7 Langkah Berani Supaya Keuangan Sehat Kembali

Hidup memang tidak bisa selalu berjalan sesuai keinginan kita. Banyak orang yang merasa kok tiba-tiba financial life nya jadi tidak membahagiakan bahkan menjadi beban yang tidak tertanggungkan? Usut punya usut, terkadang ini adalah akibat dari kebiasaan buruk kita dalam keuangan yang tidak tersadari.

Alih-alih memperbaiki, banyak orang hanya sekedar mengeluh dan semakin memperkeruh masalah. Ini terjadi karena kita tidak sadar apa yang harus di lakukan dengan kondisi keuangan sendiri yang sudah terlanjur seperti benang kusut.

Belajar dari sana kita jadi tahu, betapa pentingnya planning dan habit dalam keuangan kita selama ini. Karena red flag akibat kondisi keuangan yang tidak sehat tidak bisa terhindarkan lagi. Kini saatnya kita berbenah dan memperbaiki kondisi keuangan yang sedang tidak sehat. Apa saja langkah berani yang bisa kita lakukan supaya keuangan kita sehat kembali?

1. Lakukan Financial Checking

Sumber gambar : pixabay.com/ mohamed_hassan

Langkah berani yang perlu dilakukan saat keuangan kita sedang tidak sehat adalah melakukan financial checking. Ini adalah langkah pertama untuk lebih objektif melihat bagaimana sebenarnya kondisi keuangan kita. Terkadang, karena ego pribadi kita berusaha menutup-nutupinya. Nah sekarang sikap tersebut sudah tidak ada gunanya lagi.

Bagaimana cara melakukan financial checking? Cob Jawab pertanyaan dibawah ini!

  • Check, apakah Anda sudah punya pendapatan tetap yang mampu meng-cover kebutuhan sehari-hari? Minimal yang pokoknya saja dulu.
  • Atau apakah Anda masih harus ‘terpaksa puasa’ di akhir bulan atau bahkan pertengahan bulan?
  • Apakah Anda tidak punya catatan keuangan pribadi dan tidak tahu larinya uang Anda sendiri?
  • Bagaimana dengan dana darurat? Sudah memiliki dengan jumlah yang ideal sesuai konteks Anda?

Jika kebanyakan jawabannya tidak atau belum, maka wajar jika red flag Anda berkibar. Tidak perlu di tutup-tutupi, Anda sudah melakukan langkah berani dengan melakukan pengecekan dan mengakui bahwa keuangan Anda dalam keadaan tidak baik-baik saja.

2. Kenali dan Akui Sumber Kebocoran

Selanjutnya coba telusuri dimana saja kira-kira sumber ‘kebocoran’ terjadi. Biasanya ada kebocoran halus yang tidak disadari dalam kegiatan spending. Misalnya saja jajan-jajan di aplikasi pesan antar, belanja-belanja perintilan secara online, subscribe aplikasi-aplikasi yang bisa di gantikan dengan yang lain, langganan layanan tertentu yang tidak terlalu prioritas dll.

Nah bagaimana caranya?

Sediakan alat tulis dan mulai catat apa saja ‘kebutuhan’ Anda yang selama ini di bayarkan selain kebutuhan pokok. Kebutuhan pokok yang di maksud adalah kebutuhan harus di penuhi untuk bertahan hidup. Sehingga kebutuhan non pokok itu adalah kebutuhan yang jika tidak di penuhi maka Anda masih bisa hidup dengan cukup baik. Tuliskan semua, jangan sampai ada yang terlewat satupun!

3. Eliminasi Berbagai Pengeluaran yang Tidak Perlu

Sumber gambar : pixabay.com/ mohamed_hassan

Sekarang Anda sudah punya daftar pengeluaran di luar kebutuhan pokok yang berbayar. Nah sekarang kita hanya perlu mengeleminasinya saja. Tenang, bukan berarti semua list yang Anda punya itu tidak penting. Tapi mungkin bisa di cari alternatif yang lebih ‘murah’ atau bahkan gratisan kalau kita tahu mana yang lebih prioritas.

Bagaimana cara mengeleminasinya? Kita butuh standart bukan?

Secara prinsip, ada 2 hal yang bisa menjadi landasan dalam mengeliminasi yakni :

  • Membandingkan menggunakan titik ekstrim, jika tidak ada A apakah bisa bertahan dibanding memilih B?
  • Mengeliminasi karena sudah tercover lewat kebutuhan lain yang bisa di pilih

Coba eliminasi sekitar 25% dari semua list yang ada dengan menggunakan 2 prinsip diatas. Kemudian eliminasi lagi dengan prinsip yang sama hingga tersisa 3 sampai 5 kebutuhan non-primer. Biasanya itulah yang sebenarnya lebih dibutuhkan ketimbang yang lainnya.

Sebagai ilustrasi, berikut adalah gambaran kebutuhan non-pokok bulanan :

NoKebutuhan Non-PokokPrioritas
1Subscribe Netflix7
2Latihan Muay Thai1
3Beli Kopi di Gerai6
4Jajan-jajan dan makan di luar4
5Beli pelatihan bahasa5
6Beli kebutuhan media dan pelatihan nulis2
7Beli webinar / pelatihan mental health3
8Trip ke tempat-tempat asyik10
9Subscribe pelatihan meditasi8
10Beli buku9

Pertama-tama, saya membandingkan kebutuhan subscribe Netflix dengan Latihan MuayThai.

Apakah saya bisa hidup lebih baik jika subscribe Netflix tanpa Muaythai? Jawabannya, tidak. Maka saya pilih Muay Thai, kini Muay Thai naik ke nomor 1. Selanjutnya saya bandingkan Muay Thai dengan Beli kopi di gerai, jawabannya masih menang Muay Thai dan seterusnya sampai menemukan urutan prioritas.

Memang tidak mudah untuk memilih, tapi hal ini harus Anda lakukan. Oleh karena itu, mengenal diri sendiri menjadi poin yang sangat penting. Misalnya olahraga merupakan salah satu prioritas yang terpenting dalam hidup Anda saat ini. Memang betul bahwa ada alternatif olahraga yang lebih murah bahkan tanpa mengeluarkan uang seperpun.

Namun jika Anda memang orang yang sangat sulit untuk konsisten berolahraga, dan memerlukan sistem untuk membantu sampai kebiasaan berolahraga itu muncul. Maka tidak ada salahnya untuk memprioritaskan sarana olah raga yang menunjang meskipun itu berbayar.

4. Memilih Menjadi Smart Spender

Sesuatu yang di dasari karena kehendak diri sendiri adalah kunci yang membuat Anda bisa lebih berkomitmen.

Setelah Anda melakukan eliminasi terhadap kebutuhan non-pokok yang berbayar tiap bulannya, sekarang saatnya memilih menjadi smart spender. Yakni menjadi pembeli yang lebih sadar saat melakukan transaksi. Sadar dengan prioritas dan kemampuan diri dalam membeli.

Salah satu ciri dari smart spender adalah memiliki budget bulanan yang di sesuaikan dengan kemampuan. Ingat, bukannya tidak boleh membahagiakan diri sendiri ya. Hanya saja kita melakukannya secara cerdas karena sadar dengan keterbatasan yang dimiliki. Dengan begitu, kita bisa hidup dengan bahagia dalam ketidaksempurnaan yang ada.

Sekarang coba jawab pertanyaan ini :

  • Berapa budget bulanan untuk kebutuhan pokok dan non-pokok?
  • Sektor apa yang paling prioritas dalam hidup Anda saat ini? (Karir, kesehatan fisik, mental, kebutuhan keluarga dll)
  • Jika ada penawaran diskon apa yang menentukan Anda sebaiknya membeli atau tidak?

Jika sudah bisa menjawabnya, maka ini menjadi pertanda yang bagus. Anda bisa memiliki filter untuk menghalau suara-suara dari luar yang bisa membuat Anda terombang-ambing dan bingung menentukan arah pembelian.

Oh ya, mempunyai catatan pengeluaran harian juga bisa membantu kita melacak dan mengontrol pengeluaran. Misalnya Anda punya budget ngopi di luar 6 kali, makan di luar 3 kali, jajan lewat pesan antar 8x dalam sebulan. Dengan pencatatan keuangan, Anda tidak perlu repot mengingat berapa kali Anda sudah menghabiskan budget untuk masing-masing kebutuhan.

Atau jika Anda tidak mau mencatat, Anda bisa memanfaatkan fitur e-wallet/ digital bank yang bisa di gunakan untuk budgeting. Sehingga setiap pengeluaran yang Anda lakukan untuk kebutuhan tertentu bisa di potong dari saldo yang Anda siapkan.

Ini merupakan soal yang lebih krusial di banding mencari income, karena income bisa di usahakan sesuai dengan target yang Anda mau. Setelah selesai dengan urusan internal, sekarang kita beralih ke masalah income.

5. Buat Planning yang Spesifik Soal Income

Sumber gambar : pixabay.com/ mohamed_hassan

Income atau pemasukan adalah PR bagi rata-rata orang. Rasanya tidak ada yang ingin incomenya segitu-gitu aja. Semua orang pasti ingin incomenya meningkat meskipun bukan pegawai kantoran.

Kabar baiknya, ternyata income itu tidak di tentukan dari jenis pekerjaan kok. Apapun bidang yang Anda pilih, Anda tetap bisa meningkatkan income. Tapi kabar buruknya, peningkatan income ini harus di iringi effort yang sepadan juga. Oleh karena itu, kita perlu sadar bagaimana caranya.

Secara umum, kita bisa meningkatkan income dengan 2 cara yakni melalui jalur utama karir kita dan juga side hustle (sampingan). Jadi akan lebih enak menentukan apa saja dan berapa porsi energi serta waktu yang kita berikan jika kita sudah tahu di bidang apa kita akan berkarir.

Sebagai pertimbangan saja, peningkatan income dari karir mungkin sifatnya lebih jangka panjang namun hasilnya bisa fantastis. Sementara income dari sampingan bisa lebih cepat. Nah sekarang giliran Anda membuat rencana-rencana soal income. Ini tugasnya :

  • Buat rencana untuk meningkatkan skill dan networking di jalur utama karir Anda
  • Buat daftar side hustle yang memungkinkan untuk di lakukan
  • Berilah porsi waktu dan energi untuk masing-masing pekerjaan

6. Bernegosiasi Untuk Kenaikan Gaji

Poin ini sebenarnya masih bicara soal income, khususnya jika Anda adalah seorang karyawan. Jika Anda merupakan seorang karyawan dan sudah lebih dari 2 tahun berkarir di perusahaan, tidak ada salahnya untuk bernegosiasi untuk kenaikan gaji.

Tentu pengajuan ini tidak bisa di lakukan tanpa persiapan. Anda perlu menyadari betul alasan mengapa Anda layak mendapatkan kenaikan gaji, dan apa dampaknya bagi perusahaan. Selanjutnya jika Anda tipe orang yang suka gerogi membicarakan gaji, latihlah diri Anda untuk mengkomunikasikannya. Anda juga bisa mencari referensi di Youtube jika di perlukan.

7. Hayati Lagi dan Pilih Tujuan Keuangan yang Pas

Sumber gambar : pixabay.com/ QuinceCreative

Dalam pengelolaan keuangan pribadi, tujuan keuangan adalah faktor yang sangat penting. Tujuan keuangan bagaikan kompas dasar dalam menentukan pilihan transaksi serta cara mendapatkan income.

Tujuan keuangan sifatnya sangat personal sesuai dengan konteks spesifik masing-masing orang. Oleh karena itu, bisa jadi tujuan keuangan kita, bahkan dengan sahabat kita sendiri juga berbeda. Yang terpenting dalam menentukannya adalah kita benar-benar tahu alasan mengapa memilih tujuan tersebut.

Pastikan bahwa tujuan tersebut bukanlah ‘tujuan milik orang lain’ tapi merupakan tujuan kita sendiri. Artinya, tujuan tersebut adalah sesuatu yang mengantarkan kita pada kebahagiaan yang bisa kita rasakan. Bukan kebahagiaan ‘kata orang’. Selain tahu alasan kita juga perlu punya ukuran, berapa sih spesifiknya yang kita butuhkan. Dengan begitu investasi yang kita lakukan juga jelas, baik menentukan instrumen investasi dan juga dalam mengelolanya.

Oh ya terakhir, jika Anda masih memiliki tanggungan hutang banyak para financial planning yang menyarankan untuk menjadikannya prioritas untuk di lunasi. Bukan sembarang melunasi, tapi ini juga perlu di lakukan dengan cerdas supaya tetap seimbang. Nah tipsnya bisa Anda simak dengan membaca artikel berikut :

Baca yang ini,

Penutup

Itulah beberapa langkah berani untuk membuat keuangan Anda yang sedang sakit bisa sehat kembali. Bukan hanya sekedar teori, tapi langkah diatas bisa di praktikan langsung sekarang juga!

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kondisi keuangan, selama kita di beri umur dan kesadaran. Yuk mulai peduli dengan kesehatan keuangan pribadi dan tidak hanya fokus membandingkan diri dengan lain. Sama seperti fisik dan mental, keuangan yang sejahtera berasal dari kesehatan keuangan kita sendiri.

Bagikan ;

Tinggalkan komentar