6 Cara Menghitung Kemampuan Mencicil

Bagaimana ya cara menghitung kemampuan mencicil?

“Penghasilan Rp 5 juta perbulan apa bisa cicil motor baru ya?”

“Penghasilan Rp 10 juta perbulan apa sudah bisa cicil rumah sendiri?”

Bingung bagaimana cara menakarnya? Salah ambil keputusan, bisa-bisa akhirnya pusing sendiri karena tiap bulan gaji hanya habis untuk bayar cicilan.

Tapi, memang tidak bisa di pungkiri meskipun akses untuk menggunakan ojek maupun taksi online sudah sangat mudah, menggunakan kendaraan sendiri terlebih untuk mobilitas sehari-hari masih terasa lebih nyaman bagi sebagian orang.

Masalahnya, cicilan motor apalagi mobil itu tidak murah. Belum lagi, kita suka lupa mempertimbangkan biaya service, asuransi dan juga pajaknya.

Bahkan banyak juga yang sampai memutuskan membeli kendaraan yang sebenarnya di luar kemampuan mencicil bulanan mereka. Akhirnya hal ini membuat kondisi keuangan berantakan dan menyulut pertengkaran jika sudah berkeluarga.

Pertanyaannya, kok bisa ya ada orang yang berani ambil cicilan di luar kemampuan finansialnya?

Penyebab Cicilan di Luar Kemampuan Finansial

Penyebab Cicilan Di Luar Kemampuan Finansial
gambar : unsplash.com/ Qijin Xu

Secara garis bersar, penyebabnya ada 2 yakni tidak melek finansial dan juga karena money personality-nya. Yuk kita lebih dalam!

Tidak Melek Finansial

Penyebab pertama orang biasanya nekat mengambil kredit di luar kemampuan mencicil karena mereka kurang memiliki literasi keuangan yang baik.

Hal ini mencakup mindset dan juga kemampuan dalam mengelola keuangan pribadi. Misalnya ada yang menganggap, ‘rezeki sudah di atur, cicilan yang di ambil pasti ada rezekinya pasti bisa kok di bayar’.

Mungkin benar, bisa di bayar namun banyak orang yang malah terjebak dalam rat race circle yang membuat sulit kaya atau meraih kebebasan finansial.

Betul bahwa rezeki sudah di sediakan oleh Tuhan untuk setiap makhluknya.

Namun sebagai manusia yang di ciptakan dengan kemampuan berpikir, selain berupaya maksimal dalam mencari rezeki kita juga perlu mengelolanya dengan baik. Agar rezeki tersebut bisa berfungsi secara maksimal, tidak menjadi bencana bagi diri sendiri dan orang lain.

Money Personality

Penyebab kedua mengapa banyak orang yang mencicil tidak sesuai kemampuan finansialnya yakni karena money personality-nya.

Money personality atau money script adalah adalah keyakinan alam bawa sadar yang kita bawa sejak kita kecil khususnya berkaitan dengan uang.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa kendaraan pribadi di lingkungan sosial seringkali dijadikan sebagai simbol status sosial seseorang. Kalau motor atau mobilnya mengikuti trend keluaran terbaru, maka di anggap sudah sukses.

Hal-hal seperti ini memang terjadi di sekitar kita. Dan tahukah Anda kalau sikap kita terhadap uang dipengaruhi oleh money personality kita masing-masing?

Bicara tentang money personality, sejauh ini ada 4 kategori money personality yaitu :

  • Money avoidance : Memandang uang sebagai sesuatu yang buruk/ negatif ataupun merasa tidak pantas mendapatkannya. Dalam Journal of Financial Theraphy 2011 menyebutkan bahwa mereka yang menganut money avoidance, memiliki income dan network yang rendah. Hal ini terjadi karena memang mereka mengasosiasikan uang dengan sesuatu yang buruk.
  • Money worshipper : Memandang uang sebagai sesuatu yang positif. Mereka melihat uang sebagai sebuah power, bisa memberikan kebebasan dan sumber kebahagiaan. Biasanya mereka memiliki prinsip work hard, play hard dan terkadang malah over spend. Suka pakai kartu kredit dan hobi membayar cicilan minimal? Jangan-jangan kita termasuk orang yang menganut money worshipper.
  • Money status : Memandang uang adalah status atau dengan kata lain, money defines you. Kepercayaan ini biasanya justru membuat kita sulit bahagia. Karena membuat penganutnya cenderung membandingkan dirinya dan merasa staatusnya harus terus di atas orang lain. Oleh karena itu, inilah alasan mengapa mereka terlihat jadi lebih kompetitif untuk menghasilkan uang dari sekitarnya secara terus menerus. Tidak jarang, karena kepercayaan ini membuat mereka mencari jalan pintas sehingga terjebak dalam investasi bodong, ataupun judi.
  • Money vigilance : Memandang uang sebagai sumber rasa malu dan merasa lebih baik agar income yang di dapatkan tidak di umbar-umbar. Mereka sagat takut berhutang dan seringkali ketakutan untuk menggunakan uang yang sudah dikumpulkan. Contohnya, uang tabungan untuk liburan sudah terkumpul tapi jadi ragu dan membatakan liburan karena sayang mengeluarkan uangnya. Menjadi vigilance itu bagus untuk kesehatan finansial tapi kalau sudah berlebihan justru malah jadi sumber kecemasan dan tidak bisa menikmati hidup.

Nah bagaimana dengan money personality Anda?

Cara Menghitung Kemampuan Mencicil

Cara Menghitung Kemampuan Mencicil
gambar : usnpalsh.com/ fin

Bagaimana kalau kita punya kecendeungan untuk memiliki cicilan di luar kapasitas finansial kita?

Orang yang memiliki kecenderungan tersebut umumnya memiliki money personality dengan kategori money worshipper atau money status. Dan biasanya kita tidak menyadari bahwa sebenarnya kita sudah over spend.

Alasannya ya supaya terlihat lebih ‘kece’.

Lalu bagaimana solusinya agar kita bisa menghitung kemampuan mencicil?

1. Mengidentifikasi Money Personality

Langkah pertama yang perlu di lakukan agar kita bisa mengidari jeratan hutang akibat cicilan yang tidak sesuai dengan kemampuan finansial adalah dengan mengidentifikasi money personality.

Apakah selama ni kita cenderung menganut money avoidance, money worshipper, money status ataukah money villigance?

Bagaimana cara mengeceknya?

Anda bisa mengamati pola kebiasaan spending selama ini dan juga alasannya. Melakukan perenungan diri, menanyakan pendapat orang terdekat atau mencoba tes money personality secara online sebagai salah satu cara mendapatkan second opinion.

2. Mengatur Cara Budgeting yang Sesuai dengan Money Personality

Setelah tahu money personality kita masing-masing, apakah harus merubah money personality demi bisa mengukur kemampuan mencicil?

Tidak perlu kok.

Dengan menyadari belief alam bawah sadar kita tentang uang, kita jadi lebih bisa memetakan dan memperbaiki bagian-bagian mana yang kurang tepat dan kurang tentang uang. Sehingga nantinya kita tidak over spend maupun over anxiety tentang uang apalagi sampai terjerat utang karena investasi bodong.

Baca juga,

3. Mulai Hitung Cicilan yang Realistis

Mari kita mulai menghitung cicilan yang masih mampu kita bayar. Pertama-tama, Anda perlu tahu kalau jumlah cicilan yang kita bayarkan tiap bulan tidak boleh lebih dari 20% total income. Sementara tenor yang ideal maksimal selama 2 tahun.

Anda bisa melihat ilustrasi di bawah ini sebagai contoh perhitungan cicilan yang ideal :

  • Income bulanan : Rp 10.000.000/ bulan
  • Cicilan maksimal : Rp 2.000.000/ bulan
  • Asumsi bunga : 6% tahun (flat)
  • Harga beli kendaraan : Rp 32.000.000, dengan DP 30% dan tenor maksimal 2 tahun

Dengan melakukan perhitungan seperti di atas kita bisa merencanakan cicilan kendaraan atau hal lainnya dengan lebih baik. Sehingga tentunya kesehatan keuangan pun tidak terganggu. Misalnya selama satu tahun ini kita bisa mengumpulkan DP 30% tersebut sehingga tahun depannya bisa mengajukancicilan.

4. Gunakan Metode 50,30,20 Untuk Atur Keuangan

Untuk mengatur keuangan bisa menggunakan metode 50, 30, 20. Yakni :

  • Income bulanan : Rp 10.000.000
  • Living & cicilan (50%): Rp 5.000.000
  • Saving (30%) : Rp 3.000.000
  • Playing (20%) : Rp 2.000.000

Jadi, jika income bulanan Anda di bawah atau sudah di atas Rp 10 juta, Anda idealnya menyesuaikan dengan menggunakan alokasi seperti yang sudah kita bahas ya. Tujuannya tentu untuk menghindari ‘drama’ menunggak cicilan apalagi sampai motor atau mobil di tarik lagi oleh pihak leasing di tengah jalan.

Tidak sedikit yang cicilannya sudah mencapai 50% dari income bulanannya yang pada akhirnya malah jadi pusing sendiri.

5. Atur Budget dengan Baik

Meski sudah menggunakan metode 50, 30, 20 melakukan budgeting memang agak menantang. Apalagi jika ada cicilan dan kita sudah berkeluarga.

Karena ada banyak sekali kebutuhan hidup sehari-hari idealnya harus sesuai dengan budget yang sudah direncanakan. Termasuk cicilann kita.

Banyak orang yang harus berusaha kerasa agar budgeting bisa efektif dan dilakukan konsisten. Jadi solusinya, jika metode alokasi 50,30,30 kurang sesuai dengan kondisi saat ini, kita tetap bisa menyesuaikannya kembali.

Misalnya sebagai saran, Anda bisa membagi pos keuangan dengan lebih rinci seperti ini!

  • Biaya hidup bulanan 40% (Living)
  • Zakat, infaq & sosial 5% (Living)
  • Dana darurat 5% (Saving)
  • Asuransi 5% (Living)
  • Cicilan 20% (Living)
  • Menabung untuk pembelian besar 5% (gadget, furniture dll) (Saving)
  • Investasi untuk masa depan 10% (Saving)
  • Gaya hidup 10% (playing)

Jadi bisa disimpulkan pos living (include cicilan) 70%, pos saving 20% dan pos playing menjadi 10%.

Mana yang lebih sesuai dengan kondisi Anda?

Jika 70, 20, 10 lebih cocok, sekarang, coba aplikasikan sesuai dengan income Anda masing-masing. Berapa alokasi untuk semua kebutuhan diatas?

6. Jika Cicilannya Rumah, Rencanakan Dulu dengan Matang

Bagaimana jika cicilan yang hendak diambil itu bukan kendaraan melainkan rumah?

Jika kita hendak mengambil cicilan rumah, sebaiknya pikirkan dulu dengan matang segala sesuatunya. Sebab cicilan rumah biasanya memiliki tenor yang lebih panjang di banding kendaran, bahkan ada yang sampai 20 tahunan.

Beberapa hal yang wajib di pertimbangkan diantaranya :

  • Lokasi, jarak dan fasilitas. Apakah bisa menunjang aktivitas keluarga?
  • Akses transportasi. Apakah bisa mempermudah aktivitas perjalanan sehari-hari?
  • Harga rumah dan biaya lain-lainnya. Apakah sudah sesuai dengan kemampuan?
  • Biaya maintanance rutin. Apakah masih sesuai dengan kemampuan finansial?
  • Potensi minat pasar dan perkembangan lokasi, jika pembelian rumah digunakan untuk berinvestasi (di sewakan atau di jual kembali)

Selain itu, cicilan rumah sebaiknya tidak lebih dari 30% dari income bulanan. Sebagai simulasi, Anda bisa memperhatikan contoh berikut ini!

  • Income : Rp 20.000.000
  • Ciciclan ideal rumah : Rp 6.000.000
  • Asumsi bunga sekitar : 7% tahun
  • Harga rumah : Rp 640.000.000 dengan DP 20% dan tenor selama 10 tahun

Selain menyiapkan DP, jangan upa siapkan dana tambahan untuk pajak, biaya admin KPR dan lainnya sebesar 10%.

Baca juga,

Penutup

Sebenarnya, apapun jenis cicilan kita apakah itu kendaran atau rumah atau keduanya sekaligus yang penting cicilannya tidak melebihi 30% income bulanan. Sehingga ada baiknya kita tetap melakukan perhitungan dulu sebelum memutuskan.

Lebih spesifiknya, jika kita ingin mencicil keduanya sekaligus bisa di alokasika 20% untuk rumah dan 10% cicilan kendaraan. Nah itu saja tips kali ini, semoga bermanfaat ya!

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar