3 Instrumen Investasi Tahan Inflasi, Layak Dipilih di 2023?

Instrumen Investasi Tahan Inflasi. Menyisakan tahun 2022 yang hanya tinggal bulan November dan Desember, memang membuat semua orang harus melakukan persiapan keuangan demi menyambut 2023.

Apalagi dalam beberapa waktu terakhir, banyak orang memprediksi perekonomian menjadi gelap dengan ancaman resesi global berkepanjangan.

Tentunya ketika terjadi resesi perekonomian, situasi keuangan bakal semakin goyah sehingga setiap dari kita mesti mulai memperhitungkan melirik sejumlah investasi tahan inflasi.

Karena bagaimanapun juga, resesi dan inflasi cenderung merupakan dua hal yang saling berkaitan.

Seperti dilansir website resmi Bank Indonesia (BI), inflasi merupakan kondisi di mana harga-harga barang dan jasa mengalami kenaikan secara terus-menerus dalam jangka waktu tertentu.

Ketika inflasi itu terus melambung, maka sudah pasti penghasilan masyarakat bakal terkikis dan bukan tak mungkin standar hidup jadi anjlok.

Kalau sudah begini, tentu wajib dilakukan pengelolaan finansial yang benar-benar tepat, termasuk menentukan apa saja investasi tahan inflasi. Bagaimana ulasannya? Simak terus dalam artikel berikut ini.

Penyebab dan Dampak Inflasi

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, resesi dan inflasi merupakan dua hal saling berkaitan yang menggambarkan kesehatan ekonomi sebuah negara.

Secara mudahnya, inflasi akan membuat nilai mata uang jadi lebih rendah karena daya beli masyarakat menurun.

Pada dasarnya inflasi tak memberikan dampak terlalu buruk bagi perekonomian sebuah negara asalkan memang punya tingkatan yang stabil.

Bahkan jika inflasinya kecil, memberikan pengaruh positif yang bisa meningkatkan perekonomian nasional. Tetapi jika tingkatan inflasi terus merangkak naik, tentu jelas tidak sehat.

Ketika inflasi tak bisa ditangani oleh negara, maka bukan tak mungkin perekonomiannya bisa mengalami resesi.

Baca, Wajib Tahu, 7 Hal Penting Sebelum Mulai Berinvestasi

Sekadar informasi, resesi adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi sebuah negara mencatat nilai negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Biasanya negara yang mengalami resesi akan memperlihatkan ciri-ciri anjloknya keuntungan perusahaan, terus melambungnya angka pengangguran dan tentunya kebangkrutan ekonomi.

Lantas, Apa Penyebab Inflasi?

Ilustrasi Inflasi (1)
© Getty Images

Karena mampu memicu resesi ekonomi, ada baiknya masyarakat memang mulai waspada dengan gejolak inflasi dengan mengetahui penyebabnya. Bisnis melansir ada sejumlah penyebab inflasi yang setidaknya wajib Anda ketahui:

  • Biaya Produksi Terus Meningkat: Saat biaya produksi meningkat karena adanya sejumlah bahan baku dan proses produksi semakin mahal, maka inflasi menjadi kondisi yang tak bisa dibendung
  • Permintaan Bertambah: Ketika sebuah barang atau jasa begitu diminati oleh masyarakat sehingga permintaannya terus melambung, maka penyediaan faktor produksinya justru berkurang. Saat pengganti produksi itu tak ada, harga barang dan jasa jadi meningkat
  • Gejolak Ekonomi Politik: Anda tentu masih ingat dengan Krisis Ekonomi 1998? Kondisi itu menyebabkan inflasi gila-gilaan sampai menyentuh 70% (normalnya 3% – 4%), sebuah bukti kalau faktor ekonomi dan politik memegang kunci inflasi
  • Utang Nasional: Normal bagi sebuah negara mempunyai utang. Hanya saja saat utang nasional terus melambung hanya dua pilihannya yakni menaikkan pajak, atau mencetak lebih banyak uang yang malah memicu inflasi

Lalu, Seperti Apa Dampak Inflasi?

Dengan berbagai penyebab yang sudah diulas singkat di atas, dampak inflasi memang akan dirasakan jauh lebih mendalam oleh kelompok masyarakat dengan penghasilan menengah ke bawah.

Hal ini terjadi karena saat harga-harga barang melambung, daya beli mereka langsung anjlok. Saat daya beli menurun, penghasilan dan standar hidup jelas ikut serta.

Dalam jangka panjang jika dibiarkan, jumlah masyarakat kurang mampu terus bertambah. Mereka yang miskin akan semakin terpuruk dan sulit untuk memperbaiki tingkat ekonomi.

Baca, Lengkap! Inilah Cara Trading Forex Indonesia 2022

Karena itulah penting bagi kita untuk melakukan persiapan ketika inflasi benar-benar terjadi, dengan mempertimbangkan apa saja investasi tahan inflasi.

Instrumen-Instrumen Investasi Tahan Inflasi yang Layak Dipilih

Melihat seperti apa dampak yang diberikan oleh inflasi, tentu setiap dari kita enggan mengalami kondisi finansial yang memburuk.

Penting bagi kita melakukan berbagai persiapan finansial secara tepat agar saat inflasi benar-benar melambung di tahun depan, kondisi keuangan jauh lebih tahan.

Sebagai pertimbangan, berikut tiga jenis instrumen investasi tahan inflasi yang bisa dipilih:

1. Emas

Sudah jadi rahasia umum kalau emas memang merupakan salah satu instrumen investasi yang tahan banting, sehingga membuatnya dijuluki safe haven.

Bahkan orang-orang tua begitu merekomendasikan aset yang satu ini lantaran dianggap punya harga stabil, serta tetap dibutuhkan sampai kapanpun.

Baca, Emas Mini, Investasi atau Sekedar Suvenir?

Sebagai ‘bukti’ kekayaan, nilai emas bahkan tak pernah anjlok drastis sekalipun terjadi perang dunia sekalipun.

Menjadi instrumen lindung nilai, emas murni 24K sudah membuktikan diri sebagai investasi terbaik karena nilainya cenderung meningkat dalam jangka panjang.

Sepanjang sejarah, sangatlah jarang emas mengalami penurunan harga yang sangat mendalam. Begitu mudah dicairkan sewaktu-waktu, menjadikan emas tetap primadona investasi sepanjang zaman dan sudah pasti tahan inflasi.

Bahkan seperti yang terjadi di tahun 2020 saat pandemi Covid-19 baru melanda dunia, emas sampai mencetak rekor dengan nilainya menembus Rp1 juta per gram.

Sebuah kondisi yang membuktikan banyak investor berbondong-bondong melepaskan instrumen investasi mereka lain dan berpindah ke emas.

Tentu saja untuk bisa memperoleh keuntungan besar dari emas, logam mulia yang satu ini sangat cocok dilakukan dalam investasi jangka panjang.

2. Properti

Ilustrasi Inflasi
© Getty Images

Kalau ada yang menjadi ‘pesaing’ emas sebagai aset yang punya kecenderungan nilai meningkat seiring waktu, maka jawabannya adalah properti.

Entah rumah atau tanah, harga properti memang cenderung naik apalagi didukung fakta jumlah manusia makin bertambah dan lahan tempat tinggal berkurang.

Bukan tak mungkin rumah yang Anda beli dengan harga Rp600 juta pada tahun 2012, nilainya sudah menembus Rp1,1 miliar di tahun 2022.

Baca, Tips Ampuh Bisnis Properti dengan Modal Pas-Pasan

Hanya saja berbeda dengan emas, modal yang dibutuhkan untuk investasi properti memang jauh lebih besar, belum lagi dibutuhkan biaya perawatan supaya properti yang dimiliki tetap punya nilai jual tinggi.

Dan seperti emas pula, properti baru memperlihatkan kenaikan harga dalam waktu minimal lima tahun sehingga merupakan investasi tahan inflasi yang cocok dalam jangka panjang.

Supaya bisa memaksimalkan keuntungan, Anda juga harus punya pengetahuan serta jaringan dalam dunia properti. Sebagai pertimbangan supaya keuntungan bisa maksimal, properti lebih menarik jika disewakan daripada dijual begitu saja.

3. Saham atau Reksadana

Aset investasi tahan inflasi terakhir yang bisa dipilih adalah saham atau reksadana.

Tunggu, bukankah kedua efek ini malah cenderung nilainya anjlok saat inflasi?

Memang benar. Hanya saja momen anjloknya harga saham ini adalah waktu yang tepat untuk berburu saham-saham blue chip. Lantaran merupakan saham dari emiten berkualitas tinggi di lantai bursa, ketika perekonomian membaik harganya pun bakal langsung melambung.

Baca, 10 Saham Blue Chip Terbaik di Indonesia

Saat harga saham blue chip itu meningkat, itulah waktunya Anda menjual saham yang dimiliki dan akhirnya memperoleh keuntungan maksimal.

Tidak berbeda jauh dengan saham, salah satu jenis reksadana yang bisa dipilih dan mampu bertahan saat inflasi adalah reksadana pasar uang.

Karena itulah tetap lakukan diskusi risiko dengan MI (Manajer Investasi) mengenai pemilihan reksadana ini. Tentunya dibandingkan emas dan properti, saham serta reksadana masih tetap punya risiko besar apalagi jika dilakukan saat inflasi, sehingga pengetahuan pasar modal adalah keharusan.

Bagaimana? Terbukti kan walaupun inflasi menjadi salah satu ancaman di tahun 2023 nanti, bukan artinya Anda harus berhenti melakukan investasi. Setidaknya ada tiga instrumen utama yang bisa dipilih yakni emas, properti dan perwakilan dari pasar efek yakni saham atau reksadana.

Selain itu pula menambah pengetahuan diri mengenai kondisi perekonomian global juga dapat membantu menentukan langkah yang tepat dalam berinvestasi. Sehingga ketika 2023 sudah tiba, finansial kita tetap akan aman-aman saja karena sudah punya sejumlah investasi tahan inflasi.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar