Selain Sembako, Ternyata Barang-Barang Ini Harganya Makin Mahal

Inflasi tidak hanya membuat harga kebutuhan primer naik, selain sembako ternyata barang-barang ini harganya makin mahal.

Dalam hasil survey Badan Pusat Statistik (BPS), beberapa kebutuhan primer hingga sekunder masyarakat di Indonesia semakin meningkat.

Pada bulan November 2022, inflasi inti atau core inflation Indonesia mencapai 3,3% year on year dari tahun 2021.

Realisasi ini lebih rendah jika dibandingkan pada bulan Oktober 2022, dengan inflasi inti mencapai 3,31% (yoy).

Inflasi inti merupakan komponen inflasi yang cenderung menetap atau persisten (persistent component) dalam pergerakan inflasi.

Naik turunnya inflasi inti dipengaruhi oleh faktor fundamental seperti interaksi permintaan dan penawaran.

Jika angka inflasi inti semakin rendah artinya perekonomian relatif stabil karena harga – harga tidak melejit dengan drastis.

Sebaliknya, jika angka inflasi inti meninggi artinya ada harga suatu komoditas pada masyarakat yang naik.

Misalnya dalam inflasi inti bulan November, harga emas perhiasan naik 0,01%, harga sewa rumah naik 0,09%, mobil 0,08%, biaya sewa kontrak rumah naik 0,07%.

Kenaikan inflasi inti juga disumbang oleh naiknya harga sabun detergen bubuk dan cair sebesar 0,07%, nasi dan lauk pauknya naik 0,06%, serta gaji asisten rumah tangga juga naik sebesar 0,05%.

Khususnya kenaikan gaji asisten rumah tangga disebabkan penyesuaian terhadap naiknya kebutuhan bahan konsumsi.

Bahkan yang tidak terlibat langsung dalam aktifitas ekonomi, yaitu kenaikan uang kuliah tingkat akademi dan perguruan tinggi sebesar 0,06% berperan dalam menyumbang kenaikan inflasi inti November 2022.

Dalam keterangan Sri Mulyani, inflasi umum secara keseluruhan di Indonesia mencapai 5,42% pada November 2022 (year on year).

Angka ini relative turun jika dibandingkan dengan posisi inflasi pada Oktober yang mencapai 5,71% (year on year).

Ada pula angka inflasi yang berdasarkan diatur pemerintah pada November 2022 mencapai 13,01% (year on year).

Angka ini lebih rendah jika dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 13,28%.

Data pendamping lainnya yaitu angka inflasi harga bergejolak yang mencapai 5,7% (year on year) lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 7,2%.

Berdasarkan tiga komponen inflasi di atas, maka inflasi inti memiliki andil sebesar 2,17% terhadap inflasi nasional.

Sedangkan angka inflasi harga diatur pemerintah andil sebesar 2,3% dan angka inflasi harga bergejolak menyumbang 0,95% terhadap inflasi nasional.

Kenaikan Bahan Pangan

Menurut Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, beberapa komoditas mengalami kenaikan harga pada awal Desember 2022.

Misalnya harga minyak goreng, telur ayam, cabai, dan bawang merah kompak naik.

Harga minyak goreng curah pada tingkat konsumen naik Rp100 dari hari sebelumnya, menjadi Rp14.100 per liter.

Meski HET atau Harga Eceran Tertinggi untuk minyak goreng curah adalah Rp14.000 per liter, harga tersebut hanya sedikit lebih tinggi.

Hal ini berbeda dengan komoditas telur ayam yang dalam satu bulan terakhir terus menjukkan tren kenaikkan.

Pada awal Desember 2022, bahkan harga rata-rata nasional telah mencapai Rp30.000 per kilogram.

Kenaikan juga terjadi pada seluruh jenis cabai, harga cabai merah besar naik Rp300 menjadi Rp35.500 per kg.

Harga cabai rawit merah naik Rp500 menjadi Rp48.000 per kg, dan cabai merah keriting naik Rp700 menjadi Rp34.700 per kg.

Namun ada juga penurunan harga pada salah satu komoditas yaitu daging sapi, meski penurunan hanya Rp100 dari Rp136.500 menjadi Rp136.400 per kg.

Baca juga: Investasi Untuk Gen Z, Inilah 8 Fakta Obligasi yang Wajib Diketahui!

Kabar baiknya adalah harga beras premium dan medium yang telah stabil dalam beberapa minggu terakhir.

Untuk harga beras premium Rp12.900 per kg dan harga beras medium Rp11.000 per kg. Begitu juga dengan harga Gula pasir tetap di Rp14.300 per kg.

Tinggalkan komentar