Diam-Diam Harga Emas Naik, Tembus US$1.900 Akhir Tahun?

Kalau membicarakan aset investasi yang aman dan jadi pilihan banyak orang, emas tentu akan muncul di posisi pertama. Sejak dulu hingga saat ini, entah pandemi Covid-19 atau suasana normal, logam mulia yang satu ini memang tetap jadi primadona dan disarankan banyak orang. Salah satu alasan kenapa banyak orang memilihnya tak lain karena kecenderungan harga emas naik dari waktu ke waktu.

Coba Anda bandingkan antara harga emas saat ini dan satu dekade lalu, tentu harganya sudah berbeda bukan? Memang jika disandingkan dengan sejumlah instrumeni nvestasi modern lainnya yakni saham, reksadana, forex, obligasi, P2P Lending sampai cryptocurrency sekalipun, kenaikan harga emas memang tampak paling lemah. Namun itu sama sekali tak mengurangi pilihan investor untuk mengalihkan dana mereka ke logam mulia satu ini.

Bahkan saat pandemi Covid-19 menyerang dunia di tahun 2020 lalu, investor berbondong-bondong mengalihkan uang-uang mereka dari berbagai instrumen investasi modern ke emas. Apa alasannya? Kecenderungan harga emas naik dan juga stabil. Tak heran kalau akhirnya instrumen yang satu ini dianggap sebagai safe haven yang bahkan kebal dengan inflasi dan muramnya perekonomian dunia.

Baca juga: Hal-Hal yang Wajib Diketahui dan Waspadai dari Saham Gorengan

Kini ketika dunia perlahan kembali pulih jelang tahun 2021 karena kemampuan umat manusia mengendalikan wabah corona, harga emas justru disebutkan mengalami peningkatan. Kenapa bisa begitu? Apakah peluang harga emas melambung lagi lebih dari Rp1 juta per gram seperti di pertengahan tahun 2020 lalu bakal berulang? Untuk bisa menjawabnya, ulasan berikut ini layak untuk Anda perhatikan.

Oktober 2021, Harga Emas Naik 1,43% Dalam Seminggu

© Reuters

Dalam informasi yang dilansir Bisnis, harga emas batangan murni 24K milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari Sabtu (23/10) pagi menyentuh Rp928 ribu per gram. Harga ini sendiri rupanya sudah meningkat sejak Jumat (22/10) sehari sebelumnya, di kisaran Rp925 ribu per gram. Antam sendiri menjual emas satuan terkecil dengan ukuran 0,5 gram yang dibanderol Rp514 ribu, atau naik Rp3,500 dibandingkan sehari sebelumnya.

Sama seperti kepingan terkecil, Unit Bisnis Pengolahan dan Permunian Logam Mulia Antam juga melaporkan adanya kenaikan harga pada satuan kepingan emas 24K yang lebih besar. Berikut rinciannya:

  • Emas satuan 5 gram = Rp4.415.000 (naik Rp15 ribu)
  • Emas satuan 10 gram = Rp8.775.000 (naik Rp35 ribu)
  • Emas satuan 50 gram = Rp43.545.000 (naik Rp150 ribu)
  • Emas satuan 100 gram = Rp87.012.000 (naik Rp300 ribu)
  • Emas satuan 250 gram = Rp217.265.000 (naik Rp750 ribu)
  • Emas satuan 1 kilogram atau 1.000 gram = Rp868.000.000 (naik Rp3 juta)

Tak hanya harga belinya saja, Antam juga melaporkan kalau harga buyback alias jual kembali meningkat Rp4.000 pada Sabtu (23/10) pagi jadi Rp815 ribu.

Tunggu, kenapa harga beli dan harga jual kembali emas di Antam berbeda?

Rupanya turut dipengaruhi adanya pajak, terutama jika Anda beli emas seharga lebih dari Rp10 juta. Diatur dalam PMK No.34/PMK.10/2017, emas batangan yang dijual kembali ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, akan dibebankan PPh 22 sebesar 1,5% (bagi pemegang NPWP) dan 3% (bagi yang tidak memiliki NPWP). PPh 22 atas transaksi jual kembali ini langsung dipotong dari total nilai buyback.

Sementara itu untuk pembelian emas batangan murni 24K, PPh 22 yang dikenakan sebanyak 0,45% (bagi pemegang NPWP) dan 0,9% (bagi yang tidak mempunyai NPWP). Pembeli pun berhak memperoleh bukti potong PPh 22 dalam setiap transaksi nantinya.

Satu hal yang menarik, ternyata tidak banyak yang menyadari kalau harga emas naik ini juga dialami di tingkat global. Sempat terpuruk beberapa waktu lalu, harga logam mulia ini bahkan dilaporkan naik 1,43% dalam kurun waktu seminggu terakhir. Kenaikan ini jauh lebih tinggi dibandingkan pekan sebelumnya yangc cuma mencatat 0,6%. Bahkan jika dirata-rata dalam satu bulan terakhir, emas sudah melambung sebesar 1,39%.

Baca juga: 15+ Istilah Investasi Saham yang Wajib Diketahui Pemula

CNBC Indonesia melaporkan bahwa harga emas dunia di pasar spot pada hari Jumat (22/10) ditutup pada level US$1.792 per troy ons. Sama seperti emas Antam, emas dunia ini juga meningkat 0,55% jika dibandingkan pencapaian hari Kamis (21/10). Apa yang berhasil dibukukan emas pada akhir perdagangan pekan ini tentu merupakan gambaran pandangan investor di tengah kecemasan atas inflasi.

Sedangkan jika boleh mundur satu pekan sebelumnya, harga emas sebetulnya sudah sempat mendekati level tertinggi dalam kurun waktu satu bulan terakhir di perdagangan Asia. Kala itu pada Rabu (13/10), emas di pasar spot bertahan pada level US$1.793,72 per ons. Sudah sangat mendekati pencapaian bulan lalu di level US$1.795,81 per ons di tanggal 16 September 2021 bukan?

Krisis Evergrande dan Inflasi, Penyebab Harga Emas Naik?

© CNN Business

Seperti yang sudah disebutkan, sebelum menguat dalam sepekan terakhir, tanda-tanda kalau harga emas naik sudah banyak diprediksi pada akhir September 2021. Hal ini didua kuat didorong karena melemahnya dolar AS sehingga investor memilih menghindari aset-aset berisiko yang dipicu oleh krisis Evergrande China.

Sekadar informasi, krisis Evergrande ini terjadi karena Evergrande yang sebelumnya dikenal sebagai Grup Hengda, akan mengalami serangkaian tenggat waktu untuk pembayaran bunga obligasi dengan total puluhan juta dolar AS. Tak heran kalau akhirnya raksasa properti Tiongkok ini dianggap sebagai pengembang real estate paling berhutang di muka Bumi. Demi membayar hutangnya, Evergrande menawarkan propertinya.

Krisis Evergrande semakin meningkat pada tahun 2020 saat China menetapkan aturan mengendalikan biaya pinjaman pengembang, sehingga membatasi utang yang akhirnya berkaitan dengan arus kas, aset, dan tentunya tingkat modal Evergrande. Agar bisnis tetap bertahan, perusahaan yang didirikan Hui Ka Yan pada tahun 1966 di Guangzhou melakukan diskon besar-besaran agar propertinya terjual.

Namun di saat Evergrande tengah berusaha sekuat tenaga membayar hutangnya, harga sahamnya anjlok hingga 80% di tahun 2021 ini. Dengan obligasinya yang juga diturunkan oleh lembaga pemeringkat kredit global, Evergrande kabarnya mengalami kehancuran arus kas yang begitu mengancam, seperti dilansir CNBC Internasional. Krisis ini akhirnya memicu pergolakan dalam pasar saham global.

Kenapa begitu?

Pertama, banyak investor dunia yang membeli properti Evergrande dan kini malah berpotensi bakal merugi jika perusahaan bangkrut. Kedua, banyak perusahaan yang berbisnis dengan Evergrande juga terancam kerugian besar dan bisa ikut-ikutan gulung tikar. Terakhir, Evergrande juga berpotensi membuat sistem keuangan China limbung lantaran perusahaan ini berutang kepada 171 bank domestik dan 121 perusahaan keuangan lainnya.

Tak heran kalau akhirnya jangkauan kerugian Evergrande ini juga membuat investor asing ikut cemas dan akhirnya memilih menyelamatkan uang yang ada ke emas saja. Namun tak hanya krisis Evergrande, diduga kuat harga emas naik ini juga dipicu atas kekhawatiran investor terhadap terjadinya inflasi.

Apalagi Jerome Powell selaku Ketua Bank Sentral Amerika Serikat alias Federal Reserve AS (The Fed), sudah memprediksi jika inflasi bakal meningkat hingga 2022, ditambah dengan The Fed hendak mengurangi stimulus. Antara melaporkan bahwa kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, meningkat 0,81% jadi US$1.796,30 per ounce pada hari Sabtu (23/10) ini.

Baca juga: Belajar Reinvestasi, Rahasia Orang Kaya Jadi Makin Tajir

Dalam konferensi pers virtual hari Jumat (22/10) kemarin, Powell memperkirakan kalau akan ada peningkatan inflasi AS hingga tahun depan, sehingga The Fed mau tak mau harus mulai mengurangi pembelian aset dengan segera, meskipun belum ada upaya menaikkan suku bunga. Bisa ditebak, tekanan inflasi ini langsung membuat emas dan perak melambung secara perlahan yang akhirnya ikut terdampak di Indonesia.

Dolar AS Melemah, Harga Emas Naik Hingga US$1.900 per Ounce?

via ghextractives

Selain karena inflasi, pelemahan nilai tukar dolar AS juga menajdi salah satu pemicu harga emas naik. Bahkan untuk pekan ketiga Oktober 2021 ini, Dollar Index yang menggambarkan posisi greenback atas enam mata uang utama dunia, terpaksa terkoreksi 0,35%. Tentu saja ini merupakan hubungan yang saling berbanding terbalik karena emas akan menguat saat nilai tukar dolar AS melemah.

Lantas dengan gejolak ekonomi di Amerika Serikat, apakah ada kemungkinan harga emas bisa naik lebih tinggi lagi?

Menurut Wang Tao selaku Analis Komoditas Reuters, potensi harga emas kembali menguat sangat terbuka lebar. Apalagi emas sudah menembus posisi resistance US$1.788 per troy ons, sehingga bukan tak mungkin mampu mencapai kisaran US$1.795 – 1.798 per troy ons. Jika sukses, emas pun bisa saja menembus US$1.800 per troy ons dan nyaman di level US$1.828 per troy ons.

Sesuai dengan prediksi Wang, David Meger selaku Direktur Logam Perdagangan di High Ridge Futures pun tak menampik jika emas bakal bisa menembus level tertingginya di akhir 2021 ini. Krisis energi global yang mengancam prospek ekonomi dan kecemasan luar biasa atas inflasi, membuat investor memilih aset safe haven. Karena bagaimanapun juga, logam mulia ini masih dianggap sebagai lindung nilai inflasi yang ampuh.

Kendati begitu Meger juga mengingatkan bahwa pengurangan stimulus The Fed dan kenaikan suku bunga ke depannya, akan membuat imbal hasil obligasi pemerintah jadi naik. Kalau sudah begini, investor akan berganti fokus pada aset-aset modern dan kembali meninggalkan emas yang membuat harganya bisa anjlok.

Meski Naik, Harga Emas Berpeluang Anjlok Lagi

via Twitter @GoldTelegraph

Kendati sudah dijelaskan panjang lebar mengenai harga emas naik dan prediksi mampu melambung sampai akhir tahun 2021 ini, investor tetap diminta waspada, termasuk di Indonesia. Hal itulah yang disampaikan oleh Alwi Assegaf selaku Analis Global Kapital Investama kepada Kontan. Menurut Alvi, suntikan stimulus yang dilakukan beberapa negara maju dan membuat mereka keluar dari resesi, bisa melemahkan harga emas.

Baca juga: Lebih Baik Mana, Investasi Rumah atau Apartemen?

Begitu berkilau menembus Rp1 juta per gram di pertengahan 2020, harga emas perlahan ambles di 2021. Apalagi aksi tapering yang dilakukan The Fed lewat pengurangan pembelian aset di bulan November 2021 hingga 2022 nanti sekaligus kenaikan suku bunga, membuat yield obligasi AS tenor 10 tahun naik ke posisi tertinggi dalam kurun waktu tiga bulan. Imbasnya, emas lagi-lagi tertekan.

Lantas apa yang bisa dilakukan investor di Indonesia? Tenang saja. Anda masih tetap menjadikan emas sebagai salah satu instrumen investasi andalan. Karena meskipun harga emas naik tidak bisa terjadi dalam waktu singkat selayaknya saham, forex hingga mata uang kripto, logam mulia ini sudah membuktikan diri sebagai aset investasi paling aman dari generasi ke generasi.

Bagikan ;

Tinggalkan komentar