Beli Saham Akhir Tahun? Yuk Kenali Window Dressing

Tidak terasa tahun 2021 tinggal menyisakan satu pekan lagi. Tentu sudah banyak yang terjadi dalam setahun terakhir, terutama dalam hal ekonomi. Hantaman terbesar pada tahun 2021 ini jelas ketika pandemi Covid-19 menggila di pertengahan tahun. Kini dengan semakin gencarnya vaksinasi di seluruh pelosok Indonesia, membuat para investor mulai melirik peluang saham akhir tahun.

Bukan tanpa alasan kenapa belanja saham akhir tahun menjadi salah satu pertimbangan investor, karena memang banyak pelaku pasar modal yang semakin optimis dengan pemulihan ekonomi Indonesia. Memang saat ini dunia tengah dihantui varian baru Covid-19 yakni Omicron yang membuat kasus di sejumlah negara meningkat drastis, tampaknya optimisme di lantai BEI (Bursa Efek Indonesia) juga tetap terasa.

Pelaku pasar baik investor, trader hingga fund manager dan broker tetap yakin kalau aktivitas ekonomi di kuartal keempat mulai pulih. Fundamental perekonomian negeri terlihat lebih positif seperti nilai tukar Rupiah yang relatif kuat, imbal hasil obligasi cukup stabil hingga perilisan data-data ekonomi makro. Optimisme itu pula yang sempat diungkapkan Andrian Tanuwijaya selaku portfolio manager equity PT Manulafie Aset Manajemen Indonesia.

Kepada Kompas, Andrian kala itu menyebutkan jika kebijakan pelonggaran aktivitas memang menjadi salah satu katalis kinerja positif pasar saham. Sementara untuk IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) pada penutupan sehari jelang Natal kemarin, tercatat meningkat 7,35 poin (0,11%) ke level 6.562,90 pada hari Jumat (24/12) sore. Bakal seperti apa pergerakan IHSG di pekan terakhir tahun 2021? Patut dinantikan.

Baca juga: Ternyata Millenial Bisa Punya Rumah Sendiri, Ini Caranya!

Kenalan dengan Window Dressing

Kenalan Dengan Window Dressing
© rivan awal lingga/antara

Bicara soal kinerja saham akhir tahun seperti saat ini, pasar modal biasanya juga mulai bergejolak bahkan bisa dibilang saling ‘bersolek’. Ya, para pelaku pasar terutama emiten dan fund manager seolah berlomba-lomba ‘memoles diri’ supaya dapat menarik perhatian investor dan juga trader. Fenomena yang kerap terjadi di akhir tahun ini dalam dunia saham sering disebut sebagai window dressing.

Memang, apa sih window dressing itu?

Menurut Desmond Wira seorang trader profesional. window dressing sebetulnya adalah kondisi di mana harga-harga saham mendadak menguat di lantai bursa, yang mana kerap terjadi jelang akhir tahun atau di setiap akhir kuartal tahun ekonomi berjalan. Alasan kenapa window dressing lebih sering terjadi jelang akhir tahun adalah karena para fund manager memang berniat membuat kinerja portfolio mereka semakin cemerlang.

Hal inilah yang membuat imbas dari window dressing juga berkepanjangan hingga usai Tahun Baru yang kerap disebut sebagai January Effect. Desmond menambahkan bahwa kebiasaan self-fulfilling prophecy juga menjadi salah satu faktor terbesar yang memicu window dressing saat pergantian tahun. Bahkan dari data BEI sepanjang tahun 1995-2020, 93% pergantian tahun selalu dihiasi dengan menguatnya nilai IHSG.

Tercatat selama 26 tahun periode itu, hanya dua kali IHSG tidak menguat di sepanjang bulan Desember yakni pada tahun 1997 dan 2000 saja. Di mana untuk peningkatan nilai IHSG sendiri memang cenderung variatif yakni mulai 0,12% sampai 14%, seperti dilansir Jurus Cuan. Bahkan di saat pandemi Covid-19 tahun pertama kemarin, IHSG pada pergantian tahun 2020 ke 2021 mengalami peningkatan hingga enam persen, lebih baik daripada 2019 sekitar 5% saja.

Baca juga: 10 Investasi Return Terbaik Bagi Anda di Tahun 2022

Tips Belanja Saham Akhir Tahun

Tips Window Dressing
via bursaku

Berangkat dari fakta bahwa momen window dressing dianggap sangat menjanjikan untuk belanja saham akhir tahun, tak sedikit investor dan trader yang ingin memanfaatkannya. Namun tetap, lantai bursa jelas bukanlah tempat untuk beradu hoki. Anda tetap harus bisa berpikir logis sebelum menggelontorkan uang dalam jumlah besar demi membeli saham jelang pergantian tahun 2021 ke 2022 yang tinggal hitungan hari ini.

Karena memang pada dasarnya saat window dressing terjadi, keuntungan yang diperoleh hanyalah jangka pendek. Anda pun tak disarankan membeli saham sembarangan tanpa memperhitungkan analisa fundamental dari emiten. Namun kalau Anda memang tetap ingin melakukan pembelanjaan saham akhir tahun, beberapa tips berikut ini bisa untuk dipertimbangkan terlebih dulu:

1. Beli Blue Chip

Tips pertama sekaligus paling dasar bagi Anda yang tetap ingin belanja saham akhir tahun adalah memastikan saham-saham itu keluaran emiten blue chip. Bagi Anda yang sudah terbiasa dengan pasar saham, emiten blue chip jelas bukan hal asing dan justru jadi buruan. Disebut blue chip ini adalah saham-saham penting yang jadi pendorong utama dalam indeks bursa saham, dalam hal ini BEI.

Lantaran merupakan pendorong utama IHSG, sudah pasti seluruh saham-saham blue chip berasal dari emiten dengan kinerja perusahaan yang positif. Ciri khas utama saham blue chip ini biasanya emiten memiliki kapitalisasi pasar yang sangat besar hingga Rp10 triliun. Saham-saham big cap ini cenderung tidak mudah terkoreksi dan jika memang melemah, penurunannya tidak drastis dan justru bisa balik menguat dalam kondisi ekonomi buruk.

Di BEI sendiri, saham-saham blue chip biasanya dapat Anda temukan dalam Indeks LQ45 yang terdiri dari 45 emiten. Untuk periode 29 September 2021 sampai Januari 2022 nanti, beberapa emiten seperti ADRO (PT Adaro Energy), ANTM (PT Aneka Tambang), ASII (PT Astra International), BBCA (Bank BCA), BBRI (Bank BRI), BMRI (Bank Mandiri), ICBP (PT Indofood CBP Sukses Makmur), GGRM (PT Gudang Garam) adalah emiten blue chip.

2. Tetap Analisa Fundamental dan Teknikal

Meskipun memang saham akhir tahun yang bisa dipertimbangkan untuk dibeli demi memanfaatkan momen window dressing berasal dari big cap, Anda tetap harus melakukan analisa fundamental dan teknikal terhadap emiten tersebut. Jangan malas untuk membaca laporan keuangan perusahaan hingga pergerakan sahamnya, dalam kurun waktu tertentu. Kedua analisa ini penting agar Anda bisa melihat pola sahamnya di tahun-tahun sebelumnya.

Baca juga: 10 Cara Beli Saham Online Untuk Investasi Pemula Biar Cuan di 2022!

3. Sesuaikan dengan Dana Investasi

Sedangkan untuk hal terakhir yang jadi tips jika memang Anda ingin berbelanja saham di penghujung 2021 ini adalah tetap sesuaikan dengan dana investasi. Ingat, Anda harus tahu bahwa imbal hasil saat window dressing adalah jangka pendek dan tidak terlalu besar. Untuk itu jangan gunakan seluruh dana investasi yang dimiliki, karena ada baiknya bertahan hingga gejolak lantai bursa lebih tenang.

Saham-Saham Akhir Tahun yang Diprediksi Cuan

Rekomendasi Blue Chip Di Bei
via gandeng tangan

Nah, jika Anda sudah memahami beberapa tips pembelian saham akhir tahun jelang window dressing, ada baiknya juga melakukan pertimbangan mengenai emiten mana saja yang layak dipilih. Sudah ada banyak broker-broker di Indonesai yang memberikan rekomendasi saham bagi investor dan trader agar dibeli jelang akhir tahun. Salah satunya adalah Frankie Wijoyo Prasetio selaku Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan kepada Kontan.

Tak hanya Frankie, M. Al Fatih selaku VP Samuel Sekuritas kepada CNBC Indonesia juga memberikan rekomendasi saham-saham yang bisa Anda lirik untuk dikoleksi di hari-hari akhir tahun 2022. Apa saja? Berikut beberapa di antaranya:

1. ASRI – PT Alam Sutera Realty

Emiten yang bergerak di bidang property developer ini sudah berdiri sejak 3 November 1993. Saat dibangun oleh Harjanto Tirtohadiguno dan keluarganya, Alam Sutera memiliki nama PT Adhihutama Manunggal sebelum berganti pada tahun 2007 lalu. Mempunyai kapitalisasi pasar Rp3,22 triliun, ASRI bergerak positif selama sepekan terakhir dengan tercatat ada di level 164 alias menguat 1,23% (2 poin) pada hari Senin (27/12) siang.

2. BBCA – PT Bank Central Asia

Mempunyai kapitalisasi pasar Rp890,91 triliun, BBCA memang menjadi salah satu ‘monster’ di lantai BEI yang diburu tak hanya investor lokal, tapi juga asing. Bahkan meskipun dalam sepekan terakhir ini kinerjanya negatif yakni terkoreksi 0,34% (25 poin) ke level 7.300 pada Senin (27/12), BBCA tetap jadi buruan sepanjang masa. Apalagi pergerakan tertingginya pada setahun terakhir terjadi pada 14 Oktober lalu di level 7.750.

3. BBRI – PT Bank Rakyat Indonesia

Jika BBCA merupakan emiten perbankan milik asing, BBRI adalag sang pesaing kuat yang juga dimiliki pemerintah. Emiten plat merah ini dilaporkan punya kapitalisasi pasar jumbo pula yakni Rp609,18 triliun. Hanya saja sama seperti BBCA, kinerja BBRI sepekan terakhir memang tak terlalu bagus yakni melemah 0,98% (40 poin) ke level 4.060 pada Senin (27/12) siang. Selama setahun terakhir, BBRI memang punya pencapaian di zona hijau dengan titik tertingginya pada 19 Januari di level 4.491.

4. TLKM – PT Telkom Indonesia

Emiten milik pemerintah yang juga menjadi salah satu saham akhir tahun layak dibeli adalah TLKM. Sebagai big cap, TLKM punya total kapitalisasi pasar sebesar Rp406,16 triliun. Dalam sebulan terakhir, kinerja TLKM memang tak begitu baik bahkan melemah 0,97% (40 poin) ke level 4.100 pada hari Senin (27/12) siang. Namun tetap saja mleihat kinerjanya enam hingga 12 bulan terakhir, TLKM tetap cemerlang meskipun sempat terpuruk ke level 3.010 pada Juli.

Baca juga: 5 Tabungan Haji Terbaik untuk Persiapan ke Tanah Suci

5. ASII – PT Astra International

Memiliki kapitalisasi pasar Rp228,73 triliun, perusahaan yang konon sudah dibentuk sejak tahun 1957 ini memang termasuk salah satu blue chip yang layak dipilih. Tak usah cemas kinerjanya melemah 0,44% (25 poin) ke level 5.650 pada Senin (27/12) siang ini, karena dalam enam bulan terakhir, ASII justru ada di zona hijau. Di mana posisi tertingginya sudah terjadi pada 19 Oktober lalu di level 6.350.

6. PTBA – PT Bukit Asam

Merupakan salah satu emiten saham akhir tahun yang disarankan oleh Hendriko Gani selaku analis Sucor Sekuritas untuk dipertimbangkan dibeli, PTBA jadi salah satu emiten batubara yang sangat atraktif. Apalagi jelang akhir tahun, permintaan ekspor batubara sangat tinggi. Dengan kapitalisasi pasar Rp31,11 triliun, PTBA dilaporkan melemah 0,37% (10 poin) ke level 2.700 pada hari Senin (27/12) siang. Namun selama enam bulan terakhir, PTBA cukup baik.

7. LSIP – PT Perusahaan Perkebunan London Sumatera Indonesia

Dikenal sebagai lonsum, emiten yang satu ini memang melemah 0,83% (10 poin) dalam kurun waktu lima hari terakhir ke level 1.195 pada Senin (27/12). Namun dengan kapitalisasi pasar Rp8,15 triliun, LSIP bisa jadi pertimbangan menjanjikan. Apalagi menurut Hendriko, saham-saham komoditas selain batubara yang diprediksi berkilau pula adalah penghasiln CPO (Crude Palm Oil) seperti Lonsum.

Bagaimana? Ternyata sangat menarik kan membahas deretan saham akhir tahun yang cukup menjanjikan? Anda tentu bisa mempertimbangkan salah satu di antaranya untuk dibeli atau bahkan dijual jika sudah memilikinya dalam koleksi portfolio. Dengan pemahaman atas kondisi window dressing dan penerapan tips secara tepat, Anda pun dapat meraih cuan maksimal di pergantian tahun 2021 ke 2022 ini. Selamat Tahun Baru!

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar