Wajib Tahu, Dampak Ekonomi Perang Rusia-Ukraina Bagi Indonesia

Bulan Maret 2022 sepertinya dibuka dengan kondisi dunia yang tidak terlalu menggembirakan, terutama dalam hal ekonomi. Kenapa bisa begitu? Imbas berkepanjangannya konflik geopolitik di Rusia dan Ukraina. Bahkan meskipun berjarak cukup jauh, dampak ekonomi perang Rusia-Ukraina itu membuat Indonesia harus waspada.

Kenapa begitu?

Karena bagaimanapun juga, kedua negara di Eropa Timur itu terutama Rusia dikenal sebagai salah satu negara maju dunia. Bahkan negara yang dipimpin oleh Presiden Vladimir Putin itu disebut-sebut sebagai salah satu produsen gandum terbesar di dunia dan melakukan ekspor ke banyak negara, termasuk Indonesia juga.

Bukan hanya memberikan pengaruh ke sektor consumer goods seperti produksi mie instan, konflik bilateral biasanya memberikan pengaruh ke pergerakan minyak bumi sebagai komoditas yang sangat penting Cepat atau lambat, kondisi ini akan membuat pergerakan saham di lantai bursa jadi makin tidak terkenali yang semakin membuat investor cemas.

Cukup disayangkan memang karena apa yang terjadi pada Rusia dan Ukraina ini muncul saat pandemi Covid-19 bahkan belum ada tanda-tanda bakal usai. Negara-negara berkembang seperti Indonesia memang harus lebih menyiapkan strategi khusus supaya tidak memicu inflasi berkepanjangan yang malah kembali ke jurang resesi ekonomi.

Lantas, bagaimana sih sebetulnya dampak ekonomi perang Rusia-Ukraina bagi Indonesia ini? Ulasan berikut ini bisa coba Anda pertimbangkan.

Pemulihan Ekonomi Indonesia Terganggu Konflik Rusia-Ukraina

Sejak pecah di pekan terakhir bulan Februari kemarin, sudah banyak pihak yang cukup cemas dengan dampak ekonomi perang Rusia-Ukraina itu.

Termasuk Indonesia yang adalah negara berkembang, sekaligus pengimpor gandum dan minyak dari kedua negara Eropa Timur itu. Bahkan menurut Fadhil Hasan selaku ekonom senior Narasi Institute, konflik geopolitik ini seolah memperburuk pemulihan ekonomi tingkat global.

Melalui keterangan resminya, Fadhil bahkan turut membahas mengenai bagaimana posisi Rusia sebagai salah negara penghasil minyak terbesar di dunia.

Negara yang dipimpin Presiden Vladimir Putin itu bahkan memiliki produksi minyak hingga 10 juta barel per hari, yang mana kalau konflik berkepanjangan yang membuat minyak Rusia hilang di pasaran, maka sudah pasti akan membuat harganya melambung.

Apalagi kalau semakin banyak negara-negara di dunia yang memberikan sanksi ekonomi dan finansial kepada Rusia, Indonesia sebagai pengimpor minyak akan sangat terbebani.

Semakin parah karena saat ini inflasi dunia masih belum juga memperlihatkan raihan positif, lantaran masih digempur pandemi Covid-19. Jika memang dibiarkan, stabilitas ekonomi Indonesia bukan tak mungkin bisa terganggu.

Baca, Dampak Ekonomi Global Perang Rusia

Kinerja ekspor impor yang bermasalah karena distribusi minyak berkurang, bukan tak mungkin bakal memperlampat kembali pertumbuhan ekonomi, meningkatkan inflasi, menurunkan daya beli masyarakat, memperbanyak pengangguran dan yang terburuk, menggiring negara-negara berkembang termasuk Indonesia ke jurang resesi lagi.

Tak heran kalau Fadhil berharap pemerintah sudah melakukan mitigasi risiko atas risiko mengerikan yang terjadi pada Rusia.

Namun pendapat berbeda justru diungkapkan oleh Yusuf Rendy Manilet selaku ekonom CORE (Center of Reform on Economics).

Tidak seperti kecemasan Fadhil, Yusuf justru menilai kalau perang dampak ekonomi perang Rusia-Ukraina terhdap Indonesia tidak akan terlalu signifikan. Hanya saja posisi Rusia sebagai produsen utama minyak dan gas bumi, tetap akan memberikan pengaruh dan sentimen tersendiri pada pergerakan harga kedua komoditas itu.

Sebagai negara net-importir, hal itu akan mempengaruhi nilai impor migas Indonesia meskipun tidak memberi dampak signifikan pada neraca perdagangan, seperti dilansir Bisnis.

Yusuf di lain pihak, justru lebih fokus pada dampak konflik Eropa Timur itu pada tingkat inflasi global. Karena seperti penjelasan Fadhil, kenaikan harga minyak internasional jelas tak akan bisa dicegah jika Rusia memang akan memperoleh sanksi ekonomi.

IHSG Anjlok ke Level Merah Sejak Perang Rusia-Ukraina

Terlepas dari bagaimana dampak ekonomi perang Rusia-Ukraina ke Indonesia baik secara jangka pendek atau jangka panjang, gejolak tampaknya sudah mulai terasa di BEI (Bursa Efek Indonesia).

Di mana pada akhir Februari lalu, IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dilaporkan mengalami koreksi tipis sebesar 0,05%. Meskipun pada penutupan di penghujung Februari kemarin, IHSG berhasil menguat 1,03% ke level 6.888,17.

Naik-turunnya IHSG ini sendiri memang sudah dialami pelaku pasar modal sepanjang pekan kemarin. Setelah sempat menguat pada hari Senin, Rabu dan Jumat, IHSG justru terkoreksi pada Selasa dan Kamis.

Namun yang cukup membuat investor tersenyum adalah bagaimana IHSG sempat meraih rekor terbarunya alias ATH (All Time High) di level 6.902,06. Bahkan dalam waktu itu juga, nilai transaksi IHSG menyentuh RP84,6 triliun.

Adalah investor asing yang tampaknya masih belum terpengaruh betul oleh kondisi geopolitik Rusia dan Ukraina, karena tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) hingga RP4,4 triliun di seluruh pasar.

Tentunya kini pelaku pasar benar-benar berharap kalau investor asing akan tetap memberikan sentimen yang cukup baik terhadap IHSG di pekan pertama Maret 2022.

Bicara soal konflik yang pecah di Rusia dan Ukraina, sebetulnya kondisi ini bukanlah sesuatu yang terjadi dalam ‘satu malam’.

Sebagai negara pecahan Uni Soviet, Rusia dan Ukraina sempat mengalami konflik di masa lalu. Apalagi sekadar informasi, Ukraina yang kini menjadi ‘gerbang pelindung’ Rusia dari negara-negara Barat dianggap mulai condong ke Amerika Serikat dan sekutunya.

Hingga akhirnya pada Kamis (24/2) waktu setempat, Putin resmi mengumumkan operasi militer ke Ukraina. Menurut Putin, operasi militer ini dilakukan demi membela separatis di wilayah timur yakni Donestk dan Luhansk yang memang banyak dihuni orang-orang Rusia.

Sebelum melakukan pembelaan, Kremlin memang sudah mengakui kemerdekaan kedua wilayah tersebut sehingga mereka menempatkan pasukan Rusia demi menjaga perdamaian.

Lantaran aksi Rusia itulah, NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) yang dipimpin oleh Amerika Serikat memutuskan untuk mengadakan pertemuan darurat.

Langkah NATO ini sempat membuat pelaku pasar saham global ketar-ketir, tapi kemudian Presiden AS Joe Biden memberi pengumuman bahwa AS dan NATO tidak akan membalas Rusia dengan serangan militer, tapi cuma memberikan sanksi ekonomi.

Demi berjaga-jaga, Biden juga mengizinkan NATO menambah pasukan di Jerman untuk upaya memperkuat pertahanan kawasan Eropa. Atas keputusan Biden, Putin dengan tegas jika Rusia tidak akan mengganggu stabilitas perekonomian dunia.

Meskipun memang Rusia terus menggempur Ukraina termasuk serangan militer ke ibukota Kiev, dan kabarnya sudah menewarkan ratusan penduduk Ukraina.

Konflik-Konflik yang Harus Diwaspadai Selain Rusia-Ukraina

Dampak Ekonomi Perang Rusia Ukraina
© Reuters

Kendati dampak ekonomi perang Rusia-Ukraina bagi Indonesia dan masyarakat global bisa dibilang cukup berpengaruh, faktanya ternyata konflik yang terjadi di dunia bukanlah berpusat di Eropa Timur saja.

International Crisis Group bahkan merilis beberapa konflik geopolitik yang berpotensi terjadi dan harus diwaspadai penduduk dunia pada tahun 2022 ini:

1. Afghanistan

Pada tahun 2021 kemarin, tragedi perang di Afghanistan yang sudah terjadi selama puluhan tahun telah memasuki babak baru.

Hanya saja sejak Taliban merebut kekuasaan pada bulan Agustus tahun lalu dan berhasil menduduki ibukota Kabul tanpa perlawanan, bencana kemanusiaan masih dialami masyarakat Afghanistan. Bahkan menurut PBB, jutaan anak Afghanistan terancam kelaparan.

Atas aksi Taliban yang sudah dimulai dengan merebut kota-kota besar di Afghanistan itu, negara-negara di dunia mulai menjatuhkan berbagai sanksi ekonomi.

Mulai dari pembekuan aset negara sampai penghentian bantuan anggaran, kecuali untuk tujuan kemanusiaan. Meskipun begitu peluang bakal pecahnya konflik perang lagi di Afghanistan tampaknya tidak pernah benar-benar usai.

2. Amerika Serikat – China

Sudah menjadi rahasia umum bahwa dua kekuatan ekonomi dunia yang sama-sama merupakan negara maju yakni Amerika Serikat dan China, memang saling berseturu.

Bahkan kabarnya Amerika yang sudah mundur dari ‘cengkeramannya’ di Afghanistan sudah melakukan pakta baru yakni AUKUS bersama Australia dan Inggris. Disebut-sebut AUKUS ini merupakan ‘gerakan’ untuk melawan China.

Melalui AUKUS, antisipasi terhadap pergerakan dan kekuatan China pun semakin terasa baik melalui perekonomian, energi nuklir hingga militer.

Bukan tak mungkin kalau AUKUS akan membuat konflik antara Amerika Serikat dan China benar-benar pecah di masa depan dan menjadi ancaman atas terjadinya Perang Dunia Ketiga.

3. Yaman

Konflik berikutnya yang harus diwaspadai penduduk dunia bukan hanya memikirkan dampak ekonomi perang Rusia-Ukraina berasal dari Yaman. Sekadar informasi, saat ini di Yaman ada dua pihak yang sama-sama mengklaim sebagai pemerintah resmi negara tersebut.

Salah satu dari pihak itu adalah kelompok pemberontah Houthi yang ternyata sudah makin dekat dalam menguasai Ma’rib, provinsi dengan hasil minyak dan gas terkaya di Yaman.

Perlahan tapi pasti, para pemberontak Houthi ternyata melakukan ‘serangannya’ dengan cukup agresif. Bahkan mereka juga cukup berhasil dalam ‘menjinakkan’ pemimpin suku setempat yang membuat pemberontak Houthi sudah menguasai Al-Bayda yang berdampingan dengan Ma’rib.

Bukan tak mungkin jika Houthi terus bergerak menuju Shabwa bakal berhasil memotong pasokan ke Ma’rib dan menguasainya yang akan memicu perang internal Yaman.

4. Israel – Palestina

Dibandingkan dampak ekonomi perang Rusia-Ukraina, Amerika Serikat sepertinya tidak terlalu memperhatikan nasib rakyat Palestina yang sudah puluhan tahun digempur tentara Israel.

Bahkan bisa dibilang kalau ini adalah salah satu konflik kemanusiaan yang paling berkepanjangan. Bahkan terbaru, pendudukan di Yerusalem Timur kabarnya sudah memecah konflik di kedua negara itu.

Dilaporkan pada April 2021 yang bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, Israel melakukan ancaman pengusiran terhadap warga Palestina di lingkungan Sheikh Jarrah dan merusak Haram Al-Sharif (tempat suci Islam) dan Temple Mount (tempat suci Yahudi).

Peristiwa ini memicu Hamas yang menguasai Gaza, menembak roket jarak jauh ke Israel dan dibalas oleh mereka. Selama 11 hari konflik, lebih dari 250 warga Palestina kehilangan nyawa.

5. Haiti

Potensi konflik terakhir yang tidak bisa diremehkan kehadirannya datang dari Haiti. Sudah sejak lama kalau penduduk negara ini mengalami krisis politik, bencana alam hingga perang antar geng.

Bahkan gempa Haiti di tahun 2021 meluluh-lantahkan kawasan selatan Haiti. Di saat banyak bantuan internasional hendak datang, penculikan geng di ibukota Port-au-Prince jadi menghambat dan semakin membuat rakyat Haiti tersiksa.

Bahkan pada Juli 2021 lalu, Presiden Jovenel Moïse ditemukan tewas di rumahnya karena ulah pembunuh bayaran yang semakin membuat situasi negara mencekam.

Lantaran kondisi Haiti yang semakin tidak layak untuk ditinggali, banyak masyarakatnya memilih melakukan migrasi ke negara-negara lain. Jika memang dibiarkan, hanya tinggal menunggu waktu peperangan di Haiti bakal terjadi.

Baca, Strategi Jual Beli Saham Saat Pasar Bergejolak

Bagaimana? Ternyata apa yang terjadi di Rusia dan Ukraina bukanlah satu-satunya ancaman konflik bagi perekonomian global. Hanya saja meskipun dampak ekonomi perang Rusia-Ukrania bagi Indonesia bisa dibilang cukup pelik, penting bagi kita untuk tetap optimis dan memperkuat konfisi finansial. Sehingga dengan begitu tetap bisa menjalankan

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar