Hal-Hal yang Wajib Diketahui dan Waspadai dari Saham Gorengan

Yang namanya investor saham pemula, tentu tak munafik jika berharap pada keuntungan berlimpah. Ada banyak sekali kisah-kisah sukses seorang investor yang memperoleh kekayaan dari saham, membuat minat untuk bergelut di bursa efek makin tinggi. Dalam kondisi seperti ini, saham gorengan kerap dianggap sebagai salah satu pilihan terbaik untuk memaksimalkan cuan.

Tunggu, memang apa sih saham gorengan itu?

Apakah emitennya merupakan perusahaan yang menjual aneka kudapan gorengan?

Tentu saja tidak!

Nah supaya paham, ulasan berikut ini layak untuk Anda pelajari.

Baca Juga: 15+ Istilah Investasi Saham yang Wajib Diketahui Pemula

Berkenalan dengan Saham Gorengan

Apa Itu Saham Gorengan
© istock

Seperti dilansir website resmi BEI (Bursa Efek Indonesia) alias IDX, dijelaskan bahwa saham gorengan adalah istilah untuk saham yang naik turunnya harga dikendalikan atau direkayasa oleh spekulan demi memperoleh keuntungan jangka pendek. Tak heran kalau saham-saham dalam kategori ini memiliki risiko yang cukup tinggi membuat investor merugi.

Dalam bursa efek sendiri, saham gorengan biasanya merujuk pada saham-saham lapis ketiga atau yang secara profesional disebut sebagai junk stock (saham sampah). Seperti yang Anda tahu, di lantai bursa setidaknya ada tiga jenis saham yang ditawarkan yakni saham lapis satu atau yang kerap disebut sebagai blue chip, saham lapis dua yang mayoritas ada di Papan Tengah dan saham lapis ketiga.

Lantas kenapa disebut saham gorengan? Apa kaitannya dengan gorengan?

Coba Anda bayangkan, apa yang ada dirasakan saat membeli dan memakan gorengan seperti pisang goreng, tempe goreng, tahu goreng atau bahkan singkong goreng? Tentu identik dengan rasa yang enak, gurih dan harga sangat murah. Hanya dengan uang Rp5.000 saja, Anda sudah memperoleh minimal tiga gorengan. Namun jika setiap hari makan gorengan, tentu akan berbahaya bagi tubuh.

Analogi seperti inilah yang juga dialami para investor saham gorengan.

Seperti saat beli aneka gorengan, harga saham gorengan memang cenderung sangat murah dan mampu memberikan kesenangan tapi dalam jangka pendek. Karena jika terus-menerus membiarkan diri membeli saham-saham lapis ketiga ini, bukan tak mungkin kalau Anda bakal merugi sebagai investor. Kendati begitu tak dipungkiri kalau rayuan return besar adalah penyebab orang terpikat.

Ciri-Ciri Saham Gorengan yang Wajib Diketahui

Ciri Ciri Gorengan
© world picture news

Lantaran menjadi salah satu pemicu kerugian di kalangan investor, keberadaan saham gorengan memang wajib diwaspadai. Apalagi kalau Anda merupakan pemula dan baru saja memulai peruntungan di lantai bursa, ada baiknya untuk tidak terlalu memberikan perhatian besar pada saham-saham lapis ketiga ini. Ingat, satu hukum mutlak dalam investasi saham adalah untung besar diraih dalam jangka panjang.

Kalau Anda memang ingin memperoleh cuan berlimpah dari efek yang satu ini, kesabaran adalah hal wajib. Coba lihat bagaimana investor-investor saham tajir meraih kekayaannya. Nama-nama seperti Warren Buffett hingga Lo Kheng Hong jelas memperoleh sukses dari pasar bursa berkat kesabaran, serta waktu yang tidak singkat.

Alih-alih mendambakan untung singkat, dua investor sukses itu lebih percaya mengalokasikan dana investasi ke saham-saham blue chip dari emiten dengan fundamental baik, sehingga memberikan cuan terus dalam jangka panjang. Nah supaya bisa mengikuti jejak sukses yang sama, berikut beberapa ciri saham gorengan yang ada baiknya Anda ketahui:

1. Harga Cepat Naik dan Cepat Turun

Ciri pertama yang paling bisa dilihat dari saham gorengan adalah pergerakan harga yang kerap kali mengejutkan investor. Ada kalanya saham-saham dari perusahaan lapis ketiga di lantai bursa ini mendadak naik drastis hingga harga tak masuk akal, tapi kemudian langsung luar biasa anjlok dalam waktu sangat singkat. Kondisi ini jelas-jelas tidak sehat dan bisa bikin investor cemas.

Baca Juga: Memahami Apa itu NFT? Aset Kripto Baru untuk Investasi

Misalkan saja, harga saham dari emiten XYZ awalnya diperdagangkan di level 150. Lalu mendadak saham itu langsung melambung ke posisi 700 per lembar saham, dan tiba-tiba begitu saja anjlok ke level 75. Sudah bisa dipastikan kalau saham-saham dari emiten XYZ ini adalah saham gorengan yang mempunyai pergerakan harga tidak wajar.

Tak heran karena kondisi ini, BEI kerap kali menegur saham-saham lapis ketiga ini. Bahkan banyak di antaranya yang mengalami ARA (Auto Reject Atas) saat mengalami kenaikan harga melebihi batas terbesar harian hingga 20%, 25% atau 35%. Untuk itulah Anda harus waspada jika ada sejumlah saham yang masuk dalam laporan UMA (Unusual Market Activity), karena bisa saja itu tengah ’digoreng’.

2. Sangat Terpengaruh Rumor

Berangkat dari ciri sebelumnya bahwa harga saham-saham yang disebut gorengan ini punya pergerakan harga naik turun secara tak wajar, ternyata itu semua disebabkan oleh spekulan. Yap, ada oknum yang dengan sengaja menurunkan harga di pasaran saham supaya investor tertarik beli. Tentu supaya upaya ini bisa berhasil, rumor pun dihembuskan.

Misalkan saja emiten XYZ berniat melakukan akuisisi atas perusahaan C sekita dua minggu lagi. Rumor ini jelas akan membuat investor berpikir bahwa harga saham XYZ sudah pasti akan meningkat saat akuisisi terjadi, sehingga investor berbelanja saham-saham XYZ. Namun karena cuma rumor, peristiwa ini jelas tak akan mungkin terjadi sehingga akhirnya saham XYZ langsung ambrol dan bikin investor rugi.

3. Emiten Kapitalisasi Kecil

Selain harga yang begitu mudah naik turun secara tidak wajar, ciri lain dari saham-saham emiten yang layak disebut gorengan ini adalah punya kapitalisasi pasar kecil. Jika saham-saham blue chip punya kapitalisasi pasar lebih dari Rp10 triliun, saham middle cap di kisaran Rp500 miliar – Rp10 triliun, maka saham lapis ketiga ini kapitalisasi pasarnya di bawah Rp500 miliar.

Salah satu yang sempat bikin heboh adalah saham LUCK dari emiten PT Sentral Mitra Informatika Tbk yang disebut dalam kasus dugaan penipuan nasabah Jouska. Hingga Selasa (24/8) pagi, LUCK punya kapitalisasi pasar Rp144,58 miliar dan sudah pasti masuk saham lapis ketiga. Bandingkan dengan saham emiten blue chip seperti BCA yang kapitalisasi pasarnya menembus Rp826 triliun!

4. Saham Tak Likuid

Karakterisasi saham gorengan berikutnya yang cukup menonjol adalah saham-saham mereka tidak likuid alias jarang diperdagangkan di lantai bursa. Berbeda dengan sejumlah saham blue chip atau middle cap yang masih sering disebut, saham-saham lapis ketiga memang cenderung ’kurang menarik’ sehingga justru membuat oknum berniat ’menggorengnya’.

5. Perusahaan Bermasalah

Selain pergerakan harga saham yang sulit ditebak, perusahaan yang masuk kategori saham gorengan ini biasanya punya kinerja keuangan yang buruk. Bahkan pihak emiten sangat jarang memberikan informasi internal perusahaan. Lantaran pergerakan harganya tidak sesuai dengan aksi korporasi atau kinerja finansial, Anda tentu harus lebih waspada.

Kondisi ini pula yang membuat saham-saham kategori goregan ini cukup sulit dianalisa secara fundamental. Kenapa begitu? Karena rasio keuangan dan valuasi saham terlalu tinggi bahkan tak logis.

Untung Rugi Lakukan Investasi pada Saham Gorengan

Koleksi Gorengan
© eugene hoshiko/associated press

Kendati jika melihat ciri-cirinya bisa disimpulkan bahwa saham-saham lapis ketiga ini bisa bikin cemas, ternyata masih ada keuntungan yang bisa saja Anda raih. Namun tetap saja, sejumlah keuntungan ini juga seiring dengan berbagai potensi kerugian yang menghantui. Apa saja? Berikut beberapa di antaranya:

Beri Keuntungan Jangka Pendek

Sesuai dengan ciri-cirinya, saham gorengan punya pergerakan harga tak wajar dalam waktu singkat. Meskipun bikin cemas, kondisi ini membuat Anda berpeluang meraih untung dalam jangka pendek. Berbeda dengan saham-saham blue chip dan saham lapis kedua sekalipun, saham-saham lapis ketiga ini bisa naik harga dalam waktu sehari semalam saja, hingga hitungan menit.

Bahkan kenaikannya bisa sampai 20%, sesuatu yang saham blue chip saja tidak bisa melakukan. Tak hanya itu saja, kondisi saham lapis ketiga ini biasanya berbanding terbalik dengan pergerakan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan). Tak heran kalau saat IHSG lesu, masih banyak saham gorengan yang mendadak meroket. Untuk itu jika Anda ingin scalping trading alias meraih profit menitan, gorengan layak dipilih.

Harga Relatif Murah

Lantaran berasal dari perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi terkecil di lantai bursa, harga saham-saham lapis ketiga sudah pasti lebih murah daripada blue chip atau saham lapis kedua. Biasanya di kisaran Rp50 – Rp400 per lembar saham, meskipun ada juga yang harganya di atas itu. Sehingga modal yang dikeluarkan untuk ’bermain’ harga tidak terlalu mahal.

Baca Juga: Belajar Reinvestasi, Rahasia Orang Kaya Jadi Makin Tajir

Risiko Anjlok ke Titik Terendah

Dan inilah kerugian yang sudah pasti dimiliki saham gorengan yakni peluang anjlok ke titik terendah sangat besar. Semakin muram karena Anda akan sangat sulit melakukan prediksi baik secara fundamental atau teknikal, sehingga investor banyak yang belum siap lalu tiba-tiba harga sudah anjlok jadi Rp50 per lembar saham. Kondisi ini normal terjadi apalagi kalau spekulan sudah tidak tertarik lagi.

Tak Ada Perlindungan

Dalam kondisi harga yang bisa tiba-tiba anjlok, saham-saham lapis ketiga ini bisa saja langsung diacuhkan dan tak ada yang tertarik memperdagangkan. Kondisi ’saham tidur’ ini jelas membuat floating loss yang dialami investor makin besar. Berbeda dengan saham blue chip yang bisa kembali ke harga normalnya, saham-saham kategori gorengan bakal sulit melakukan karena sudah tidak ada yang mau.

Dari sisi investor ini jelas buruk karena jika sudah terlanjur beli, tak akan ada yang namanya perlindungan cut loss. Sehingga yang bisa dilakukan hanyalah melihat bagaimana dana investasi menguap begitu saja.

Alasan Kenapa Anda Tak Perlu Beli Saham Gorengan

Alasan Hindari Saham Gorengan
© getty images

Dengan penjabaran untung rugi di atas, apakah Anda masih tertarik membeli saham gorengan? Mungkin banyak di antara Anda yang masih berminat. Bahkan sekalipun risiko rugi lebih besar dibandingkan keuntungan, banyak investor dan juga trader yang tertarik. Anda juga demikian? Ada baiknya menyusun strategi trading yang tepat terlebih dulu.

Namun menurut blogger Irfan yang sering mengunggah konten dunia sekuritas, dirinya justru memaparkan beberapa alasan kenapa Anda harus menghindari saham gorengan. Berikut beberapa penjelasannya:

  • Memiliki saham-saham kategori gorengan membuat kesehatan terganggu karena investor atau trader akan sering merasa cemas dan stres akibat fluktuasi harga yang tidak normal. Terutama jika Anda terlanjur beli banyak
  • Dengan pola high risk, high return, salah langkah dalam saham kelas tiga artinya adalah rugi besar dan uang tidak akan kembali
  • Jika Anda adalah seorang Muslim, saham gorengan jelas melanggar syariat Islam karena dilakukan secara gambling atau judi

Bagaimana? Masih mau tertarik berburu saham gorengan hanya karena terbujuk rayu keuntungan besar? Ada baiknya Anda berpikir lebih bijaksana dan mempelajari dunia saham secara lebih mendalam, supaya bisa sukses baik sebagai investor atau trader di lantai bursa.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar