Simak Saham Pilihan November – Desember 2022

Kabar mengenai kenaikan suku bunga The Fed membayangi pergerakan harga saham, sebaiknya Anda simak saham pilihan November – Desember 2022.

Kuartal III-2022 menggambarkan kinerja cemerlang mayoritas emiten bank dan LQ45.

Dua jenis emiten ini diyakini bakal menopang pergerakan harga saham masing-masing, sekaligus mengerek naik indeks harga saham gabungan (IHSG).

Beberapa emiten Bank yang menghasilkan laba adalah sebagai berikut:

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), laba bersih hingga kuartal III-2022 tumbuh 24,8% menjadi Rp 28,95 triliun.
  • PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan laba bersih Rp 30,7 triliun atau melonjak sebesar 59,4%.
  • PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat kinerja luar biasa dengan lonjakan laba bersih 76,8% menjadi Rp 13,69 triliun.

Secara umum, kinerja emiten bank dan LQ45 tahun ini relatif lebih bagus daripada tahun lalu.

Sedikit pengecualian adalah bagi mereka yang punya utang dan importir dalam dolar AS.

Setidaknya ada dua faktor mengapa kinerja emiten tersebut bisa menghasilkan laba yang bagus.

Pertama, harga komoditas yang masih menjadi andalan dan tumbuhnya daya beli masyarakat seiring perekonomian Indonesia yang berangsur-angsur pulih.

Menurut pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, emiten bank terutama yang top 3 market cap (BBCA, BBRI, BMRI) masih akan menunjukkan kinerja positif hingga akhir kuartal ke IV-2022.

Mengingat permintaan kredit dalam negeri mengalami pertumbuhan daripada kuartal sebelumnya.

Demikian juga mengenai emiten-emiten LQ45, Budi menilai permintaan komoditas masih akan mendorong tingginya laba untuk tahun ini.

Khususnya pada sektor energi seperti ADRO, ITMG, dan ABMM, serta sektor perkebunan sawit antara lain DSNG dan TAPG.

IHSG Masih Suram

William Wibowo, Equity Analyst Kanaka Hita Solvera, memberikan analisis mengenai prediksi IHSG yang secara teknikal akan cukup sulit untuk menembus level 7.500 sampai akhir 2022.

Hal ini disebabkan oleh kondisi ekonomi dunia yang masih tidak stabil dan ancaman resesi global pada tahun depan.

“Setidaknya untuk jangka pendek, ada dua level penting IHSG yang harus diperhatikan yaitu level support penting IHSG berada di level 6.580 dan resistance penting berada di level 7.380,” tutur William.

William juga memberi rekomendasi beberapa saham yang bisa dibeli pada bulan November – Desember:

  • Emiten ACES, target harga Rp 680-750.
  • Emiten ASII dengan target harga Rp 8.000-8.200.
  • Emiten BIRD kisaran harga Rp 1.700-1.800.
  • Emiten EMTK berkisar Rp 1.830-1960.
  • Emiten SMGR pada harga Rp 8.250-8.600.

Itu adalah saham yang dinilai aman dan stabil hingga akhir tahun, William juga mempunyai beberapa opsi untuk saham dengan potensi technical rebound.

Saham macam ini biasanya dicari oleh para investor senior yang suka berspekulasi, beberapa emitern tersebut adalah UNVR, UNTR, ADRO, dan INCO, serta emiten dengan sinyal bullish yang cukup kuat seperti AKRA dan AMRT.

Baca juga: Suku Bunga The Fed Melambat, Rupiah Merosot Lagi!

Referensi lain didapatkan dari William Surya Wijaya, CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, yang mengatakan bahwa pergerakan IHSG masih terlihat betah di dalam area konsolidasi wajar.

Tekanan eksternal ekonomi global masih cukup besar bila dibandingkan kemampuan untuk naik.

Sejauh ini, belum ada sentimen yang menonjol untuk dapat menjadi booster terhadap pola gerak IHSG.

William melihat sisi positif dari hal ini, yaitu sebagai momentum koreksi yang masih wajar dan dapat dimanfaatkan oleh investor untuk melakukan akumulasi pembelian dengan target investasi jangka panjang.

Beberapa saham pilihan dari William yang bisa Anda seruput adalah BBCA, TLKM, SMGR, BBRI, INDF, AKRA, TBIG, dan ASRI.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar