6 Karakteristik yang Wajib Diketahui Jika Ingin Investasi Obligasi

Investasi Obligasi. Dari banyaknya instrumen investasi yang ditawarkan di pasar modal, mungkin banyak di antara kita yang lebih memilih saham.

Ya, saham memang ada di puncak efek yang paling menguntungkan sebagai investasi, tapi diikuti dengan potensi rugi yang sebanding sehingga bagi Anda yang ‘cari aman’ dalam berinvestasi, mungkin saham tidaklah cukup cocok.

Lantas, apakah ada instrumen investasi di pasar modal selain saham yang juga menjanjikan untung besar dengan potensi risiko lebih aman?

Jawabannya ada dan itu adalah investasi obligasi.

Lebih sering dikenal sebagai surat utang, obligasi adalah efek yang ditawarkan oleh perusahaan atau instansi pemerintah dalam hal ini emiten, dan bisa dibeli oleh investor.

Berbeda dengan saham yang mana investor menggelontorkan uang untuk membantu kinerja bisnis emiten, obligasi membuat emiten penerbitnya sebagai pihak yang berutang dan pembeli obligasi sebagai yang berpiutang.

Lantaran merupakan bagian dari utang-piutang, obligasi memiliki masa tempo.

Di mana di Indonesia, investasi obligasi biasanya membutuhkan waktu 1-10 tahun. Selama masa itu pula, pembeli obligasi berhak menerima bunga alias kupon yang dibayarkan rutin oleh emiten penerbit.

Sehingga jika disimpulkan, ada dua keuntungan yang diperoleh dalam investasi obligasi. Pertama adalah kupon yang dibayarkan dan kedua uang yang dikembalikan sebagai pokok utang dalam obligasi.

Obligasi di Indonesia Sudah Ada Sejak 1946

Ilustrasi Obligasi (1)
via Wiki Finance Pedia

Kendati popularitasnya dibanding saham sedikit tertinggal, faktanya investasi obligasi sudah dikenal dalam waktu lama di Tanah Air.

Di mana sejarah mencatat bahwa surat utang pertama kali digunakan secara resmi di Indonesia pada tahun 1946. Kala itu Indonesia yang baru setahun merdeka memang tengah berjuang untuk mempertahakannya dari serangan militer Belanda, serta sekutunya.

Untuk melakukan perjuangan yang tidak mudah itu, pemerintah membutuhkan kucuran dana dalam jumlah besar.

Untuk itulah penerbitan obligasi menjadi pilihan pemerintahan Presiden Soekarno demi membiayai program negara. Setidaknya ada tiga kali penerbitan surat utang sepanjang pimpinan Sang Proklamator yakni tahun 946, 1950 dan 1959.

Baca, Investasi Emas atau Deposito Jelang Akhir Tahun, Pilih Mana?

Obligasi mulai menunjukkan hasil menjanjikan di iklim investasi Indonesia sejak pemerintah menerbitkan Obligasi Rekapitulisasi Negara pada tahun 1999.

Hanya saja jika mencari kapan momentum investasi ini begitu diperhitungkan dan mengalami perkembangan epsat, bisa dibilang saat ORI (Obligasi Ritel Indonesia) terbit pada tahun 2006 silam.

Kala itu penerbitan ORI begitu disambut positif oleh investor sehingga pemerintah menerbitkannya secara rutin. Tiap tahun pula, jumlah investor ORI terus meningkat dengan cukup menggembirakan.

Sekadar informasi, jumlah investor ORI pada 2006 ada di kisaran 16.561 orang tapi langsung melambung jadi 214.151 di tahun 2015.

Bahkan pada tahun 2013 lalu, Indonesia ada di posisi puncak dari sembilang negara dengan jumlah pertumbuhan investasi obligasi tertinggi, seperti dilansir Kontan.

Pencapaian ini membuat Indonesia mengalahkan China, Hong Kong, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan juga Vietnam.

Di mana dari data yang sama, pertumbuhan investasi obligasi terbesar berasal dari surat utang terbitan korporasi sebesar 20% dan obligasi terbitan negara sebanyak 7%.

Tentu saja pencapaian ini cukup menggembirakan, mengingat positifnya perkembangan obligasi sejalan dengan kondisi perekonomian sebuah negara.

Sekadar informasi, setidaknya ada dua hal utama yang mempengaruhi investasi obligasi yakni inflasi dan suku bunga BI (BI Rate).

Kedua hal ini rupanya juga menjadi penyebab meningkatnya minat investor atas surat utang pada tahun 2011 – 2016 (kecuali 2013).

6 Karakteristik Penting dalam Investasi Obligasi

Melihat sejarahnya yang cukup panjang dan menawarkan dua keuntungan utama, investasi obligasi jelas bisa jadi pilihan terbaik untuk saat ini.

Apalagi tahun 2023 nanti diprediksi dunia akan mengalami resesi global sehingga sudah pasti memicu inflasi. Namun supaya bisa untung dalam investasi surat utang, berikut beberapa hal yang wajib diketahui:

1. Tingkat Bunga

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tingkat bunga (interest rate) atau kupon (coupon bond) merupakan karakteristik dari investasi obligasi yang paling menarik perhatian.

Karena kupon ini wajib dibayarkan oleh penerbit surat utang kepada pemilik obliigasi dalam waktu tertentu. Karena jangka obligasi biasanya 1-10 tahun saja, kupon biasa dibayarkan rutin setiap tiga atau enam bulan sekali.

Setidaknya ada dua jenis kupon dalam obligasi yakni kupon tetap (fixed coupon) dan kupon mengambang (floating coupon). Jika kupon tetap punya besaran sama dari awal hingga jatuh tempo, kupon mengambang mengacu pada BI rate.

2. Pihak Penerbit

Sama seperti saham, seorang calon investor obligasi juga harus mencari tahu informasi emiten alias penerbit surat utang.

Jangan sampai emiten itu memiliki bisnis yang berpeluang memburuk atau kinerja terlalu tidak stabil, karena bisa saja gagal membayar surat utang. Beruntung saat ini BEI (Bursa Efek Indonesia) sudah memberikan informasi soal emiten obligasi dalam PEFINDO (Pemeringkat Efek Indonesia).

3. Klaim Aset

Ilustrasi Obligasi (2)
© NAVI

Membeli obligasi dari perusahaan swasta tentu memiliki peluang lebih besar daripada surat utang yang resmi diterbitkan pemerintah, Perusahaan swasta punya potensi lebih tinggi saat gagal bayar.

Lantas bagaimana jika memang benar-benar gagal bayar dan emiten bangkrut? Maka hak atas penjualan aset-aset perusahaan hingga klaim pendapatan jadi prioritas pemegang obligasi.

Baca, Bukan Emas, Yuk Intip Peluang Investasi Berlian si Batu Mulia

Termasuk di dalamnya penerima dividen pemegang saham umum dan saham preferen, seluruhnya menjadi hak pembeli obligasi. Karena itulah investasi ini memang dianggap cenderung punya risiko rendah.

4. Waktu Jatuh Tempo

Karakteristik inilah yang membedakan investasi obligasi dengan instrumen lainnya. Ya, obligasi punya waktu jatuh tempo (maturity date) yang menjadi tenggat pemilik obligasi bisa memperoleh kembali sejumlah uang yang dipakai untuk membeli surat utang.

Tentunya semakin pendek jatuh temponya, risiko obligasi itu makin kecil tapi sebanding juga dengan total keuntungan kupon yang dibayarkan emiten.

Lantas apakah itu artinya semakin panjang masa tempo obligasi bakal makin untung?

Tidak sepenuhnya tepat karena sulit diprediksi apalagi jika menggunakan floating coupon yang bakal sangat dipengaruhi oleh dampak inflasi dan suku bunga bank sentral.

5. Wali Amanat

Dalam investasi obligasi, karakteristik unik lainnya adalah adanyawali amanat (trustee) yang ditunjuk penerbit obligasi.

Trustee ini memang mewakilli para pemegang obligasi yang bertugas membantu sekaligus melindungi kepentingan mereka, supaya meminimalisir kerugian.

Nantinya penerbit obligasi dan trustee akan terhubung lewat kontrak indenture yang berisi hak dan kewajiban penerbit serta pemegang obligasi.

Dalam indenture itu disebutkan pula mengenai nilai nominal, kupon, waktu jatuh tempo dan sejumlah aturan.

6. Nilai Nominal

Bisa dibilang kalau nilai nominal atau nilai pari (par value), adalah karakteristik obligasi yang paling wajib diperhatikan.

Secara mudahnya, par value merupakan nilai pokok yang bakal diperoleh pemilik obligasi saat jatuh tempo.

Baca, 5 Investasi Tepat Dikala Suku Bunga Naik

Sederhananya seperti sebuah emiten menerbitkan obligasi di pasar perdana untuk penjualan pertama kali dengan nilai Rp10 miliar, serta pembelian minimal Rp100 juta, maka bukan tak mungkin kalau par value berubah.

Kok bisa?

Karena obligasi yang sudah menjadi milik investor yang diperdagangkan di bursa efek (pasar sekunder) akan memiliki harga yang cukup fluktuatif.

Jika awalnya pembelian minimal Rp100 juta merupakan 100%, bisa saja di pasar modal par value-nya melambung hingga 110%, 115% maupun 118%.

Dengan begitu jika surat utang itu punya pembelian minimal Rp100 juta dengan par value 110%, maka artinya Anda harus mengeluarkan uang Rp110 juta untuk memilikinya.

Bagaimana? Sangat menarik sekali bukan mempelajari investasi obligasi? Untuk itulah bagi Anda yang kini tengah mempertimbangkan aset untuk mengelola finansial, mempertimbangkan membeli surat utang adalah keputusan yang bisa dilakukan. Hanya saja jangan lupa untuk terus memahami perkembangan berita ekonomi global supaya aset yang dipilih memang menjanjikan.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar