3 Alasan Kenapa Banyak CEO Berasal Dari India

Banyak yang bertanya mengapa CEO perusahaan teknologi berasal dari India, ini menginspirasi kami untuk menulis tentang 3 alasan kenapa banyak CEO berasal dari India.

Tentu kita tidak asing dengan nama seperti Sundar Pichai dari Alphabet yang membawahi Google atau Satya Nadella yang kini memimpin Microsoft.

Kemudian yang baru saja diangkat pada akhir tahun 2021 lalu yaitu Parag Agrawal sebagai CEO Twitter.

Dia telah bergabung dengan setidaknya selusin CEO kelahiran India lainnya di sudut kantor perusahaan teknologi di Silicon Valley, tempat perkembangan teknologi yang paling berpengaruh di dunia.

Menurut catatan statistik, penduduk asli India menyumbang hanya sekitar 1% dari populasi di Amerika Serikat dan hanya 6% dari seluruh jumlah tenaga kerja di Silicon Valley.

Namun secara tidak proporsional mereka yang 6% ini memiliki banyak keterwakilan pada posisi tinggi di perusahaan. Pertanyaanya penting adalah “Mengapa?”.

3 Alasan Mengapa Banyak CEO Berasal Dari India

Jika Anda ingin benar-benar mengetahui jawabannya, simak tulisan ini sampai habis dan Anda bisa temukan 3 alasan mengapa banyak CEO berasal dari India.

Ceo Berasal Dari India
instagram @sundarpichai

1. Persaingan di India Sangat Keras

Jika Anda berpikir bahwa hidup di Indonesia begitu sulit dengan ragam kompetisi kehidupan mulai dari mendapat pekerjaan, pendidikan layak, dan keadilan sosial.

Beragam kompetisi hidup semakin membuat banyak generasi muda depresi, kena mental, sedikit-dikit healing alias liburan yang menghabiskan uang.

Namun persaingan di India bisa lebih keras dari yang kalian bayangkan dan alami di Indonesia.

Mengutip R Gopalakrishnan, mantan direktur eksekutif Tata Sons dan salah satu penulis The Made in India Manager,  mengatakan bahwa “Tidak ada negara lain di dunia yang ‘melatih’ begitu banyak warganya dengan cara gladiator seperti India.”

“Tumbuh di India mendidik setiap individu untuk menjadi petarung secara alami, mulai dari pengurusan  akta kelahiran hingga akta kematian, dari penerimaan sekolah hingga mendapatkan pekerjaan, dari kekurangan infrastruktur hingga kapasitas yang tidak memadai”

Jangan Anda bayangkan bahwa kehidupan di India itu isinya penuh taburan bunga dan menyanyi sepanjang hari.

Realitas sebenarnya dari India dicontohkan oleh polisi yang selalu datang telat ke TKP atau seorang anak yang bekerja keras dan hampir depresi di film The White Tiger (2020).

Persaingan dan kekacauan, dengan kata lain, membuat orang India secara naluriah menjadi seorang problem solver yang dapat beradaptasi.

Faktanya, ini berpengaruh terhadap cara orang India bekerja yang lebih sering sering memprioritaskan profesionalitas daripada urusan pribadi.

Tentu ini sangat cocok diterapkan dalam budaya kantor Amerika yang mendorong setiap orang untuk melakukan banyak pekerjaaan.

2. Pendidikan

Sejak tahun 1960an, India melakukan pergeseran secara bertahap pada kurikulum pendidikan yang mengutamakan pengetahuan matematika, sains dan teknologi.

Rumpun pengetahuan tersebut dikenal dengan istilah STEM, yaitu Sains, Technology, Engineering, dan Math.

Anda akan sangat mudah menemukan kampus berbasis teknologi di banyak kota di India yang bernama Indian Institute of Technology, ini berada dibawah naungan kementerian pendidikan India.

Ceo Berasal Dari India

Tidak lupa menerapkan bahasa inggris sebagai bahasa pendidikan di India yang membuat mereka bisa mengakses ragam literatur pengetahuan terkini dari Eropa dan Amerika.

Kemudian juga memudahkan saat lulusan kampus teknologi India untuk bersaing di luar negeri, entah itu Eropa atau Amerika.

Kebijakan pengetatan imigrasi Amerika yang memprioritaskan pekerja profesional sejak tahun 1960an juga membuat para alumni kampus teknologi di India dengan mudah mendapat ijin kerja di Amerika.

Kebijakan ini seperti sebuah ucapan selamat datang bagi para alumni institut teknologi di India yang menguasai bidang STEM dan sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja kelas atas di Amerika Serikat.

Dalam dua dekade ini, Lebih dari 70% visa H-1B yaitu izin kerja untuk orang asing yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat diberikan kepada insinyur perangkat lunak India.

Kemudian hampir 40% dari semua insinyur asal luar negeri yang tinggal di kota-kota seperti Seattle berasal dari India, memberi peluang lebih besar bagi mereka untuk bisa menjadi CEO berasal dari India.

Kelompok imigran dari India ini tidak menyerupai kelompok imigran lain dari negara lain mana pun.

Mereka terpilih dengan proses seleksi tiga kali lipat lebih ketat dari para insinyur dari negara lain.

Seleksi dalam kehidupan sosial yang sengit di India, seleksi dalam persaingan di bangku kuliah, dan juga seleksi kerja untuk masuk ke perusahaan teknologi di Amerika.

Meski sebagian kecil dari orang-orang India ini sudah memiliki hak istimewa, yaitu terlahir dari kasta atas dan mampu pergi ke perguruan tinggi terkenal dan mahal.

Kemudian juga bagian yang lebih kecil yaitu mereka yang dapat membiayai pendidikan master di AS, sebagaimana yang kini bisa dijumpai di Silicon Valley.

3. Revolusi Budaya Kerja dan Sikap Mental

Budaya kerja merupakan salah satu isu yang mendominasi permasalahan perusahaan teknologi di Silicon Valley.

Seperti yang dipraktikkan oleh Satya Nadella, seorang CEO berasal dari India yang mengambil alih sebagai CEO Microsoft pada Februari 2014. Dia mewarisi budaya beracun di perusahaan yang dianggap sebagai dinosaurus teknologi.

Bill Gates, pendirinya, dikenal suka mencaci maki karyawan, dan Steve Ballmer, yang menggantikan Gates, melanjutkan taktik bisnis keras yang dibenci para mitra.

Microsoft telah kalah dalam pertempuran untuk smartphone, dan Nadella mengarahkan platform teknologi Microsoft untuk fokus pada desktop dan membuka jalan ke teknologi cloud.

Seperti yang ditulis oleh Alex Salkever dalam buku “From Incremental to Exponential”, Nadella memilih untuk fokus terlebih dahulu  mengubah budaya Microsoft.

Sejak lahir di India, dan dengan keyakinan Buddhis, dia bertekad untuk mengubah perusahaan menjadi perusahaan yang merangkul apa yang dia sebut keingintahuan untuk “mempelajari segalanya”, berbeda dengan pandangan dunia saat ini yang diarahkan untuk “mengetahui segalanya”.

Nadella kini menjelaskan bahwa perilaku lama dan agresif tidak lagi diterima di lingkungan Microsoft.

Microsoft kini tidak menoleransi kemarahan atau teriakan dalam rapat eksekutif.

Sebagai CEO berasal dari India, Nadella memberi contoh dengan tidak pernah meninggikan suaranya sendiri atau menunjukkan kemarahan yang terang-terangan kepada karyawan atau eksekutif.

Ceo Berasal Dari India
id.wikipedia.org

Tidak pernah menulis email kemarahan, dia terus-menerus bekerja untuk menciptakan lingkungan yang lebih nyaman.

Sebagai hasil dari pergeseran budaya dan perubahan strategi berkat arahan Satya Nadella, kapitalisasi pasar Microsoft  meningkat dari sekitar $300 miliar pada kenaikan Nadella menjadi $2,5 triliun dan menjadikannya salah satu dari dua perusahaan paling berharga di dunia.

Begitu pula dengan Sundar Pichai, CEO berasal dari India yang juga mewarisi perusahaan dengan masalah budaya.

Google dikenal memiliki  budaya tempat kerja yang permisi , dimana hubungan seksual antara eksekutif puncak dan karyawan menimbulkan ketegangan internal.

Dengan sikap Indianya yang lembut dan rendah hati, Pichai mengarahkan serombongan besar tim perusahaan Alphabet ke perairan yang lebih tenang dan mengatur ulang tata etika di lingkungan kerja.

Hasilnya adalah dia mencapai kesuksesan luar biasa seperti halnya CEO berasal dari India lain seperti Shantanu Narayen dari Adobe dan Jayshree Ullal dari Arista Networks.

Di luar sektor teknologi, CEO berasal dari India lain juga telah meninggalkan jejak mereka di banyak perusahaan termasuk Indra Nooyi di PepsiCo dan Ajay Banga di Mastercard.

Semua itu berkat kepemimpinan yang halus berdasarkan proses yang telah mereka lalui di perusahaan tersebut yang menapaki tangga perusahaan dari bawah.

Ini memberi mereka rasa kerendahan hati yang membedakan mereka dari banyak CEO yang berasal dari pendiri perusahaan dengan kecenderungan sikap arogan dan memiliki kuasa besar dalam visi dan manajemen mereka.

Alex Salkever juga mengatakan orang-orang seperti Mr Nadella dan Mr Pichai juga membawa sejumlah kehati-hatian.

Mereka merefleksikan sebuah budaya “lembut” khas ajaran Hindu dan Buddha yang membuat mereka menjadi calon ideal untuk posisi teratas dalam sebuah perusahaan.

Terutama pada saat reputasi teknologi besar telah anjlok di tengah dengar pendapat Kongres di Amerika, tentang perlindungan data pengguna dan jurang yang melebar antara yang terkaya di Silicon Valley dan seluruh Amerika.

Kepemimpinan rendah hati yang mereka jalankan adalah nilai tambah yang besar, kata Saritha Rai, seorang reporter teknologi dari Bloomberg News.

Masyarakat India yang beragam, dengan begitu banyak adat dan bahasa memberi para CEO berasal dari India kemampuan untuk menavigasi situasi yang kompleks terutama ketika menyangkut penskalaan organisasi.

Ditambah dengan etika ‘kerja keras’ yang membuat mereka berkembang dengan baik,” tambahnya.

Pengakuan Orang Amerika atas CEO Berasal dari India

Itu semua adalah sifat yang akan diakui dan dihargai oleh dewan komisaris perusahaan mana pun, terutama ketika pilihan lainnya adalah pendiri perusahaan yang arogan dan sangat percaya diri bahwa mereka berhak atas pekerjaan mereka.

3 alasan inilah yang memungkinkan seorang CEO baru bisa mengubah budaya perusahaan jadi lebih sehat dan produktif. Inilah yang diyakini telah memberikan keuntungan bagi para CEO berasal dari India.

Ini mungkin juga alasan mengapa dewan Twitter dengan suara bulat menyetujui rekomendasi Jack Dorsey untuk  menunjuk Parag Agrawal sebagai penggantinya, lagi-lagi CEO berasal dari India.

Transformasi budaya kerja adalah yang mungkin dibutuhkan Twitter di atas segalanya.

Twitter telah menerima rentetan kritik yang dibenarkan atas budaya kerja yang beracun  dan ketidakpekaan terhadap pelanggaran pada platformnya.

Ditambah dengan status Jack Dorsey adalah CEO paruh waktu bagi perusahaan lain, yaitu Start-up pembayaran Square yang sedang membangun ekosistem blockchain dan cryptocurrency.

Pendahulu Dorsey, Dick Costolo, adalah seseorang yang mempraktikkan budaya chauvinistik perusahaan dan dewan yang semuanya laki-laki.

Seperti yang dilakukan banyak CEO teknologi, dia sangat suka menyerang orang di depan umum daripada mendengarkan kritik.

Itu adalah respons yang tidak akan dilakukan oleh CEO berasal dari India, dan itulah sebabnya mereka dipilih untuk menjalankan perusahaan teknologi terkemuka di Amerika.

Baca juga: 6 Tips Membangun Relasi Bisnis

Penutup

Tidak ada keraguan bahwa persaingan hidup, pendidikan, dan perilaku memberikan kekuatan untuk berjuang di tanah rantau dan membuat Parag Agrawal, Satya Nadella dan lainnya bisa menjadi CEO berasal dari India.

Di negeri berpenduduk lebih dari satu miliar orang, yang sebagian besar terhambat oleh korupsi yang merajalela, infrastruktur yang lemah, dan peluang yang terbatas, dibutuhkan banyak hal untuk bertahan hidup, apalagi untuk maju.

Orang India belajar untuk menjadi tangguh, melawan rintangan tanpa akhir, dan memanfaatkan apa yang mereka miliki.

Namun tidak perlu menunggu Indonesia harus menjadi seperti India baru bisa mengorbitkan para talenta terbaiknya di kancah profesional.

Seharusnya dengan ragam beasiswa yang disediakan oleh pemerintah, harus memotivasi generasi muda untuk bisa belajar dengan baik untuk memenangi persaingan di kancah global untuk bisa seperti para CEO berasal dari India diatas.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar