Suku Bunga The Fed Melambat, Rupiah Merosot Lagi!

Amerika tak ingin gegabah untuk pengetatan anggaran yang berdampak pada suku bunga the Fed melambat, rupiah merosot lagi!

Sepanjang pekan lalu, rupiah merosot 1,3% melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada level Rp 15.630/US$ yang merupakan yang terlemah sejak April 2020.

Pelemahan ini juga merupakan rentetan selama 6 pekan beruntun. Secara menyeluruh dari awal 2022, penurunan rupiah terhadap dolar Amerika mencapai 9%.

Pada perdagangan Senin 24 Oktober 2022, rupiah berpeluang menguat melihat indeks dolar AS yang merosot 0,77% ke 112,012 pada perdagangan Jum’at 21 Oktober 2022.

Merosotnya kekuatan dolar AS terjadi setelah Wall Street Journal (WSJ) melaporkan beberapa pejabat The Fed mulai mengisyaratkan keinginan mereka untuk memperlambat laju kenaikan segera.

Daniel Gahli, ahli strategi komoditas di TD Securities, mengatakan bahwa Wall Street Journal menyebutkan para pelaku pasar sedang mempertimbangkan laju kenaikan suku bunga.

Mary Daly, Presiden The Fed San Francisco, mengatakan bahwa jangan sampai The Fed menempatkan ekonomi AS ke dalam “penurunan paksa” dengan pengetatan anggaran yang berlebihan.

Sebuah keharusan bagi The Fed untuk menghentikan laju kenaikan suku bunga atau perekonomian AS akan goyah.

Melambatnya kenaikan suku bunga The Fed bukan berarti sebuah kabar baik bagi rupiah. Justru ada risiko besar kembali tertekan.

Kabar dari bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) akan mengumumkan kebijakan terkait kenaikan suku bunga bunga sebesar 75 basis poin menjadi 2%.

Kenaikan yang agresif ini menjadi hantu kedua bagi rupiah, dan hantu ketiga adalah kabar PDB dari China yang kabarnya sedang diliputi kegelapan.

Setelah menunda peluncuran data pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) China sejak pekan lalu, kini Biro Statistik Nasional China (NBS) siap memberikan pengumuman penting.

Menurut Cheung, kepala analis valuta asing di Mizuho Bank, penundaan rilis PDB akan menyebabkan ketidakpastian dan kehati-hatian investor, sebab tidak ada penjelasan terkait penundaan tersebut.

Dalam perkiraan Cheung, perekonomian China diperkirakan akan mencatat kinerja terburuk dalam hampir 5 dekade terakhir. Hal ini disebabkan oleh faktor dari dalam dan luar negeri.

Reuters pernah melakukan survey pada tahun 2022 mengenai ekonomi China, hasilnya pertumbuhannya berada pada 3,2% di 2022, jauh di bawah target pemerintah 5,5%.

PDB China merupakan yang terendah sejak 1976 pada situasi normal, dengan mengabaikan PDB pada masa 2 tahun pandemi 2019 – 2021.

China merupakan mitra dagang strategis Indonesia dalam 10 tahun ini, pelambatan ekonomi China bisa berdampak buruk bagi Indonesia.

Selain China, Amerika Serikat juga akan merilis data PDB kuartal II-2022 yang menurut hasil survei Reuters menunjukkan PDB Amerika tumbuh 2,1%.

Secara teknis Amerika bisa terhindar dari resesi namun tidak serta merta pasar akan menyambut baik hal tersebut, sebab ada risiko Negeri Paman Sam akan mengalami double dip recession.

Wall Street Journal baru saja merilis hasil survey terhadap para ekonom yang menunjukkan sebanyak 63% memprediksi Amerika Serikat akan mengalami resesi 12 bulan ke depan.

Double dip recession bukanlah ancaman pertama kali untuk AS, negara ini sudah pernah mengalaminya pada 1980an.

Resesi pertama terjadi pada kuartal I sampai III-1980, kemudian resesi kedua pada kuartal III-1981 hingga kuartal IV-1982.

Baca juga: 5 Investasi Tepat Dikala Suku Bunga Naik

Ancaman Rupiah Merosot Lagi!

Rupiah yang disimbolkan USD/IDR terus tertekan sejak menembus rata-rata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA50).

MA 50 memiliki resisten yang kuat, sehingga tekanan pelemahan akan lebih besar ketika rupiah menembusnya.

Rupiah kini sudah berada di atas Rp 15.450/US$ dengan skala Fibonacci Retracement sebesar 38,2%.

Level ini bisa menjadi ‘gerbang keterpurukan’ bagi rupiah, selama tertahan pada angka tersebut.

Angka 38,2% tersebut ditarik dari titik terendah 24 Januari 2020 di Rp 13.565/US$ dan tertinggi 23 Maret 2020 di Rp 16.620/US$.

Suku Bunga The Fed Melambat, Rupiah Merosot Lagi!

Selama tertahan di atas angka tersebut, rupiah berisiko terpuruk semakin jauh. Diperkirakan bisa menuju Rp 16.000/US$ atau setidaknya Rp 15.900/US$.

Jika pekan ini rupiah bisa menembus level psikologis Rp 15.650/US$ ada risiko untuk menuju Rp 15.700/US$ hingga Rp 15.750/US$.

Sementara itu grafik indikator Stochastic yang merupakan leading indikator pergerakan harga berada pada wilayah jenuh beli (overbought).

Jika grafik Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Support paling memungkinkan bagi rupiah berada di Rp 15.550/US$. Jika mampu ditembus, maka rupiah berpeluang menguat menuju Rp 15.500/US$ sebelum berakhir pada Rp 15.400/US$

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar