Rahasia Atur Keuangan Gen Z, Biar Lebih Makmur di 2022

Diperbarui pada Januari 4th, 2022 at 06:16 am

Tahun 2022 sudah di depan mata.

Hanya menanti dua pekan lagi, 2021 tentu sudah berganti. Mencapai dekade kedua di milenium baru, tentu perekonomian dan roda generasi penerus bangsa telah berubah. Jika dalam lima tahun terakhir kalangan milenial (kelahiran 1981-1996) sering dibicarakan, maka dunia kerja saat ini sudah ramai dengan kehadiran gen Z (kelahiran 1997-2012). Sebagai kalangan muda, keuangan gen Z bisa dibilang masih belum cukup mapan dibandingkan milenial.

Rentang usia mereka yang tertua bahkan masihlah 24 tahun, membuat anak-anak gen Z saat ini kebanyakan tengah duduk di bangku kuliah. Meskipun memang ada gen Z senior yang sudah berpenghasilan sendiri, bahkan berumah tangga. Belum lagi gen Z yang memilih tidak melanjutkan kuliah selepas sekolah menengah, membuat banyak di antara mereka yang harus jadi tulang punggung keluarga sebelum waktunya.

Dalam kondisi seperti ini, gen Z yang memang begitu muda membutuhkan banyak sekali nasihat finansial. Yap, situasi keuangan gen Z bahkan masih dipenuhi dengan kebiasaan yang luar biasa konsumtif, sejalan dengan usia mereka. Termasuk gen Z yang ingin memiliki finansial jauh lebih baik? Sederet ulasan berikut ini jelas layak untuk Anda pertimbangkan pelajari demi masa depan jauh lebih sejahtera.

Baca juga: Ingin Punya Anak di 2022? Ini Tips Atur Keuangan Calon Orangtua

Ternyata Inilah Masalah Keuangan Gen Z

Sebelum belajar seperti apa sih cara mengatur keuangan gen Z, ada baiknya bagi Anda untuk mengetahui apa saja sih masalah-masalah keuangan yang kerap dialami kalangan muda ini. Dengan begitu Anda yang mungkin saat ini tengah menjadi salah satu gen Z maupun milenial yang memiliki adik-adik gen Z, bisa jauh lebih bijaksana dalam memberikan pemasukan terutama dalam hal finansial yang sangat berguna bagi masa depan mereka.

1. Tak Punya Tujuan Jangka Panjang

Kembali lagi pada fakta bahwa gen Z ini termasuk generasi serba instan, secara tidak sadar membuat mereka tak sabar dan kurang begitu bijaksana dalam perencanaan terutama yang jangka panjang. Hal ini rupanya berimbas pada finansial mereka di mana sulit punya tujuan keuangan jangka panjang, seperti misalnya memiliki rumah pribadi. Karena harga rumah yang makin mahal, membuat gen Z tidak terlalu suka kalau harus menabung dalam waktu lama.

Anggap saja Anda adalah gen Z dengan penghasilan Rp7 juta per bulan, lalu mendambakan rumah di pusat kota Malang yang memiliki harga Rp500 juta. Anda tentu harus menyisihkan penghasilan selama berbulan-bulan, sebelum akhirnya baru bisa mempersiapkan DP, dan berbagai berkas pengajuan KPR (Kredit Pemilikan Rumah) yang dirasa sangat merepotkan. Hal ini tanpa sadar membuat gen Z malas untuk memulai karena prosesnya begitu ribet sehingga mereka memang sulit punya tujuan panjang.

2. Terlalu Konsumtif

Berapapun besarnya gaji yang diterima setiap bulan, Generasi Z selalu merasa kekurangan. Hal ini tidak terlepas karena gengsi. Ditambah gaya hidup yang tinggi sehingga ingin tampil lebih, meskipun melampaui batas finansialnya. Pantas saja bila Generasi Z kerap mengeluh tidak punya uang.

Itu karena mereka konsumtif atau boros. Bukan lantaran gaji atau penghasilan mereka pas-pasan. Jadinya lebih besar pasak daripada tiang. Atau lebih tinggi pengeluaran dibanding pendapatannya, sehingga selalu merasa kekurangan. Sebaiknya untuk mengatasi persoalan ini, kamu perlu mengerem gaya hidup konsumtifmu. Mulailah berhemat. Memangkas pengeluaran tidak penting, dan dialihkan untuk tabungan, dana darurat, atau investasi.

3. Merasa Kurang Uang

Tidak sedikit anak muda susah membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Padahal keinginan sudah jelas-jelas, adalah sesuatu yang tidak terlalu mendesak sifatnya. Jadi sebaiknya dikesampingkan, dan prioritaskan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan utama. Sayangnya Generasi Z terlalu banyak mau. Banyak yang diinginkan, tanpa melihat kondisi finansialnya.

Baca juga: 10 Kiat Menghemat Pengeluaran Bulanan dalam Keluarga

Semua ingin diwujudkan. Walhasil bujet untuk kebutuhan dipakai untuk memenuhi keinginan. Hal ini yang bisa membuat keuangan mereka kacau balau. Untuk itu, mulai kenali mana kebutuhan, mana keinginan. Kalau punya keinginan, fokus saja pada satu keinginan terlebih dahulu. Baru keinginan berikutnya asalkan benar-benar dibutuhkan.

4. Susah Stabil Finansial

Generasi Z sulit mencapai kestabilan finansial. Belum atau tidak tahu ke mana gaji atau penghasilan dialokasikan. Bahkan mereka juga tidak tahu berapa banyak uang yang dihasilkan maupun yang dihabiskan setiap bulan karena tidak menghitungnya atau tidak punya perencanaan keuangan yang matang.

Mulai dari sekarang, coba lebih peduli terhadap kondisi finansial. Buatlah daftar pemasukan dan pengeluaran setiap bulan. Selain itu, sisihkan gaji untuk pos tabungan, dana darurat, investasi, dan asuransi. Ini yang sangat kamu perlukan agar keuanganmu stabil dan terjamin di masa depan.

5. Mudah Rendah Diri

Siapapun ingin punya keuangan yang mapan. Bila kondisi finansial orang lain, termasuk teman-temanmu lebih baik, tidak perlu baper. Cari tahu mengapa mereka memiliki keuangan yang oke. Apakah karena mereka mampu hidup hemat, punya penghasilan tambahan, atau justru kamu yang salah dalam mengatur keuangan selama ini.

Fokus saja menata keuanganmu. Tidak usah sibuk mengurusi keuangan orang lain. Yang baik dicontoh, yang buruk dibuang jauh-jauh.

6 Tips Atur Keuangan Gen Z yang Wajib Dicoba

Kunci sukses secara finansial berasal dari cara kita mengatur keuangan dengan baik. Mulai dari perencanaan hingga eksekusinya harus tepat agar mendapatkan hasil maksimal. Keuangan aman, stabil, bahkan menjamin masa depanmu lebih cemerlang.

Banyak orang, mungkin termasuk kamu gagal mengatur keuangan pribadi. Tapi ada juga yang berhasil. Berapapun gaji yang dimiliki, asal bisa mengelolanya, maka kebutuhan hidup bisa terpenuhi dengan baik, punya tabungan atau investasi untuk hari esok, dan memiliki dana darurat jika sewaktu-waktu berada dalam situasi paceklik keuangan.

Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai. Bagi yang belum, segera susun rencana keuanganmu. Namun bagi yang sudah, benahi agar rencana keuangan lebih fokus dan terarah sehingga mencapai tujuan keuangan yang diinginkan.

1. Ajukan Kenaikan Gaji

Jika kamu sudah merasa bekerja keras, profesional dalam menjalankan tugas dan pekerjaan, selalu selesai tepat waktu, dan telah bekerja cukup lama, namun gaji yang diberikan lebih rendah dari pegawai yang bermalas-malasan, minta saja kenaikan upah ke bosmu.

Pastikan hasil kerja Anda memang layak untuk kenaikan gaji tersebut. Siapa tahu bos akan mempertimbangkannya, kemudian mengevaluasi kinerjamu, dan menyetujui kenaikan gaji supaya kamu lebih loyal terhadap perusahaan.

2. Coba Bisnis Sampingan

Bukan hanya mengandalkan pemasukan dari gaji bulanan saja. Kamu perlu menambah pendapatan dengan menjalankan pekerjaan sampingan. Baik itu bisnis kecil-kecilan, menjual skill yang dimiliki dengan menjadi freelancer, dan lainnya.

Bila ingin bekerja sampingan, pastikan yang sesuai minat dan bakatmu. Jangan ikut-ikutan tren atau arus sehingga menyesal nantinya. Manfaatkan kesempatan tersebut untuk menghasilkan banyak uang. Ada banyak sekali bisnis sampingan yang bisa dicoba oleh gen Z dan memiliki pasar cukup besar seperti misalnya thrift shop alias toko barang-barang bekas. Tentu bukan barang bekas biasa, karena yang dijual adalah produk branded incaran anak muda.

3. Belanja Lebih Cerdas

Begitu pemasukanmu bertambah, dari gaji dan pekerjaan sampingan, jangan diiringi dengan pengeluaran yang besar. Tetaplah menerapkan hidup hemat, yakni membeli atau membelanjakan uang untuk kebutuhan yang lebih penting, bukan keinginan.

Kamu pun bisa belanja saat ada promo atau diskon menarik, sehingga bakal lebih hemat. Contohnya saja, memanfaatkan penawaran promo kartu kredit untuk belanja atau makan di merchant-merchant pilihan, dan sebagainya. Pastiakn sebelum membeli sesuatu, itu adalah produk yang memang benar-benar Anda butuhkan bukan cuma sekadar Anda inginkan yang justru malah membuat keuangan bermasalah di kemudian hari.

Baca juga: Ketahui 9 Istilah Dunia Finansial untuk Mengurangi Risiko Investasi

4. Wajib Evaluasi Pengeluaran

Dalam perjalanannya, kamu perlu mengevaluasi lagi daftar pengeluaranmu. Barangkali ada yang tidak sesuai atau melenceng dari perencanaan, terjadi pembengkakan pengeluaran akibat harga-harga barang mahal, atau kasus lainnya.

Dengan mengevaluasinya, kamu akan mengetahui apakah jumlah pengeluaran sudah dalam batas yang ditetapkan sesuai alokasi anggaran atau malah lebih. Jika melebihi, kamu dapat menekan pengeluaran lain, seperti barang-barang yang belum terlalu mendesak dibeli atau masih bisa ditunda.

5. Harus Mulai Investasi

Saat ini, tabungan dan investasi merupakan pos anggaran yang wajib ada dalam setiap perencanaan maupun mengatur keuangan. Sisihkan 10-20% dari penghasilanmu setiap bulan untuk masa depan ini.

Sisihkan di awal gajian, bukan di akhir atau dari sisa gaji. Kalau perlu langsung autodebet dari rekening gajimu setiap bulan, supaya tidak lupa atau uang terpakai untuk yang lain. Ada banyak sekali pilihan instrumen investasi dengan harga  terjangkau yang bisa gen Z coba dan tentunya sesuai dengan profil risiko, serta memberikan banyak cuan. Apa saja? Reksadana, saham, sampai dengan metode menabung emas di Pegadaian.

6. Pentingnya Kontrol Diri

Memanfaatkan promo belanja sah-sah saja. Tapi yang tidak boleh adalah jadi kalap karena godaan diskon, cashback, special price, dan lainnya. Khawatirnya bukannya hemat pengeluaran, malah jadi boros akibat kebablasan dan kena jebakan promo tersebut.

Godaan lain yang harus kamu hindari adalah mengurangi kebiasaan nongkrong, jajan kopi kekinian, makan di restoran atau kafe. Maklum harga makanan dan minuman bisa mencapai puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah. Itu untuk sekali kongkow.

Boleh makan di luar, tapi itupun dibatasi. Jangan sampai sehari sekali atau seminggu tiga kali. Minimal sebulan sekali lah kumpul dengan teman menikmati makan malam di kafe.

Baca juga: Tetap Happy! Yuk Ikuti Tips Keuangan Untuk Single Mom

Kesimpulan

Sebelum ini, gen Z selalu dianggap sebagai generasi anak-anak ‘bau kencur’ yang begitu manja. Tak dipungkiri memang karena hidup dalam lingkungan yang serba teknologi dan begitu dimudahkan, gen Z pun memandang dunia kerja dengan etos yang mungkin tak sebesar milenial, atau bahkan generasi orangtua mereka yakni generasi X (kelahiran 1965-1980). Apakah ini artinya gen Z harus dikucilkan atau bahkan direndahkan? Tentu saja tidak.

Dengan mempelajari sejumlah tips keuangan gen Z di atas, Anda sebagai anak-anak muda tak perlu cemas dalam menghadapi kehidupan dewasa nanti. Ingat, jangan menunggu harus berumah tangga atau bahkan memiliki buah hati untuk bisa mengatur finansial. Karena semakin muda Anda mulai merencanakan finansial, maka makin besar pula peluang untuk sejahtera finansial di usia senja nanti.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar