayaran.

Baca juga, Review Traveloka Card, Apa Bedanya dengan Traveloka PayLater?

5. Hitung Kemampuan Dalam Membayar Tagihan

Tips selanjutnya adalah hitung kemampuan Anda dalam membayar tagihan belanja dengan paylater. Menggunakan paylater itu sah-sah saja asal Anda tahu bahwa Anda siap pula untuk membayarnya.

Ingat bahwa paylater adalah pinjaman yang harus di lunasi beserta bunga dan biaya lain sesuai ketetapan. Walaupun uang Anda tidak keluar saat berbelanja, tapi limit paylater yang Anda gunakan harus dikembalikan suatu saat nanti.

Pinjamlah limit paylater sesuai dengan kemampuan Anda dalam mengembalikannya. Jangan sampai Anda melakukan tindakan ‘gali lobang tutup lobang’, alias meminjam uang untuk menutup hutang yang lain.

Pastikan bahwa pembayaran utang tidak lebih dari 30% income Anda perbulannya. Caranya adalah menghitung total hutang yang harus kita bayar setiap bulannya. Jadi 30% itu adalah kesuluruhan total hutang, termasuk paylater.

6. Perhatikan Kontrak Pinjaman Paylater

Dalam layanan paylater, biasanya ada kontrak pinjaman yang di tawarkan. Baca dengan teliti dan jika Anda setuju, patuhi kontraknya. Sebab, kontrak merupakan landasan hukum yang nantinya mengikat Anda sebagai peminjam.

Jadi semua hak dan kewajiban pihak-pihak yang terlibat dalam paylater diatur dalam kontrak tersebut.

Mulai dari hal yang paling simple misalnya jangka waktu pinjaman. Paylater biasanya menawarkan tenor pinjaman selama sebulan (jadi di bayar di bulan berikutnya) atau menggunakan cicilan selama 3 bulan, 6 bulan hingga 12 bulan. Perhatikan tenor cicilannya, hitung kembali sesuai dengan kemampuan Anda dalam membayar cicilan.

Selain itu kontrak juga memuat hal-hal yang cukup rumit misalnya jaminan surat-surat berharga dan lainnya.

7. Pastikan Menggunakan Layanan Paylater yang Aman dan Legal

Hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah soal keamanan dan legalitas paylater yang Anda gunakan. Sebaiknya, Anda menggunakan layanan paylater yang sudah terdaftar dan di awasi OJK. Kenapa hal ini menjadi sangat penting?

Sebab, sebagai konsumen, Anda juga memiliki resiko terkena dampak negatif dari pinjaman online ilegal. Salah satunya adalah kebocoran data konsumen.

Ketika Anda mengajukan pinjaman atau berbelanja dengan limit paylater sebelumnya Anda pasti harus mengisi dan memverifikasi identitas. Data-data ini sangat mungkin di gunakan untuk kepentingan pihak tertentu dan akhirnya merugikan diri Anda sendiri.

Sudah banyak kasus pencurian data yang mengakibatkan kerugian pada konsumen. Nah, jika fintech P2P yang Anda pilih sudah di lolos dan awasi OJK, artinya mereka sudah melakukan langkah-langkah untuk memastikan keamanan website dan database sehingga data konsumen terlindungi. Selain itu, mereka juga pastinya sudah lolos audit dan sertifikasi ISO teknologi informasi.

Untuk mengeceknya Anda bisa masuk di website AFPI (Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia). Ingat, jangan tergiur dengan tawaran pinjaman paylater yang menawarkan kemudahan dengan limit fantastis namun belum terdaftar di OJK.

8. Pastikan Ada Kontak Customer Service yang Siap di Hubungi

Poin terakhir, sebelum Anda menggunakan layanan paylater adalah mengetahui kontak customer service yang benar-benar bisa di hubungi. Mulai dari telepon kantor, email atau bahkan nomor whatsapp.

Hal ini supaya jika ada masalah suatu saat nanti, Anda bisa dengan mudah menghubungi pihak perusahaan dan mendapatkan respon secepatnya.

Kontak customer service yang jelas dan responsif juga menandakan bahwa perusahaan memang sudah benar-benar berjalan secara profesional dan sudah legal.

9. Lindungi Data-data di Aplikasi

Lindungi Data-Data Di Aplikasi
Sumber gambar : unplash.com/ dan nelson

Sebenarnya melindungi data-data pribadi bukan hanya berlaku untuk aplikasi yang terhubung dengan layanan paylater, melainkan aplikasi keuangan lain yang Anda gunakan. Misalnya saja aplikasi m-banking, atau e-wallet.

Banyak kejadian kebocoran data yang mengakjibatkan konsumen mendapatkan tagihan walaupun tidak melakukan pinjaman apapun. Jika tidak percaya, coba Anda lakukan riset kecil-kecilan tentang pengaduan konsumen karena masalah semacam ini.

Selain dari sistem aplikasi sendiri, sebagai konsumen kita juga harus sadar untuk melindungi data-data yang berpotensi untuk di salah gunakan.

Untuk masalah sistem mungkin di luar kendali kita, namun ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk melindungi diri dari kejahatan cyber terkait keuangan, diantaranya :

  • Jangan memberikan akses paylater Anda kepada siapapun. Jika Anda mengaktifkan fasilitas paylater, jangan pernah memberikan akses dan kode pin Anda kepada orang lain.
  • Memantau transaksi secara berkala. Hal ini sangat di sarankan, misalnya 1 atau 2 minggu sekali. Dengan begitu, jika terdapat transaksi yang mencurigakan, Anda bis acepat menydari dan melakukan pengaduan kepada pihak yang berwajib.
  • Menon-aktifkan layanan paylater jika memang jarang digunakan. Sebaiknya non-aktifkan saja akun paylater Anda jika jarang digunakan untuk mengurangi resiko penyalahgunaan.

Baca juga, Perbedaan Konsep Pinjaman Syariah dan Konvensional

Penutup

Supaya keuangan kita tetap sehat, kita wajib menyadari kemana saja uang kita mengalir termasuk bijak dalam menggunakan paylater sebagai metode pembayaran digital. Walaupun memberikan banyak manfaat, namun jika digunakan tanpa perhitungan, paylater juga bisa menjadi red flag bagi keuangan kita.

Nah, beberapa hal di atas bisa Anda pertimbangkan sebelum memutuskan untuk berbelanja menggunakan metode pembayaran digital yang satu ini. Bagaimana menurut Anda? Mana saja yang sudah Anda terapkan selama ini? Semoga artikel ini menambah wawasan Anda sehingga Anda siap menggunakan paylater lebih bijak lagi.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar