Beli Rumah atau Ngontrak? Pasutri Baru, Wajib Cek 5 Hal ini!

Diperbarui pada September 4th, 2022 at 01:07 pm

Beli rumah atau ngontrak? Biasanya, beli rumah atau mengontrak adalah salah satu hal yang di galaukan oleh pasangan muda yang baru menikah.

Numpang di rumah ortu pasti tidak akan selamanya, bahkan sebagian tidak mau, tapi membeli rumah pun belum mampu. Apakah jalan keluarnya adalah mengontrak saja dulu?

Tapi, tidak sedikit juga pasutri baru yang memaksakan membeli rumah karena tergiur ketika berkunjung ke pameran real estate.

Tiba-tiba ingin beli rumah ketika sedang melihat-lihat furniture atau produk interior yang bagus-bagus.

Atau malah karena seringnya lihat teman-teman sebaya sudah akad KPR rumah di medsos, jadi ingin juga. Yang tadinya biasa aja, rasanya jadi ingin cepat-cepat mengisi rumah sendiri!

Hmm.. pertanyaannya, apakah beli rumah itu memang wajib? Atau sebenarnya kita juga punya alternatif pilihan berbeda, seperti misalnya fokus berinvestasi selain untuk beli rumah?

Sebelum memutuskan beli rumah atau ngontrak dan menyusun strategi lain, pasutri baru wajib cek 8 hal ini dulu yuk!

1. Cek Kesehatan Keuangan

Sebelum Beli Rumah Atau Ngontrak Cek Kesehatan Keuangan
gambar : unsplash.com/ National Cancer Institute

Sebelum mengambil pinjaman atau sejenisnya ada baiknya jika kita memeriksa kesehatan keuangan keluarga terlebih dahulu.

Ada beberapa pertanyaan yang bisa di ajukan untuk mengukur apakah keuangan kita dalam keadaan sehat ataukah sedang ‘sakit’. Misalnya saja :

  • Apakah Anda dan pasangan sudah punya income tetap yang mampu meng-cover kebutuhan pokok minimal sehari-hari?
  • Apakah Anda dan pasangan sudah bisa mengontrol gaya hidup sehingga tidak perlu ‘puasa’ menjelang akhir bulan?
  • Apakah Anda dan pasangan sudah terbiasa melakukan pencatatan keuangan rutin sehingga pasti tahu untuk apa saja mengeluarkan uang?
  • Terakhir, bagaimana dengan dana darurat keluarga? Sudah terkumpulkah dengan jumlah yang ideal?

Semua instrumen pertanyaan tersebut mencerminkan kebutuhan dasar kita. Jika jawabannya mayoritas “belum”, Anda berhati-hati ya.

Mengambil pinjaman, apalagi dalam jumlah besar dengan tenor yang lama, berarti akan memotong income secara jangka panjang.

Hal ini bisa berpengaruh ke berbagai aspek dan menimbulkan banyak masalah baru jika sebenarnya kita belum cukup siap.

Bukan hanya kebutuhan sehari-hari kita yang bisa jadi tidak tercukupi, tapi secara psikologis-pun kita akan cenderung was-was karena merasa tidak aman. Lama-lama jika tidak terselesaikan juga, hal ini bisa menjadi bola salju yang akan menghantam hubungan rumah tangga Anda dan pasangan.

Selanjutnya lakukanlah evaluasi dan cari strategi untuk meningkatkan kualitas kesehatan keuangan Anda.

Tidak perlu terburu-buru dan mengharapkan hasil yang instan. Lakukan perlahan tetapi konsisten, karena perubahan yang bernilai membutuhkan proses setimpal.

Jika ingin menyehatkan keuangan kita, strategi umumnya hanya dua : Kelola pengeluaran dengan bijak atau tingkatkan income dan saving/investment kita

Kadang kita berada dalam kondisi dimana kita belum bisa meningkatkan income. Itu tidak masalah. Sembari mengusahakan peningkatan income, jika kita bijak dalam mengelola pengeluaran, maka kita tetap bisa menikmati hidup meski ekonomi masih pas-pasan.

Baca juga, Ini Cara Evaluasi Keuangan Pribadi Anda di Tahun 2022

2. Persoalan dan Perencanaan Income

Rata-rata, pasangan yang baru menikah sekitar 3 tahun kebelakang hingga hari ini adalah pasangan yang berasal dari Gen Millenial dan Gen Z.

Berkaitan dengan hal ini ternyata, Ibu menteri Sri Mulyani, pernah mengungkapkan bahwa kemungkinan Gen Milenial dan Gen Z akan kesulitan memiliki rumah dikarenakan harga tanah dan UMR atau gaji yang tidak sebanding.

Jadi ini bukan hanya persoalan gaya hidup milenial dan gen Z yang terbiasa untuk kongkow-kongkow di cafe dan mall.

Tapi kenyataannya, rata-rata gaji mereka yang memang minim sehingga beli rumah mungkin tidak akan menjadi check list impian masa depan seperti generasi-generasi sebelumnya.

Bagaimana dengan Anda?

Setiap keluarga memiliki kebijaksanaannya masing-masing tentang siapa yang bertanggung jawab membawa uang ke rumah. Apakah suami saja, istri saja, ataukah suami dan istri (keduanya) bekerja.

Di Indonesia, mayoritas memilih pilihan ke-1 (suami saja) dan ke-2 (suami istri). Apapun yang menjadi pilihan Anda dan pasangan, sebelum memutuskan beli rumah sebaiknya pastikan income keluarga sudah stabil.

Oleh karena itu, ada baiknya untuk membangun passive income terlebih dahulu jika jenis pendapatan dan profesi Anda atau pasangan tidak menentu.

Pasutri baru biasanya masih canggung bicara soal keuangan secara blak-blakan. Mulai dari tidak enak menolak keinginan pasangan, insecure karena income masih kecil, dll.

Biasanya persoalan income menjadi cukup sensitif, sehingga bicarakan hal ini dalam kondisi yang tenang. Pastikan juga keduanya mengurangi prasangka dan berorientasi pada solusi.

Jika seandainya mau beli rumah, sumber uangnya dari mana, dan apakah beli rumah secara cash atau KPR. Semuanya harus jelas, tidak hanya berdasarkan feeling saja.

Gaji masih kecil karena baru masuk dalam dunia kerja itu wajar, tapi bukan berarti kita tidak mungkin memiliki aset seperti rumah misalnya. Karena itu hanya sementara.

Dengan perencanaan keuangan keluarga, khususnya pada poin ini adalah persoalan income. Menerima kondisi, kontrol diri dan sabar, tingkatkan income dengan investasi leher ke atas (ilmu & skill) adalah solusinya.

Baca juga,

3. Pilih Lingkungan Tempat Tinggal yang Sesuai Kebutuhan

Pilih Lingkungan Tempat Tinggal Yang Sesuai Kebutuhan
gambar : unsplash.com/ jimmy conover

Bayangkan saja, di DKI Jakarta, bahkan ada tanah yang di jual dengan harga Rp 50 juta per-m2! Itu hanya tanahnya saja. Belum biaya membangun rumahnya. Dengan gaji UMR, rasanya tidak mungkin bisa mengumpulkan uang untuk membeli tanah.

Mungkin Anda mengernyitkan dahi saat membaca data diatas. Memang, harga properti di atas hanya ilustrasi untuk menggambarkan keinginan banyak untuk memiliki rumah pertama di tengah kota dan harga tertingginya. Di luar Jakarta mungkin berbeda.

Namun yang menjadi poinnya disini adalah, apakah memiliki rumah di tengah kota merupakan kebutuhan atau hanya sekedar gengsi saja?

Lingkungan tempat kita tinggal sangat penting untuk kita perhatikan. Salah satu sumber pertimbangannya adalah kebutuhan Anda dan pasangan serta perencanaan keluarga Anda.

Misalnya saja,

  • Anda dan pasangan adalah seorang freelancer atau profesional yang biasa work from home, maka haruskah tinggal di tengah kota?
  • Anda bekerja sebagai karyawan di tengah kota namun membutuhkan tempat istirahat dengan kondisi yang lebih tenang (bukan di tengah kota)
  • Anda lebih ingin tinggal di tempat yang tidak terlalu jauh dengan kantor meskipun bukan di tengah kota
  • Prioritas utama adalah ‘membeli waktu’, sedangkan kantor ada di tengah kota. Sehingga cari alternatif tempat tinggal yang dekat namun masih terjangkau.

Intinya, pahami kebutuhan Anda sendiri tentang tempat tinggal. Apakah yang dibutuhkan untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Jangan sampai standart Anda yang terlalu tinggi (terkesan sulit di gapai) menghalangi Anda dan pasangan untuk tinggal ditempat yang nyaman sesuai kebutuhan.

4. Memperjelas Mindset Kepemilikan Rumah

Rumah adalah aset investasi yang bersifat sebagai pemenuhan salah satu pokok kita sebagai manusia. Disini berarti sifat rumah ada dua yakni sebagai aset investasi dan juga sumber kebutuhan dasar (papan).

Aset investasi bentuknya beragam. Rumah bukanlah satu-satunya jenis investasi yang ada di dunia. Kita bisa menggantinya dengan aset lain.

Jadi sebenarnya rumah tidak harus di miliki sebagai aset. Tapi wajib ada sebagai sumber kebutuhan dasar kita. Dengan kata lain, kita bisa ngontrak/sewa. Bahkan ada kok keluarga yang seumur hidupnya memilih mengontrak, lalu fokus membangun aset selain rumah seperti bisnis, experience dll.

Jadi, apakah properti masih wajib menjadi jenis investasi yang utama?

Pandangan bahwa wajib memiliki rumah barangkali adalah keyakinan dan cara berinvestasi generasi orangtua dan kakek nenek kita.

Tapi sebenarnya hal ini bisa di sesuaikan dengan kondisi dan rencana keluarga kita masing-masing jika kita kembali lagi pada perspektif tentang rumah di atas.

Anda bisa membayangkan keputusan tempat tinggal pada ilustrasi di bawah ini!

Misalnya, kondisi keuangan keluarga Anda dan pasangan (pasutri baru) masih pas-pasan meskipun kondisi keuangannya sehat. Anda dan pasangan bekerja di tengah kota dan sangat sibuk setiap hari.

Disisi lain sudah menetapkan bahwa prioritas utama keluarga adalah hidup sehat secara fisik dan mental serta meningkatkan income di tempat dimana saat ini bekerja. Anda juga fokus berinvestasi (dengan keuntungan investasi setara atau lebih dari properti).

Dari pertimbangan dan kondisi tersebut, Anda dan pasangan memutuskan untuk menyewa apartemen. Karena praktis, akses ke tempat refreshing (sesuai style) lebih dekat, lebih punya waktu untuk olahraga dipagi hari, dll.

Sejauh ini, tidak ada masalah jika tidak punya rumah bukan? Untuk apa memaksakan diri agar punya rumah, tapi hidup malah jadi lebih berantakan?

5. Cari Tahu Berbagai Pilihan Investasi Selain Beli Rumah

Cari Tahu Berbagai Pilihan Investasi Selain Beli Rumah
gambar : unsplash.com/ Priscilla Du Preez

Pada poin sebelumnya, Anda sudah mengetahui bahwa jenis investasi bukan hanya dalam bentuk rumah tinggal. Anda dan pasangan sebenarnya juga bisa memilih prioritas jenis investasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi keluarga masing-masing.

Oleh karena itu, Anda wajib memahami berbagai pilihan investasi lainnya yang mungkin cocok untuk Anda.

Misalnya jika Anda senang dan berbakat dalam bisnis. Anda bisa memprioritaskan untuk menginvestasikan waktu, tenaga, pikiran dan materi Anda disana. Tidak perlu ter-distract oleh ‘kewajiban’ membeli rumah.

Ada banyak sekali jenis investasi lainnya seperti saham, reksadana, emas, dan lainnya yang memungkinkan untuk dipilih terlebih dahulu.

Penutup

Itulah ke 5 hal yang wajib pasutri baru pertimbangkan sebelum terburu-buru memutuskan beli rumah. Tidak masalah jika saat ini belum punya rumah sendiri. Tidak masalah jika Anda dan pasangan sering melihat teman-teman sebaya pamer rumah di medsos. That’s their life, and this is yours & your family’s life.

Anda dan pasangan paling tahu mana pilihan yang terbaik bukan? Ingat, bahwa kondisi dan perencanaan masing-masing keluarga berbeda-beda. Jadi tidak bisa di sama ratakan.

Jadi terpenting jangan sampai hidup keluarga kita di jadikan ajang lomba. Perhatikan kesehatan keuangan, tingkatkan income, pilih lingkungan tempat tinggal sesuai kebutuhan, fokus membangun aset yang realistis (aset bukan hanya rumah), dan belajar ilmu serta jenis investasi.

Semoga artikel ini bermanfaat ya! Sebarkan artikel ini kepada pasangan atau kerabat jika Anda merasa mereka juga perlu tahu tentang 5 hal yang wajib dipertimbangkan sebelum beli rumah.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar