Tetap Cuan Saat Resesi, Produk Investasi yang Bisa Dipilih

Cuan Saat Resesi. Bulan November sudah memasuki pekan ketiga, artinya kita akan segera menyapa bulan terakhir di tahun 2022 ini.

Sejumlah harapan pun diutarakan banyak orang untuk kondisi finansial yang lebih baik pada 2023 mendatang. Namun tampaknya berharap cuan saat resesi 2023 terbilang tidak logis, apakah memang begitu?

Sebelum menjawabnya, kita mungkin perlu membahas sekilas mengenai resesi di tahun mendatang yang dalam beberapa waktu terakhir ramai diperbincangkan.

Ya, setelah dunia digempur pandemi sejak tahun 2020 silam, perekonomian global memang tengah berusaha akan bangkit Kembali.

Prediksi 2022 menjadi tahun kebangkitan memang benar karena vaksin yang sudah diproduksi dan dipergunakan secara besar-besaran, membuat wabah corona mulai terkendali.

Hanya saja kini masyarakat dunia diharapkan pada krisis ekonomi yang dipicu oleh masalah pangan hingga gejolak geopolitik di Eropa Timur yang diawali serangan Rusia ke Ukraina.

Konflik itu semakin melebar yang menyebabkan krisis energi di wilayah Eropa dan membuat inflasi meningkat.

Lantas apakah ini memang menjadi kenyataan bahwa krisis ekonomi di tahun 2023 benar-benar terjadi? Tepat.

Hanya saja Anda tak perlu cemas karena masih ada sejumlah peluang investasi yang patut dipertimbangkan. Apa saja? Simak terus artikel berikut ini hingga usai.

Resesi 2023 Diambang Mata, Bagaimana Indonesia?

Ilustrasi Kondisi Ekonomi
foto: Markus Spiske/UNSPLASH

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, konflik berkepanjangan Rusia dan Ukraina memang membuat perekonomian Eropa begitu limbung.

Bahkan Rusia akhirnya harus rela tergelincir ke jurang resesi akibat keputusan agresi yang mereka lakukan. Apa yang dialami Rusia ini mungkin hanya salah satu imbas perang yang sebelumnya sudah membuat energi dan pangan menjadi langka di wilayah Eropa.

Dilansir CNN Indonesia, Rusia akhirnya resmi mengalami resesi di penghujung 2022 ini setelah selama sembilan bulan menyerang Ukraina.

Hal ini terjadi setelah PDB (Produk Domestik Bruto) Rusia anjlok 4% pada kuartal III-2022, tidak berbeda jauh dengan prediksi Bank Sentral Rusia yang memperkirakan PDB mereka turun 3,5% di tahun 2022.

Selain Rusia, negara lain yang baru saja dipastikan resesi adalah Hong Kong setelah PDB mereka berkontraksi selama tiga kuartal berturut-turut.

Berkurangnya permintaan global, angka inflasi yang terus meningkat, dan melemahnya sentimen konsumen membuat pemulihan Hong Kong jalan di tempat. Apalagi pembatasan sosial karena pandemi sudah membebani perekonomian Hong Kong sejak awal 2020.

Menyusul Rusia dan Hong Kong, ada Sri Lanka yang sebelumnya sudah pasti resesi karena PDB mereka pada kuartal II-2022 tergerus lebih dari 8,4%.

Melambungnya harga produk dan krisis energi membuat Sri Lanka akhirnya diputuskan bangkrut dan memutuskan meminjam dari IMF (Dana Moneter Internasional) sebesar US$2,9 miliar (sekitar Rp42,63 triliun).

Tak berbeda jauh dengan Rusia, Ukraina pun juga tergelincir ke jurang resesi apalagi PDB mereka tercatat minus 37,2% pada kuartal II-2022.

Situasi ekonomi yang tidak membahagiakan ini memang sudah diwaspadai oleh IMF karena krisis energi sampai pangan adalah pemicu utama banyak negara menjadi resesi yang menyebabkan kontraksi hebat di perekonomian global. Tentu bukan kondisi yang menggembirakan apalagi bagi negara berkembang dan negara miskin.

James P Walsh selaku Senior Resident Representative IMF Indonesia seperti dilansir Tempo, menyebutkan setidaknya ada tiga hal yang memberikan dampak besar ke perekonomian global akibat konflik Eropa Timur.

Terutama bagi Indonesia yang merupakan negara berkembang, berikut tiga hal yang dapat diwaspadai:

  • Terhambatnya pemuihan ekonomi di seluruh dunia karena wabah corona
  • Melambungnya harga pangan dan bahan bakar yang memicu semakin ketatnya likuiditas di wilayah Eropa dan melambatnya pertumbuhan ekonomi negara maju
  • Tidak terkendalinya laju inflasi

Lantaran tahun 2023 akan menjadi tahun yang sangat menantang dalam hal perekonomian, Indonesia tentu harus terus mengawasi volatilitas pasar keuangan yang tidak pasti di penghujung 2022 ini.

Meskipun begitu Walsh cukup percaya diri kalau Indonesia akan menjalani kondisi yang jauh lebih baik daripada negara-negara berkembang hingga negara maju sekalipun.

7 Produk Investasi yang Bakal Cuan Saat Resesi, Layak Dicoba?

Ilustrasi Produk Investasi
foto: rupixen.com/UNSPLASH

Setelah melihat ulasan mengenai bagaimana Indonesia disebut mampu untuk bertahan, maka ini saat yang tepat bagi Anda untuk memilih produk investasi.

Usahakan untuk tetap cuan saat resesi, supaya Anda tetap bisa memaksimalkan keuntungan saldo tabungan. Apa saja produk investasi yang layak dipilih saat resesi tahun 2023 nanti?

1. Emas

Bisa dibilang inilah produk investasi yang sudah bisa dipastikan akan tetap cuan saat resesi.

Ya, si logam mulia yang satu ini memang adalah aset safe haven yang akan jadi pilihan banyak investor saat pasar modal dan suku bunga acuan bank sentral limbung. Bahkan dengan return maksimal 10-12% per tahun, emas sangatlah menguntungkan dalam jangka panjang.

Berbeda dengan produk investasi lainnya, emas sangatlah mudah dicairkan sehingga dapat membantu dalam kondisi mendesak.

Apalagi saat ini untuk investasi emas 24K tak harus membeli minimal satu gram, karena Anda dapat membelinya dalam bentuk kepingan lebih kecil atau bahkan menggunakan layanan Tabungan Emas dari Pegadaian yang mana seluruh saldo tabungan dapat dikonversikan langsung ke nilai emas secara realtime.

2. SUN (Surat Utang Negara)

Jika memang ingin bermain di pasar uang tapi tetap nyaman investasi, maka SUN adalah pilihan tepat.

Setidaknya ada tiga jenis SUN yakni ORI (Obligasi Negara Ritel), Sukri (Sukuk Ritel) dan SBR (Savings Bond Ritel) yang dapat Anda pilih.

Baca, Apa Bedanya ORI dengan Jenis SBN Ritel

Alasan utama SUN sangat nyaman dan tetap bisa memberikan cuan saat resesi adalah seluruh pembayaran kupon dan pokoknya dijamin oleh negara. Sehingga negara tak mungkin gagal bayar kecuali mengalami kebangkrutan seperti Sri Lanka.

3. Barang Antik

Terdengar aneh? Memang. Tapi Anda harus tahu kalau barang antik bisa jadi produk investasi yang mendatangkan cuan caat resesi.

Asalkan produk barang antik itu berkualitas dan terawat, Anda bisa menjualnya dalam jumlah besar dalam acara lelang.

Karena bagaimanapun dalam kondisi resesi, tetap saja banyak orang-orang dengan kondisi perekonomian baik, bersedia menambah koleksi benda antik mereka.

4. Deposito

Malas harus meletakkan uang yang begitu berisiko di pasar modal? Maka deposito adalah pilihan terbaik. Lewat deposito, uang Anda akan ‘beristirahat’ dengan nyaman di rekening milik bank.

Tak perlu cemas kendati dunia bakal resesi, karena setiap produk deposito di perbankan resmi sudah pasti sangat-sangat minim risiko lantatan sudah dijamin LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).

Baca, 9 Daftar Deposito Terbaik dan Bunga Tertinggi

Dengan nilai maksimal jaminan Rp2 miliar, uang deposito Anda sepenuhnya bakal aman. Produk deposito juga tidak mengikuti gejolak pasar sehingga tak perlu cemas hilang.

Dengan kisaran bunga empat sampai tujuh persen, bunga ini sudah pasti lebih besar daripada produk tabungan biasa. Anda bisa memilih tenor hingga 24 bulan, sehingga cuan saat resesi bukanlah isapan jempol.

5. P2P Lending

Salah satu produk investasi masa kini yang makin banyak peminat lantaran memberikan solusi keuangan secara cepat adalah P2P Lending di fintech (financial technology = teknologi finansial).

Baca, Mau Investasi P2P Lending? Ini 7 Hal yang Harus diperhatikan

Menanamkan modal di P2P Lending akan membuat Anda memperoleh return lebih besar daripada sekadar meminjamkan uang ke rekan. Apalagi saat ini fintech penyelenggara P2P Lending wajib terdaftar resmi di OJK (Otoritas Jasa Keuangan), sehingga anti investasi bodong.

6. Properti

Sama seperti emas, properti sudah sejak lama dianggap sebagai aset investasi yang paling aman, nyaman dan menjanjikan.

Hanya saja Anda harus tahu kalau dalam kondisi resesi kelak, penyewan properti jauh lebih menguntungkan daripada Anda harus menjualnya.

Baca, Bisnis Properti dengan Modal Pas-Pasan

Namun pastikan dalam penawaran sewa properti, Anda harus menggunakan pihak agen atau developer yang benar-benar dapat dipercaya supaya tidak merugi.

7. Reksadana

Produk investasi terakhir yang diyakini bakal tetap cuan saat resesi adalah reksadana. Produk ini sudah sejak lama direkomendasikan pada generasi muda para investor pemula, karena memang sangat rendah risiko.

Apalagi reksadana punya banyak sekali jenisnya sehingga dapat disesuaikan dengan profil risiko serta tentunya tujuan investasi.

Apalagi dengan fakta investasi reksadana dapat dimulai dengan modal Rp10 ribu, membuat Anda tak perlu langsung mengumpulkan banyak modal.

Kesimpulan

Dari penjelasan panjang lebar di atas, kita akhirnya bisa menyimpulkan bahwa kondisi ekonomi memburuk pada tahun 2023 bukanlah sekadar isapan jempol. Kendati prediksi perekonomian Indonesia bisa bertahan semakin diungkapkan secara optimis, tak ada salahnya jika kita melakukan persiapan semaksimal mungkin lewat strategi investasi yang tepat.

Karena bagaimanapun juga, investasi adalah satu-satunya jalan untuk membuat finansial makin sejahtera dan membuat nyaman. Memilih satu dari sekian produk investasi yang diyakini tetap bisa cuan saat resesi adalah pilihan bijak untuk membuat uang tetap ‘bekerja’. Jadi, apakah Anda sudah menentukan mau memilih aset investasi yang mana?

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar