Penyebab dan Yang Harus Dilakukan Saat Harga Saham Anjlok

Melakukan trading atau investasi saham memang butuh mental yang kuat. Karena memang ada kalanya kebahagiaan muncul membuncah saat saham melonjak, tapi kerap kali begitu cemas dan frustasi ketika harga saham anjlok. Yap, kedua hal ini memang harus benar-benar dipahami dan diterima trader serta investor yang memilih mengalokasikan dana di lantai bursa.

Apalagi dalam kondisi pandemi Covid-19 berkepanjangan yang tanpa terasa sudah hampir dua tahun terjadi, pergerakan harga saham di BEI (Bursa Efek Indonesia) memang seolah tak terkendali. Bahkan di saat wabah corona ini menyerang dunia di tahun pertama, kondisi harga saham anjlok bukanlah hal aneh yang bahkan dialami pula saham-saham blue chip dengan kapitalisasi pasar besar.

Terutama kalau Anda fokus dalam investasi saham jangka panjang, harga saham a anjlok tak perlu dicemaskan berlebihan. Karena saham-saham dari emiten yang berkualitas, sudah mempunyai fundamental baik sehingga tak akan terpuruk mendalam. Sebaliknya jika Anda adalah seorang trader yang kerap bermain di saham-saham gorengan, harga saham yang terjun bebas jelas bikin depresi.

Baca juga: Tips Pilih Saham IPO Bagi Investor Pemula Biar Cuan!

Namun tenang saja, dengan pemerintah sudah semakin lunak atas PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat), gejolak saham di lantai BEI memang tampak makin positif. Ada harapan kalau perekonomian dunia kana kembali bergairah per tahun 2022. Apakah memang begitu? Apakah memang harga saham anjlok tak akan pernah terjadi lagi? Jawabannya adalah tidak ada yang tahu.

Kenapa Harga Saham Bisa Anjlok?

© Hasiholan Siahaan

Dikenal sebagai instrumen investasi yang paling menjanjikan, daya tarik saham memang pada pergerakan harga yang sangat fluktuatif. Di lantai bursa, bukanlah hal tidak mungkin kalau herga saham sebuah emiten mendadak melonjak dalam hitungan jam, begitu pula langsung terjun bebas dalam waktu kurang dari sehari saja.

Nah supaya Anda tetap bisa lapang dada ketika harga saham anjlok nanti, ada baiknya mempelajari beberapa faktor yang menyebabkan nilai saham emiten langsung memburuk berikut ini:

1. Nilai Tukar Rupiah

Hal pertama yang bisa membuat harga saham anjlok adalah nilai tukar Rupiah. Hal ini sangat masuk akal karena ketika nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS lesu, maka artinya akan menambah beban utang mata uang asing bagi perusahaan yang bisa membuat saham-saham mereka melemah di lantai bursa. Terutama perusahaan importir yang akan sangat terpengaruh dengan nilai tukar Rupiah ini.

Kok bisa?

Karena saat nilai tukar Rupiah lesu, perusahaan yang menggunakan bahan baku impor jelas akan mengalami biaya produksi yang membengkak dan akhirnya merugi. Saat biaya operasional bertambah, harga saham bisa saja langsung terjun bebas. IHSG (Indeks  Harga Saham Gabungan) termasuk yang paling sering terkoreksi saat Rupiah melemah terhadap dolar AS.

2. Manipulasi Pasar

Sebagai pasar yang sangat likuid, para pelaku lantai bursa memang beragam. Tak sedikit yang akhirnya melakukan aksi manipulatif demi tujuan tertentu. Hal ini sering dilakukan investor bermodal besar yang menggunakan media, sehingga mampu membuat harga saham sebuah emiten jadi melambung atau ambruk di waktu singkat. Tak perlu cemas, aksi manipulatif ini biasanya tidak berlangsung lama.

3. Aksi Korporasi Perusahaan

Bisa dibilang kalau ini adalah faktor terbesar yang membyat harga saham anjlok atau malah melambung. Sekadar informasi, aksi korporasi adalah kebijakan yang diambil jajaran direksi dan manajemen perusahaan yang akhirnya memberikan dampak fundamental. Beberapa aksi korporasi yang kerap terjadi seperti right issue, divestasi, akuisisi hingga merger perusahaan.

Saat aksi korporasi ini terjadi, harga saham emiten tersebut jelas bergejolak. Misalkan saja seperti saat perusahaan A melakukan akuisisi kepada perusahaan B yang tengah digandrungi publik, bisa saja harga saham perusahaan A melonjak drastis atau bahkan ambruk karena citra negatif perusahaan B.

4. Sentimen Pasar

Bisa dibilang ini merupakan salah satu penyebab naik-turunnya harga saham yang paling menyebalkan dan bikin frustasi. Yap, berbagai info yang beredar di pasar modal entah spekulasi, rumor sampai berita fakta bakal memicu gejolak harga saham. Contohnya seperti seorang CEO mengeluarkan pernyataan tertentu, bisa saja hal itu membentuk sentimen para pelaku pasar dan harga saham emiten jadi terkoreksi.

5. Kepanikan

Lantaran para pelaku pasar modal adalah manusia, rasa panik jelas bakal dialami dan ternyata memberikan pengaruh dalam pergerakan harga saham. Salah satunya pernah terjadi di BEI pada tahun 2006 lalu. Kala itu ramai diberitakan salah satu pipa PGN (Perusahaan Gas Negara) meledak karena lumpur Lapindo. Hal ini langsung membuat investor panik terutama yang punya saham PGAS.

Kode emiten saham PGN itu langsung ambrol dalam waktu singkat karena paniknya investor yang berbondong-bondong menjualnya, lantaran ogah merugi. Padahal saat PGN melakukan pengecekan, pipa yang meledak itu tidak berpengaruh pada bisnis PGN secara keseluruhan dan akhirnya saham PGAS berangsur membaik.

Baca juga: Mengenal Apa itu, Tugas dan Tips Pilih Manajer Investasi

6. Proyeksi Bisnis Emiten

Tidak hanya aksi korporasi yang terjadi saat ini, kemungkinan dan prediksi kinerja perusahaan di masa depan rupanya juga menjadi faktor terbesar harga saham perusahaan bisa anjlok atau bahkan meningkat. Karena bagaimanapun juga, proyeksi bisnis emiten ini jadi salah satu acuan investor dalam melakukan analisa fundamental atas saham perusahaan.

Biasanya dalam menentukan proyeksi bisnis emiten ini, beberapa hal yang diperhitungkan adalah tingkat rasio utang, dividen tunai alias DPR (Dividend Payout Ratio), laba perusahaan hingga PBV (Price to Book Value dan EPS (Earnings Per Share). Emiten dengan DPR besar jelas bakal diminati karena imbal balik bagus, sehingga harga saham meningkat dan begitu juga sebaliknya.

7. Fundamental Ekonomi Makro

Ada kalanya investor saham senior memberikan anjuran agar investor pemula mulai memperhatikan fundamental ekonomi makro. Kenapa begitu? Karena ini merupakan salah satu penyebab naik-turunnya harga saham di BEI.

Beberapa hal yang wajib diketahui seperti fluktuasi suku bunga karena kebijakan The Fed (Bank Sentral AS), fluktuasi suku bunga acuan BI (Bank Indonesia) dan nilai ekspor impor, tingkat inflasi sampai tingkat pengangguran dan ancaman resesi ekonomi.

Contoh kondisi ini seperti saat suku bunga perbankan meningkat, investor bakal berbondong-bondong memilih deposito sebagai instrumen investasi. Namun saat nilai tukar Rupiah anjlok dan kemudian suku bunga bank menurun, emas jelas akan menjadi aset safe haven terbaik dan bukan tak mungkin akan banyak dana dari BEI yang keluar, sehingga nilai saham di pasar modal ambruk berjamaah.

8. Kebijakan Pemerintah

Yang tak bisa dihindarkan lagi saat harga saham anjlok adalah kebijakan pemerintah. Bahkan sekalipun kebijakan itu masih berupa wacana, lantai bursa sudah bergejolak. Beberapa kebijakan yang membuat harga saham naik turun seperti kebijakan ekspor impor, kebijakan PMA (Penanaman Modal Asing) sampai kebijakan utang. Tak hanya kebijakan pemerintah negara sendiri, kebiijakan bank sentral AS juga wajib diketahui.

Terutama jika Anda memilih menjadi trader, berita mengenai kebijakan pemerintah haruslah sangat diperhatikan. Karena seorang trader memang mencari keuntungan dari pergerakan harga saham harian.

Inilah Tips Atasi Harga Saham Anjlok yang Bisa Dilakukan

via Retail News Asia

Nah, jika Anda sudah tahu kalau ada banyak sekali penyebab harga saham anjlok maupun sebaliknya, tentu kini tak perlu cemas berlebihan. Apalagi ada beberapa tips yang bisa Anda lakukan sekalipun saham-saham yang dimiliki tengah terkoreksi. Dengan begitu Anda bisa menjadi seorang investor yang lebih dewasa. Bagaimana? Berikut ulasannya:

1. Sedang Menabung

Tips pertama yang bisa dilakukan saat harga saham anjlok adalah dengan mengubah pemikiran. Yap, supaya tidak malah frustasi dan penuh tekanan, anggap saja kalau kegiatan investasi saham yang dilakukan ini tak ubahnya sebagai menabung. Sehingga dengan begitu akan tumbuh pikiran kalau menabung itu memang sedikit-sedikit dan lama-lama jadi bukit.

Jadi saat harga kini anjlok, artinya tabungan yang disetorkan sedang minim. Namun nilai yang kecil itupun bisa tumbuh banyak di kemudian hari, asalkan Anda sabar.

Baca juga: 7 Tips Investasi Freelancer, Kaya Raya Tanpa Kantor

2. Waktunya Belanja Saham

Daripada menangisi harga saham yang tengah ambrol, Anda haruslah tetap bisa berpikir positif dengan menjadikan momen lesunya saham sebagai waktu belanja. Karena bukan tak mungkin kondisi ini juga dialami saham-saham blue chip dengan fundamental berkualitas. Anda bisa untung di kemudian hari karena membeli saham kapitalisasi besar ini dengan harga lebih murah, sehingga cuan berlipat.

3. Tetap Tenang

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, kepanikan berlebihan bisa membuat harga saham anjlok dalam waktu singkat tanpa kejelasan. Karena itulah usahakan untuk mengendalikan rasa panik semaksimal mungkin, supaya tidak malah tambah rugi. Saat Anda terus-menerus panik, bisa saja mengambil keputusan keliru. Daripada panik, coba berpikir tenang dan menunggu perkembangan beberapa hari ke depan.

4. Fokus Jangka Panjang

Supaya tetap bisa bersikap positif saat pasar modal tengah terpuruk, Anda harus mengingat tujuan investasi saham terutama jangka panjang. Karena saat investasi jangka panjang ini, Anda tidak hanya mengutamakan keuntungan besar dalam waktu singkat saja, tapi keinginan untuk sejahtera finansial dengan memiliki rumah, dana pendidikan anak hingga uang pensiun.

Kondisi ini akan sangat membantu ketika perekonomian tengah memburuk dan berimbas ke BEI, sehingga Anda mampu sabar. Percaya bahwa portofolio saham bisa kembali positif dan mempersiapkan tujuan-tujuan besar yang sudah direncanakan untuk masa depan lebih baik. Tak heran kalau akhirnya investor terkaya di dunia, Warren Buffet memilih value investing jangka panjang.

5. Jangan Terburu Dijual

Berbarengan dengan rasa panik yang berlebihan, saat harga saham anjlok akan banyak pula investor yang memilih menjual saham mereka. Hal ini dilakukan dengan harapan supaya tidak merugi terlalu besar, sehingga uang tunai yang dialokasikan untuk membeli saham tertentu tetap bisa terselamatkan. Apakah ini tindakan yang tepat? Sudah pasti salah besar.

Satu prinsip yang harus diketahui investor pemula adalah ketika harga saham yang Anda miliki tengah ambrol, itu belum tentu merugi karena bisa saja bakal meningkat keesokan harinya. Namun saat Anda memilih menjual saham yang tengah melemah dan mencairkannya sebagai uang tunai, artinya Anda sudah pasti merugi.

6. Evaluasi Keuangan

Daripada memusingkan diri saat harga saham anjlok, satu kegiatan positif yang bisa dilakukan adalah memperhatikan kondisi keuangan. Yap, Anda bisa melakukan evaluasi pada anggaran bulanan termasuk besar penghasilan hingga alokasi dana investasi. Sehingga saat harga saham terkoreksi, Anda dapat melakukan penghematan pengeluaran dan memperbanyak dana darurat.

Baca juga: Bukan Trading atau Investasi, Yuk Mulai Nabung Saham!

Jika Anda menerapkan tips-tips di atas, maka ketika harga saham anjlok tidak akan mengalami masalah yang berarti. Asalkan Anda tahu betul apa penyebabnya dan memilih emiten yang tepat, pergolakan harga di pasar modal bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan. Justru seorang investor cerdas mampu memanfaatkan berbagai kesempatan dalam kondisi sulit, untuk jadi cuan tambahan. Semangat investasi!

Bagikan ;

Tinggalkan komentar