Ini Tanda Siap Beralih Dari Karyawan Menjadi Pengusaha

Menjadi karyawan ataupun menjadi pengusaha sama-sama merupakan pekerjaan yang mulia. Namun tidak ada masalah jika Anda memang punya impian membangun usaha sendiri suatu hari nanti. Karena naluri menjadi usahawan biasanya memang sulit dipendam.

Untuk melangkah lebih lanjut terkadang kita masih ragu kapan saat yang tepat untuk resign dari kantor. Banyak sekali ide yang ingin segera di eksekusi. Namun disisi lain, banyak juga yang masih menjadi pertimbangan.

Hal ini memang wajar, karena kita paham bahwa mengambil keputusan untuk resign pasti mengandung berbagai konsekwensi. Sehingga kita tidak bisa asal dan seenaknya untuk berhenti dari pekerjaan di kantor lalu membangun usaha yang kita minati. Tapi jangan sampai akhirnya keraguan membuat Anda menunda-nunda dan malah kehilangan kesempatan.

Nah, kira-kira apa saja ya tanda kalau kita siap beralih dari karyawan menjadi pengusaha?

1. Memiliki Modal Tabungan yang Cukup

Tanda Siap Menjadi Pengusaha Memiliki Modal Tabungan Yang Cukup

Saat kita hendak memulai bisnis sendiri, tentunya kita perlu menyiapkan gambaran modal usaha diawal. Modal yang dimaksud disini adalah modal secara financial.

Bukan hanya modal bisnis tapi Anda juga perlu memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidup harian pada awal merintis bisnis. Modal ini adalah salah satu dasar yang cukup penting untuk memulai bisnis dan meminimalisir resiko.

Jangan sampai kita memutuskan untuk resign dari kantor dengan niat memulai bisnis namun secara ternyata tidak siap secara finansial.

Bukannya sibuk mengelola bisnis, tapi kita sibuk mengkhawatirkan bagaimana makan besok terlebih jika kita sudah berkeluarga atau memiliki tanggungan anggota keluarga lain. Karena bisnis tidak selalu bisa menghasilkan, apalagi di masa-masa awal merintis.

Sebelum memulai bisnis sendiri, pastikan gaji sebagai karyawan selama ini sudah di tabung setidaknya untuk 12x jumlah pengeluaran rutin bulanan.

Terlebih di masa pandemik seperti ini, memiliki dana darurat sebaiknya di prioritaskan terlebih dahulu. Sehingga jika bisnis kurang berjalan dengan baik, Anda tidak panik dan bisa megcover kebutuhan rutin dengan darurat ini sembari berusaha mengembangkan bisnis yang ada.

Jika sudah, barulah pikirkan dengan rinci berapa kira-kira modal tabungan yang cukup. Besar kecilnya tergantung dari perencanaan Anda, tapi yang pasti Anda perlu menyiapkannya sebelum terjun dalam bisnis. Hal ini supaya keuangan pribadi tidak goyah saat bisnis belum berjalan lancar. Inilah mengapa modal finansial yang cukup menjadi salah satu tanda bahwa Anda siap untuk memulai bisnis.

2. Punya Basic Pengetahuan Tentang Produk

Siap Menjadi Pengusaha Jika Punya Basic Pengetahuan Tentang Produk
sumber gambar : pexels/jopwell

Tanda lainnya jika kita sudah siap beralih dari karyawan menjadi pengusaha adalah punya basic pengetahuan tentang produk. Sebab produk adalah kunci dari bisnis. Jadi bukan hanya punya produk, namun juga paham produk. Apa fungsi atau manfaatnya untuk calon pasar yang kita bidik dan bagaimana cara menjualnya.

Jika Anda sudah punya gambaran tentang hal-hal di atas, maka ini tandanya Anda siap mulai mengembangkan bisnis. Tapi jika belum, coba pertimbangkan kembali sebelum Anda memutuskan untuk resign dari kantor.

Semakin Anda menguasa produk dari bisnis Anda, maka peluang untuk membuka opportunity ke depan akan semakin besar. Hal ini karena Anda bisa menemukan mana celah yang bisa di manfaatkan dari berbagai sudut. Selain itu, ketika kita cukup menguasai produk hal ini juga bisa menjadi suatu personal branding yang membuat calon pasar lebih percaya.

3. Punya Lebih Banyak Waktu Luang

Punya Lebih Banyak Waktu Luang
Sumber gambar : Unsplash/lukechesser

Memulai usaha bukan berarti Anda harus langsung resign bekerja. Jika itu masih terlalu beresiko, Anda bisa memulainya sambil menyisihkan waktu yang Anda miliki setelah ngantor. Atau jika bisnis Anda di jalankan secara online, Anda bisa mengerjakannya di sela-sela pekerjaan ketika cukup luang.

Untuk sementara, Anda bisa memulai bisnis dengan mengandalkan waktu yang ada dan juga tabungan yang bisa digunakan untuk menambah modal. Misalnya Anda bisa meng-hire orang untuk menjadi admin bisnis Anda.

Setelah pola kerja bisnis sudah mulai dikuasai dan menemukan pasarnya, Anda bisa memikirkan untuk resign dan menginvestasikan lebih banyak waktu agar fokus mengembangkan bisnis Anda.

4. Siap Membangun dan Mengembangkan Koneksi

Siap Membangun Dan Mengembangkan Koneksi
Sumber gambar : Pexels/mentatdgt

Kesuksesan bisnis salah satunya di pengaruhi oleh networking. Semakin luas dan kuat koneksi yang kita miliki maka semakin besar pula peluang bisnis yang bisa dikembangkan. Nah, bagaimana dengan Anda saat ini? Apakah sudah siap membangun dan mengembangkan koneksi?

Maka dari itu penting bagi Anda untuk mempertimbangkan koneksi saat masih menjadi karyawan. Selain dengan teman sekantor, Anda juga mungkin pernah mengambil pekerjaan freelance lain.

Jalinlah koneksi dari sana. Jika Anda masih terhubung dengan teman-teman lama, ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mengembangkan koneksi.

Dalam memulai bisnis, kita tidak membicarakan seberapa kuat dan luas koneksi yang kita miliki. Namun minimal Anda sudah tahu dan berada dalam lingkaran orang-orang yang potensial membantu bagian inti dari usaha Anda.

Misalnya saja, koneksi untuk mengembangkan pasar entah ia sendiri yang menjadi pasar atau malah ia yang menjadi penghubung kita dengan pasar yang lebih luas.

Hal-hal yang di Hadapi Pengusaha di Masa Awal

Anda mungkin sudah tidak sabar untuk segera memulai profesi baru menjadi pengusaha secara full time. Tapi proses adaptasi tetaplah di perlukan.

Oleh karena itu setidaknya kita punya gambaran tentang bagaimana hidup seorang pengusaha khususnya di masa awal bisnis. Sehingga ketika kita akan dan sedang memulai bisnis nanti, kita tidak terlalu kaget jika menghadapi hal-hal semacam ini.

Memang tidak semua mengalaminya tapi beberapa hal berikut ini mungkin bisa di jadikan pertimbangan. Nah inilah beberapa hal yang biasanya harus di hadapi pebisnis pemula!

Merasa Sendirian

Saat memutuskan menjalankan bisnis pribadi, tidak jarang dari kita yang memang memulai bisnis dengan tim kecil bahkan sendirian. Mungkin ketika kita masih bekerja di kantor, rasa kesepian ini tidak terlalu di rasakan karena setiap hari kita bertemu dengan teman-teman sedivisi.

Belum lagi teman lintas divisi dan hubungan baik dengan klien-klien baru. Ketika kita bosan atau butuh teman diskusi kita bisa mengajak rekan-rekan yang ada.

Namun jika kita memutuskan menjadi pengusaha secara full time, terutama dimasa awal ada kemungkinan kalau kita akan menemui tantangan rasa kesepian.

Karena ketika awal kali merintis usaha, tentu saja belum banyak yang mengenal bisnis kita. Jangankan mengajak orang bekerja sama ataupun merekrut karyawan, memperkuat kaki-kaki bisnis agar bisa berdiri dan berjalan juga masih sulit.

Di saat-saat sulit inilah kadang kita membutuhkan teman untuk berdiskusi atau memotivasi. Tapi karena kondisi sudah berubah dan pada saat itu belum tentu ada orang yang paham serta mendukung ide bisnis kita, nah biasanya saat itulah kita merasa sendirian.

Oleh karena itu, mungkin kita bisa mulai memikirkan bagaimana respon kita untuk bisa melaluinya jika hal tersebut terjadi.

Jatuh Bangun Bisnis

Bisnis itu tidak semudah yang terlihat. Di medsos atau di youtube, kita mungkin terbiasa melihat pebisnis-pebisnis yang sukses. Tapi itu adalah hasil, nah sekarang kita berbicara tentang prosesnya.

Jatuh bangun dalam bisnis adalah hal wajar. Apalagi kalau mengingat hal yang biasanya tidak dimiliki oleh pebisnis baru, yakni soal jam terbang dan pengalaman. Karena selama ini sebagian besar waktu dan energi yang kita miliki di curahkan untuk pekerjaan di kantor.

Untuk menghadapi kekurangan ini, mungkin kita bisa seorang mentor yang sudah ahli dan lebih berpengalaman di bidangnya. Jika kita memiliki modal yang cukup besar kita juga bisa mempekerjakan staf yang ahli.

Namun yang paling penting dan perlu di garis bawahi adalah, kita sendiri harus menjadi orang yang paling paham cara kerja dari bisnis yang kita bangun. Karena dengan begitu, bisnis kita akan memiliki salah satu dasar yang kuat untuk terus berkembang di masa depan.

Keterbatasan Modal

Hal lainnya yang mungkin biasa di hadapi oleh pebisnis pemula adalah keterbatasan modal. Bagaimanapun, bisnis perlu modal. Baik itu jumlahnya sedikit ataupun besar.

Nah, di saat kita sudah bisa melihat pengembangan bisnis biasanya modal adalah salah satu kunci utama yang kita butuhkan. Semakin besar modal yang kita miliki, maka kita bisa lebih mudah untuk mengarahkan bisnis untuk mencapai target tertentu.

Modal ini tidak melulu berupa modal finansial tapi juga aset seperti kinerja pegawai. Namun di sisi lain, terkadang kita akan terkendala untuk mendapatkan modal sehingga kita harus berpikir untuk mengefektifkan modal yang ada. Di sinilah letak keseruan dan tantangannya.

Maka dari itu perputaran modal ini harus di manajemen dengan baik. Misalnya saja dengann membuat rancangan anggaran dengan tepat dan secara berkala mengevaluasinya.

Ragu Untuk Memulai

Seringkali keraguan dirasakan oleh sebagian orang yang dulunya bekerja sebagai karyawan saat merasa waktunya memulai bisnis. Mulai dari ragu kapan waktu yang tepat untuk resign bahkan hingga ragu akan kemampuan sendiri.

Hal ini mungkin bisa di wajari, karena memulai bisnis artinya akan ada yang berubah dari hidup kita. Dan pada umumnya, manusia memiliki respon “lawan atau lari” saat menghadapi perubahan yang memiliki resiko.

Tapi yang perlu di sadari adalah saat masa awal ini kita memang belum memiliki kemampuan atau bahkan merencanakan bisnis dengan “sempurna”.

Seiring berjalannya proses, jika kita memang dasarnya memiliki minat dan kemauan yang tinggi untuk sukses pada bisnis yang di pilih maka nantinya secara otomatis perilaku kita akan mengarah kesana.

Untuk meningkatkan wawasan dan skill, selain belajar pada pengalaman kita juga bisa membaca berbagai artikel, mengikuti webinar dan pelatihan lainnya.

Sebagai wawasan tambahan saja, ada beberapa kepribadian yang biasanya di kaitkan dengan kecocokan menjadi pengusaha. Apa saja itu?

  • Selalu memikirkan tentang bisnis
  • Menyadari resiko memiliki usaha sendiri
  • Suka memperluas koneksi
  • Penuh perhitungan namun berani mengambil resiko

Penutup

Sebenarnya tidak ada standart “benar-benar siap” untuk menjadi pengusaha. Karena tidak ada pengusaha yang langsung ahli saat pertama kali ia memulai usahanya. Sehingga yang menjadi titik tekan disini adalah kesiapan untuk memulai, bukan standart sempurna menjadi pengusaha sukses.

Karena tanpa perencanaan dan kesiapan mental akan sulit untuk berpetualang di bidang yang penuh tantangan dan resiko ini. Jadi alangkah lebih baik jika kita memulai persiapan yang cukup. Hal ini supaya kita bisa lebih adaptif, namun tetap tidak kehilangan prinsip. Demikian ulasan bisnis kali ini, semoga bermanfaat.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar