Menteri Keuangan Sri Mulyani Beberkan Alasan Mengapa Kita Harus Optimis Hadapi Resesi

Ketika badai gelap resesi mengancam Indonesia, Menteri Keuangan Sri Mulyani beberkan alasan mengapa kita harus optimis hadapi resesi.

Beliau mengajukan dua sikap yang harus berjalan beriringan, melunak dengan mengajak tetap optimistis meski harus tetap waspada untuk mengantisipasi risiko eskalasi ketidakpastian global saat ini.

Sistem keuangan Indonesia pada Q3 2022 tetap berada dalam kondisi yang stabil dan resilien, ini membuat kita tetap optimis namun juga waspada di tengah ketidakpastian.

Beragam respons kebijakan sedang disiapkan oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sebagai komitmen untuk terus memperkuat koordinasi dalam mewaspadai perkembangan risiko global.

Risiko global saat ini sedikit banyak dipengaruhi situasi ekonomi yang melambat di sejumlah negara maju terutama Amerika Serikat, Eropa, dan China.

Pada sisi lain, Sri Mulyani memandang pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup baik karena ditopang oleh konsumsi swasta yang masih tetap kuat di tengah kenaikan inflasi, peningkatan investasi nonbangunan, serta kinerja ekspor yang masih terjaga.

Capaian Positif Perekonomian Indonesia

Setidaknya ada beberapa capaian perekonomian Indonesia hingga saat ini yang dinilai masih positif.

Menurut catatan Kementerian Keuangan, berikut capaian perkembangan perekonomian Indonesia:

1. Ekonomi Indonesia semakin pulih dengan cepat, mengacu pada persentase pertumbuhan ekonomi Triwulan I senilai 5,01% kemudian naik di Triwulan Il senilai 5,44%.

2. Pertumbuhan ekspansif sektor strategis seperti manufaktur dan perdagangan. Hal ini ditunjukkan dengan indeks pertumbuhan di angka 50, sedangkan PMI Manufacturing Indonesia berada di level 51,8.

Pertumbuhan juga ditunjukkan oleh data Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 5,5% (yoy) pada September 2022, sedangkan persepsi konsumen melalui Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menunjukkan persepsi yang bagus pada level 117,2.

3. Meningkatnya aktifitas konsumsi pada berbagai sektor, peningkatan ekspor, surplusnya neraca perdagangan, dan tumbuhnya investasi.

Ada surplus sebesar USD 4,99 pada neraca perdagangan September 2022, surplus ini berasal dari tingginya surplus non-migas, peningkatan ekspor non-migas, serta pengaruh dari meningkatnya ekspor komoditas khususnya batu bara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO).

4. Laju inflasi yang jauh lebih moderat jika dibandingkan dengan negara lain, peran APBN sebagai shock absorber berjalan cukup mulus.

Beberapa catatan positif year on year yaitu pada Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Oktober 2022 sebesar 5,71%, sementara Inflasi volatile food turun menjadi 7,19%.

Kinerja neraca perdagangan yang membukukan surplus US$ 14,9 miliar berfungsi sebagai stabilizer pada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Q3 2022.

5. APBN menunjukkan Kinerja yang positif dari sisi fiskal, hingga bulan September 2022 surplus anggaran mencapai Rp 60,9 triliun (0,33% PDB) dan Keseimbangan Primer surplus Rp 339,4 triliun.

Seluruh capaian ini seharusnya membuat masyarakat tetap optimis namun juga waspada di tengah ketidakpastian saat ini.

Sikap Sri Mulyani bertujuan untuk membangun rasa optimis di tengah gencarnya peringatan badai gelap, yang justru malah akan membuat orang menahan aktifitas konsumsi dan membuat resesi benar-benar terjadi.

Beberapa orang seperti influencer ekonomi terkadang memberikan cerita yang berlebihan dan malah akan mendorong resesi benar-benar terjadi.

Oleh karena itu, salah satu fungsi pemerintah adalah untuk menginjeksikan rasa optimis pada masyarakat.

Baca juga: Bukan Emas, Yuk Intip Peluang Investasi Berlian si Batu Mulia

Optimisme yang dibarengi dengan sikap waspada adalah sebaik-baik cara untuk bersikap, tentu dengan selalu memperbaharui informasi terkait ekonomi dalam dan luar negeri.

Mewaspadai Ketidakpastian Global

Sikap waspada juga harus kita rawat, salah satunya dengan memahami risiko yang bisa ditimbulkan ketidakpastian global, diantaranya:

1. Ancaman inflasi masih tinggi, berpotensi memicu stagflasi. Kenaikan inflasi yang tinggi akan meningkatkan suku bunga bank sentral, kemudian direspons dengan meningkatnya suku bungaaneka produk pinjaman.

2. Laju pertumbuhan ekonomi domestik dipengaruhi perlambatan ekonomi global.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Beberkan Alasan Mengapa Kita Harus Optimis Hadapi Resesi

Keterlibatan Indonesia yang cukup aktif dalam perekonomian global tentunya akan berpengaruh terhadap perekonomian domestik.

Hal ini bisa diantisipasi dengan upaya yang mengarah pada kemandirian ekonomi.

3. Gangguan suplai produk impor akibat perang Rusia-Ukraina membuat harga komoditas menjadi lebih tinggi, tentu hal ini berpengaruh pada kenaikan biaya impor Indonesia.

4. Agresifnya pengetatan kebijakan moneter yang berdampak pada tekanan terhadap nilai tukar.

5. Harga komoditas yang berpotensi untuk mengalami moderasi.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar