Konfllik Rusia – Ukraina, Mata Uang Kripto Jadi Aset Safe Haven?

Pekan-pekan terakhir di bulan Februari 2022 kemarin sepertinya perhatian seluruh dunia tertuju pada Rusia dan Ukraina. Dua negara di Eropa Timur itu memang tengah dilanda konflik perang yang ternyata berimbas juga ke perekonomian global. Dan dalam kondisi genting itu, mulai muncul wacana kripto jadi aset safe haven. Apakah bisa?

Tentu untuk menjadikan cryptocurrency sebagai safe haven selayaknya emas bukanlah hal yang mudah. Karena bagaimanapun juga, mata uang kripto masih memiliki pergerakan harga yang luar biasa tidak stabil. Bitcoin (BTC) misalnya, sebagai mata uang kripto dengan harga tertinggi, sempat menyentuh level Rp900 juta pada 2021 lalu, tapi kini berada di kisaran Rp500 juta.

Hal inilah yang akhirnya membuat banyak orang masih ragu menjadikan kripto sebagai aset safe haven, meskipun cryptocurrency dipandang bisa jadi mata uang masa depan lantaran sifatnya yang tidak terdesentralisasi.

Apalagi sejak pandemi Covid-19 ini, masyarakat dunia semakin terbiasa dengan internet yang membuat konsep dunia virtual di masa depan bukanlah hal tidak mungkin.

Bahkan baru-baru ini di tengah peperangan yang melanda Eropa Timur, kabarnya Ukraina menerima donasi dalam bentuk kripto.

Apakah ini menjadi bukti jika perang akan membuat mata uang kripto jadi berharga? Tidak seperti mata uang fiat yang mendadak rontok saat ada masalah geopolitik terjadi? Untuk bisa menjawabnya, ulasan berikut ini layak Anda simak.

Baca juga: Inilah Cara Lengkap Beli Aset Kripto di KuCoin

Cryptocurrency Anjlok Berkat Perang Rusia-Ukraina

Pilihan Platform Exchange Kripto
via FX Trending

Setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan melakukan serangan militer ke Rusia pada akhir Februari lalu, pasar kripto langsung terkena dampaknya.

Setidaknya pada Jumat (25/2) pekan lalu setelah pengumuman Putin, beramai-ramai mata uang kripto langsung mengalami koreksi harga. Apalagi saat ini Presiden Amerika Serikat Joe Biden belum memberikan keterangan resmi, sehingga investor dan trader dipenuhi sentimen negatif.

Hanya saja di tengah keputusan Rusia itu, Putin tampak menyindir reaksi negara-negara global yang dia anggap terlalu ‘berlebihan’.

Meskipun pada akhirnya setelah menyatakan kemerdekaan dua wilayah di Ukraina, tentara Rusia terus melakukan penyerangan yang sudah membuat ratusan penduduk Ukraina tewas sebagai korban perang.

Atas gejolak geopolitik di Eropa Timur itu, BTC dilaporkan anjlok 2% hanya dalam waktu 24 jam saja. Bahkan mata uang kripto dengan total kapitalisasi pasar terbesar itu sempat terseok sesaat di bawah level US$40 ribu, posisi terburuknya dalam dua pekan terakhir. Mengikuti jejak BTC, ethereum (ETH) dan sol (SOL) juga mengalami koreksi sebesar 4% dalam waktu yang sama pula.

Baca juga: Kenalan dengan Trading CFD Bitcoin, Lebih Untung dan Lebih Aman?

Atas koreksi harga yang dialami sejumlah cryptocurrency ini, David Duong selaku kepala penelitian di Coinbase Institutional pun angkat bicara.

Kepada Coindesk, Duong menjelaskan bahwa konflik geopolitik Rusia-Ukraina bagaimanapun juga akan mempengaruhi kinerja mata uang kripto. Bahkan situasi itu bisa memperburuk reaksi pasar secara spontan, lantaran kripto adalah aset dengan risiko yang amat sangat tinggi.

Namun yang menarik, meskipun mata uang kripto primadona seperti BTC dan ETH sama-sama ambruk, tampaknya minat terhadap cryptocurrency tak pudar secara cepat.

Bahkan sebelum konflik Eropa Timur, Coinbase melaporkan adanya aliran dana bersih ke stablecoin (aset-aset cadangan kripto) sebesar US$3,5 miliar di rentang November 2021 – Januari 2022. Kondisi ini seolah membuka harapan kripto jadi aset safe haven, mengingat volatilitas pasar meningkat.

Apa yang terjadi dua bulan lalu itu bukan tak mungkin bakal terulang kembali di tengah pecahnya perang Rusia dan Ukraina. Tampaknya memang investor kripto memilih stablecoin sebagai aset yang dianggap lebih aman, meskipun ini bukanlah sebuah pembenaran jika mendadak terjadi bearish di pasar cryptocurrency.

Apalagi jika dibandingkan dengan aset-aset lain, kripto masihlah cukup bisa dibanggakan ketika konflik perang Eropa Timur terjadi. Berikut perbandingannya dengan beberapa instrumen insvestasi lain terutama di pasar keuangan:

  • BTC turun 2,37% jadi US$40.093
  • ETH turun 4,16% jadi $2.797
  • Indeks S&P 500 turun 0,71% dan ada di level $4.349
  • Emas turun 0,16% jadi US%1.898 per troy ounce
  • Ten-year Treasury yield tercatat 1,93%

Bahkan khusus untuk imbal hasil 10-year Treasury, pencapaiannya dianggap bisa menjadi sentimen positif sekalipun jangka pendek terhadap aset-aset spekulatif seperti mata uang kripto.

Namun jika dibandingkan dengan pergerakan saham, cryptocurrency sepertinya masih akan tetap punya posisi lebih baik dalam jangka pendek, terutama jika perang Eropa Timur berlanjut.

Atas apa yang terjadi ini, wacana kripto jadi aset safe haven sepertinya masih butuh perjalanan panjang. Apalagi sampai pertengahan Februari 2022 kemarin, volume perdagangan BTC di bursa spot utama masih lebih rendah jika dibandingkan sebelumnya.

Dan setelah pengumuman serangan militer ke Ukraina di penghujung bulan Februari, dilaporkan jika harga mayoritas cryptocurrency pada Selasa (1/3) justru cukup menggembirakan. CoinMarketCap melaporkan pada 09.00 WIB, hanya dua stablecoin yakni tether dan USD coin yang mengalami koreksi sedangkan mata uang kripto lainnya cukup melambung.

Apa saja?

BTC Dilaporkan ‘terbang’ sebesar 13,41% ke level US$43.309,55 (sekitar Rp621 juta), sedangkan ETH juga tak mau kalah melambung sebanyak 9,87% ke level US$2.919,15 (sekitar Rp41,8 juta). Lalu ada SOL yang meningkat 12,79% ke level US%97,15 (sekitar Rp1,39 juta) hingga cardano tercatat menguat 11,68% ke level US$0,9657 (sekitar Rp13.858).

Tentu kemampuan cryptocurrency untuk mencatat penguatan belasan persen ini benar-benar membuat pelaku pasar kripto tersenyum lebar. Hal ini seolah jadi angin segar mengingat Rusia dan Ukraina kabarnya akan melakukan gencatan senjata di bulan Maret.

Baca juga: Tips Investasi Kripto Saat Dianggap Haram Oleh MUI, Tertarik?

Peluang Kripto Jadi Aset Safe Haven, Seperti Apa?

Mata Uang Kripto Asli Indonesia
© investorplace

Melihat bagaimana cryptocurrency sempat ambruk ‘berjamaah’ ketika serangan militer Rusia pecah dan berangsur-angsur kembali meningkat lagi di awal Maret, kembali membuka peluang bahwa apakah memang aset kripto jadi aset safe haven itu benar-benar bisa terwujud.

Jika Anda butuh jawaban yang pasti, maka hasilnya adalah tidak untuk saat ini.

Kenapa begitu?

Mari kita lihat pergerakan harga aset safe haven yang jadi primadona banyak orang sejak dulu hingga saat ini, emas.

Yap, logam mulia yang satu ini memang mengalami peningkatan sebesar 2,3% di pekan pecahnya perang Rusia-Ukraina, membuktikan dirinya sebagai aset safe haven terbaik.

Padahal di waktu yang sama, mata uang kripto justru ambrol berbarengan yang membuat peluangnya mengubah status seperti emas tampak masih butuh perjuangan keras. Apalagi jika dibandingkan Indeks Nasdaq Composite yang terkoreksi 2,1%, kondisi BTC jelas lebih buruk.

Hal inilah yang kemudian ditanggapi oleh Chris Weston selaku Head of Research Pepperstone di Melbourne, Australia. Secara tegas Weston menilai kalau bitcoin dan peluang kripto jadi aset safe haven adalah sesuatu yang tak akan terjadi.

Apalagi jika dinilai dari situasi geopolitik Rusia – Ukraina, posisi kripto sebagai lindung nilai masih sangat tidak stabil. Kepada Reuters, Weston bahkan merekomendasikan lebih baik beli minyak berjangka daripada kripto.

Hanya saja jika Weston belum menemukan bukti kemampuan bitcoin sebagai safe haven, tentu tak bisa juga kita menolak tanggapan para pemuja kripto yang menyebut bitcoin bakal bisa jadi emas digital.

Bukan tak mungkin kalau ke depannya kripto memang benar-benar bisa bersanding dengan emas, apalagi jika aset digital ini dianggap jauh lebih punya kemampuan lindung nilai lebih baik daripada saham sekalipun.

Lantas kalau begitu, apakah benar-benar tak ada peluang kripto jadi aset safe haven?

Anda harus mencari informasi volatilitas terlebih dulu. Di mana dalam 30 hari, BTC bahkan mencatat volatilitas yang turun jadi 3,48%. Namun kalau dibandingkan tahun 2021 yang meraih rata-rata koreksi 4,56%, sesuai laporan data BuyBitcoin Worldwide, kemampuan aset kripto terpopuler ini jelas tak bisa dianggap remeh.

Menanggapi kondisi ini, Matthew Dibb selaku COO (Chief Operating Officer) Stack Funds yang berpusat di Singapura tampaknya cukup percaya diri atas peluang kripto jadi aset safe haven. Bahkan dalam jangka panjang, kripto dipandang mampu melakukan bullish dan aset alternatif saat terjadi masalah geopolitik dunia.

Dibb pun menyebutkan jika bitcoin meraih kepercayaan yang lebih baik dibandingkan pasar saham saat kondisi perekonomian dunia tak menentu. Kendati memang kalau menjadikan kripto sebagai pilihan utama saat perang terjadi seperti di Eropa Timur, tampaknya masih butuh pembuktian lebih mendalam.

Di tengah pro-kontra dan berbagai prediksi soal kripto yang berpeluang jadi aset safe haven layaknya emas, para analis domestik punya pendapat yang cukup beragam.

Hal itu pula yang diungkapkan oleh Michael Yeoh selaku analis teknikal PT Sucor Sekuritas yang dengan tegas menyebutkan cryptocurrency belumlah sebanding emas sebagai safe haven.

Karena bagaimanapun juga, safe haven adalah aset yang jadi pelarian saat kondisi ekonomi global penuh ketidakpastian, sebuah kondisi yang masih belum bisa diraih oleh kripto. Menurut Yeoh, kripto memiliki harga yang masih terlalu volatil dan tak bisa diintervensi langsung selayaknya uang-uang kartal terbitan bank sentral yang dapat dipengaruhi kebijakan moneter.

Meskipun demikian Yeoh tidak menutupi peluang jika di masa depan, peluang kripto untuk jadi seperti emas sangat terbuka lebar. Apalagi jika semakin banyak regulasi yang mengatur cryptocurrency, peluangnya untuk jadi seperti emas bukanlah sesuatu yang tidak mungkin.

Baca juga: Yuk Dicoba, Strategi Investasi Bitcoin Ala Elon Musk

Di Indonesia sendiri, keberadaan mata uang kripto memang masih penuh dengan kontroversi. Namun dengan meningkatnya rasa keingintahuan masyarakat, Mendag Muhammad Lutfi berharap kalau literasi soal cryptocurrency kepada khalayak umum bisa segera disosialisasikan. Hal ini sendiri dilakukan supaya tak ada yang terjebak investasi bodong terkait mata uang kripto.

Bahkan Lutfi pernah menyebutkan jika hingga Mei 2021, pelaku pasar kripto di Tanah Air sudah mencapai 6,5 juta orang, naik lebih dari 50% sejak tahun 2020 yang di kisaran 4 juta orang saja. Tak hanya itu saja, volume perdagangan aset kripto pada lima bulan pertama tahun 2021 menyentuh Rp370 triliun, padahal di tahun 2020 ‘hanya’ Rp65 triliun saja.

Bagaimana? Apakah Anda juga tertarik untuk mempertimbangkan kripto jadi aset safe haven? Perjalanan mata uang virtual ini untuk sejajar dengan emas memang masih butuh pembuktian dan waktu. Namun bukan tak mungkin di masa depan yang bakal serba digital nanti, cryptocurrency bisa menjadi salah satu sarana investasi yang tentunya bakal amat sangat menjanjikan. Apakah Anda tertarik?

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar