Jangan Cemas! Ini Strategi Jual Beli Saham Saat Pasar Bergejolak

Gejolak geopolitik yang terjadi di kawasan Eropa Timur tepatnya Rusia dan Ukraina sepertinya memang belum tampak segera usai. Dan meskipun terjadi cukup jauh dari Indonesia, faktanya serangan militer dari Rusia itu memberikan dampak terhadap pasar modal Tanah Air. Sehingga membuat investor harus cukup cerdas menerapkan strategi jual beli saham yang tepat.

Memang, ketika masalah geopolitik terjadi sekalipun di belahan Bumi manapun, saham termasuk salah satu hal yang paling langsung berpengaruh. Menjadi cukup buruk karena dunia saham sejatinya belum tampak benar-benar pulih karena masih harus berjuang di tengah pandemi Covid-19 yang sudah terjadi sejak tahun 2020 silam.

Adalah hal lumrah ketika banyak saham rontok, investor memilih untuk menjualnya demi mengurangi kerugian. Namun di sisi lain justru banyak yang merekomendasikan jika anjloknya bursa saham justru jadi momen yang tepat untuk berbelanja, terutama saham-saham blue chip. Memang pergerakan saham yang begitu ‘galau’ ini sempat membuat banyak investor kebingungan.

Terutama bagi Anda yang mungkin adalah investor pemula, kerap kali merasa cemas dan bingung dalam menentukan kapan waktu yang tepat untuk melakukan jual beli saham. Apalagi dalam situasi geopolitik dan perekonomian global yang tampak tak bersahabat seperti ini. Termasuk yang demikian? Simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Baca juga: Awas Investasi Bodong! Ini Tips Pilih Manajer Investasi yang Tepat

Pahami Bearish dan Bullish Terlebih Dulu

Kondisi Bearish-Bullish Saham
© antara/galih pradipta

Sebelum membahas seperti apa sih strategi jual beli saham yang tepat, ada baiknya Anda tahu kondisi umum yang terjadi di pasar modal. Yap, bagi investor awam tentu setidaknya harus memahami kalau dalam pasar modal ada dua kondisi yang kerap kali terjadi yakni bearish dan bullish.

Apakah itu?

Supaya mudah dipahami, kedua istilah ini sebetulnya berasal dari nama binatang yakni bearish untuk bear atau beruang, dan bullish untuk bull atau banteng. Kenapa dinamakan dengan nama binatang, sebetulnya merujuk pada kondisi pasar modal itu sendiri.

Masih belum paham?

Begini, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) pernah membahas soal pasar bearish dan bullish ini melalui website resmi mereka, yang mana mengambil analogi ketika kedua binatang itu menyerang. Beruang misalnya, binatang yang satu ini akan menyerang memakai cakar-cakar tajam di tangan mereka dengan pola gerakan dari atas ke bawah. Sehingga maksudnya jika disamakan dengan situasi bursa, adalah saat kondisi pasar menuju ke bawah atau melemah sehingga banyak penjualan.

Kebalikan dari beruang, kalau Anda mengamati banteng, hewan kaki empat ini menyerang lawan menggunakan tanduk di kepalanya secara cepat dan mengangkatnya. Sehingga pola gerakan menyerang banteng ini menuju ke atas, sehingga kalau disamakan dengan situasi lantai bursa, maka pasar modal sedang dalam kondisi naik atau penguatan yang membuat banyak terjadinya pembelian saham.

Dari penjalasan di atas, bisa disimpulkan bahwa kondisi pasar yang bearish adalah saat sedang tren menurun, sementara bullish ketika kondisinya menguat yang dipengaruhi oleh situasi ekonomi cukup positif dan menguntungkan investor. Baik sedang bearish atau bullish, biasanya sentimen dari investor juga memegang peran yang cukup penting karena akan ikut menggerakan kondisi pasar modal itu sendiri.

Di mana saat sedang bullish, akan ada kenaikan harga saham dari emiten-emiten secara berkelanjutan. Namun sebaliknya saat sedang bearish, ditandai dengan harga saham yang terus anjlok. Untuk menyebutkan kondisi pasar saham sedang bearish, biasanya ada penurunan saham dalam jumlah besar yakni hingga lebih dari 20%. Bisanya saat sedang bear market, kondisi perekonomian sebuah negara tengah melambat, disusul infasi dan pengangguran meningkat.

Penting bagi setiap investor untuk meraba kondisi pasar modal terlebih dulu apakah tengah bearish atau bullish, untuk menerapkan strategi jual beli saham secara tepat. Karena bagaimanapun juga sebagai investor, kita jelas mendambakan cuan tinggi dan meminimalisir kerugian seoptimal mungkin.

Waktu yang Tepat Untuk Belanja Saham

Waktu Tepat Transaksi Saham
via mina news

Setelah cukup paham mengenai kondisi pasar saham yang tengah bearish dan bullish, Anda tentu sudah bisa menentukan waktu yang tepat untuk jual beli saham.

Hanya saja jika memang Anda adalah seorang investor yang tengah mempertimbangkan untuk belanja saham, ada beberapa waktu yang bisa dijadikan momen beli aset investasi tersebut. Tentunya Anda harus melengkapi syarat terlebih dulu supaya bisa membeli lot-lot saham di BEI (Bursa Efek Indonesia). Barulah kemudian mulai beli saham di waktu-waktu berikut ini:

1.    Tiap Kuartal

Dalam dunia saham, perhitungan kuartal biasanya merujuk pada momen tiga bulan sekali, sehingga dalam setahun akan ada empat kuartal berbeda. Kenapa harus tiap kuartal? Merujuk pada aturan BEI (Bursa Efek Indonesia) bahwa seluruh emiten yang terdaftar harus merilis laporan keuangan perusahaan setiap tiga bulan sekali alias tiap kuartal. Supaya makin paham, beirkut adalah waktu-waktu kuartal yang terjadi di BEI:

  • Laporan 1-30 April untuk masa kerja emiten dari Januari – Maret
  • Laporan 1-30 Juli untuk masa kerja emiten dari April – Juni
  • Laporan 1-30 Oktober untuk masa kerja emiten dari Juli – September
  • Laporan 1-30 Januari untuk masa kerja emiten dari Oktober – Desember

2.    IHSG Rebound

Berbeda dengan tiap kuartal yang disesuaikan dengan saat laporan keuangan emiten, waktu saat IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) rebound cenderung sulit dipastikan. Bagi Anda pelaku pasar modal di BEI, tentu paham bahwa IHSG tidak terus-menerus naik bahkan pernah juga anjlok drastis karena berbagai faktor seperti makro ekonomi global, sehingga pasar dalam kondisi bearish cukup lama. Saat IHSG terkoreksi, kinerja emiten biasanya cukup buruk.

Saat IHSG tengah terkoreksi, sebagai investor ada baiknya untuk menunggu dan melihat apa yang akan terjadi termasuk menunda pembelian saham seperti saat kasus geopolitik Rusia dan Ukraina saat ini. Namun ketika IHSG mulai bangkit atau rebound, tak ada salahnya berbelanja saham lagi.

Baca juga: 10 Saham Blue Chip Terbaik di Indonesia

3.    Harga Saham Anjlok

Ada yang bilang bahwa saham-saham bluechip memiliki peluang cuan yang besar. Benar sekali. Namun ini tidak menjadikan saham-saham dengan kapitalisasi pasar raksasa itu tak mungkin turun. Yap, dalam pasar modal segalanya bisa terjadi termasuk saham bluechip dari emiten dengan laporan keuangan positif, harganya mendadak anjlok karena terkena sentimen negatif seperti kondisi perekonomian global.

Jika Anda menemukan saham-saham bagus ini tengah melemah, maka justru menjadi waktu yang tepat untuk berbelanja. Sama halnya seperti emas yang bisa saja anjlok tapi secara jangka panjang bakal meningkat, itu pula yang terjadi pada saham-saham bluechip. Kenapa bisa begitu? Karena saham dari emiten dengan fundamental baik tak akan butuh waktu lama untuk bangkit dan meraih level terbaiknya lagi, sehingga membelinya saat harga anjlok tak merugikan.

4.    Emiten Dalam Kondisi Baik

Salah satu kesalahan investor pemula adalah enggan belajar melakukan analisa fundamental perusahaan. Padahal teknik yang satu ini sangat berguna dalam strategi jual beli saham, karena Anda bisa tahu emiten itu dalam kondisi baik atau tidak. Dengan mencari informasi fundamental emiten yang biasanya diperoleh dalam laporan keuangan, Anda akan tahu apakah perusahaan itu dalam kondisi untung atau rugi.

Termasuk dengan mengetahui seperti apa rencana bisnis perusahaan ke depannya, mulai dari pertimbangan ekspansi bisnis, akuisisi perushaaan lain hingga adanya penyusutan. Lewat analisa fundamental ini, Anda tak akan tertipu dalam menentukan saham yang cocok bagi portofolio masing-masing.

5.    Beli Saham di Awal Penjualan

Dan inilah waktu terakhir yang dianggap tepat untuk melakukan transaksi saham. Jika Anda sudah menggeluti profesi sebagai investor atau trader saham dalam waktu lama, tentu akan memiliki kebiasaan bahwa setiap pagi akan memeriksa volume dan harga pasar untuk saham-saham yang dimiliki. Kebiasaan ini akan membuat Anda memahami seperti apa pola pergerakan pasar dan melakukan transaksi yang tepat di awal penjualan.

Khusus untuk mereka yang sudah menjadi trader profesional, biasanya menggunakan 15 menit pertama setelah opening bell bursa untuk melakukan transaksi saham secepat mungkin. Tak heran kalau mereka meyakini jika pukul 09.30 – 10.30 WIB kerap dianggap sebagai jam-jam terbaik jika menerapkan strategi trading harian.

Strategi Jual Beli Saham Bagi Pemula Saat Pasar ‘Galau’

Strategi Transaksi Saham
via livemint

Nah, setelah tahu seperti apa sih waktu-waktu yang tepat untuk berbelanja saham, maka kini saatnya Anda mulai menerapkan strategi jual beli saham. Terutama saat kondisi pasar modal global mengkhawatirkan seperti saat ini, Anda dituntut untuk bisa memahami berbagai analisa dan indikator yang. Untuk apa? Selalu meraih cuan maksimal.

Seperti apa strategi yang bisa diterapkan? Simak berikut ini!

1.    Average Down

Strategi jual beli saham yang pertama adalah average down. Disebut demikian karena strategi ini mengharuskan Anda membeli saham secara bertahap, saat harganya jatuh. Apakah ini tidak memicu kerugian? Tentu saja tidak karena jika saham yang dibeli berasal dari emiten bluechip, justru bakal mendatangkan untung lantaran harganya perlahan bakal meningkat.

2.    Exchange Traded Fund

ETF (Exchange Traded Fund) adalah strategi jual beli saham kedua yang bisa Anda pertimbangkan. Bagi Anda yang tidak tahu, ETF sendiri adalah reksadana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif yang unit penyertaannya diperjual-belikan di BEI seperti halnya saham. Menggunakan strategi ETF maka artinya Anda melakukan diversifikasi investasi ketika pasar saham tengah ‘galau’.

Baca juga: Mudah Banget, Ini Lho Cara Membeli Saham IPO di Aplikasi Ajaib

3.    Stay Away

Berbeda dengan kedua pembahasan sebelumnya, strategi jual beli saham ini lebih cocok bagi investor yang tak ingin mengambil risiko. Yap, Anda bebas untuk memilih bersikap stay away atau ‘menjauh’ terlebih dulu dari pasar modal, sambil menanti kondisi lebih baik. Supaya tetap untung, dana investasi yang dimiliki dapat dialihkan ke aset selain saham seperti deposito atau sang safe haven, emas.

4.    Day Trading

Sesuai dengan namanya, day trading adalah sebuah kegiatan jual beli saham yang dilakukan di hari yang sama. Keuntungan dari strategi yang satu ini adalah Anda bisa langsung memperoleh untung tanpa tunggu waktu lama. Untuk bisa melakukan strategi day trading secara tepat, Anda harus bisa melakukan analisa fundamental dan teknikal secara tepat dalam waktu singkat, sehingga strategi ini jelas tak cocok bagi pemula karena risikonya sangat besar.

Bagaimana? Sudah cukup paham dengan beberapa strategi jual beli saham? Asalkan Anda melakukannya di waktu yang tepat, pasar modal tak akan menjadi tempat yang ‘mengerikan’. Bahkan bukan tak mungkin Anda justru bakal bisa meraih cuan maksimal dan semakin semangat menjadi pelaku lantai bursa. Semangat!

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar