Cara Memilih Saham Sehat di Bursa Untuk Investasi Jangka Panjang

Photo of author
Written By Yulinda Nurlisdiana

Penulis di Folderbisnis.com, Selamat menikmati artikel artikel terbaik kami. 

Baca di Google News

Di Bursa Efek Indonesia ada sekitar 600an saham yang terdaftar. Wajar, jika sebagai pemula Anda masih bingung memilih saham mana yang akan di beli. Tidak usah khawatir, kini Anda melacak manakah yang termasuk saham sehat dan saham mana saja yang sakit. Untuk itu, baca artikel ini sampai selesai yuk!

Kebanyakan investor saham pemula sering mencari rekomendasi ataupun bocoran saham mana yang akan naik di esok hari. Padahal Lo Kheng Hong sang legenda value investor Indonesia menyarankan untuk tidak membeli saham karena ikut-ikutan saja. Sebaliknya, mari biasanya untuk membaca laporan keuangan perusahaan sebelum memutuskan membeli saham suatu emiten.

Dengan begitu kita bisa tahu, mana saja saham-saham sehat dan bisa kita beli untuk investasi jangka panjang. Idealnya, kita memang perlu membaca satu persatu laporan keuangan perusahaan yang di terbitkan tiap kuartal. Namun hal tersebut pasti akan sangat merepotkan.

Lalu solusinya bagaimana?

Sebenarnya ada cara untuk memeriksa kondisi saham incaran kita yang melantai di BEI dengan lebih ringkas dan mudah.

Jadi sebelum bergelut dengan laporan-laporan keuangan perusahaan, Anda bisa melakukan beberapa langkah sederhana ini, supaya Anda lebih bisa memprediksi apakah saham dari perusahaan incaran Anda layak untuk lanjut di teliti ataukah tidak. Apakah saham tersebut sehat ataukah sakit.

Baca juga, Saham GoTo IPO! Ini 6 Hal yang Perlu di Perhatikan!

Definisi Perusahaan yang Sehat

Cara Memilih Saham
sumber gambar : unsplash.com/ austin diestel

Sebelum membahas lebih lanjut, pertama-tama, kita definisikan terlebih dahulu bagaimana ciri perusahaan yang memiliki bisnis yang sehat. Sederhananya, bisnis yang sehat itu adalah perusahaan yang :

  • Terus bertumbuh
  • Mampu meraup untung yang besar
  • Bisa mengelola kas/ keuangan perusahaan secara efektif dan efisien serta
  • Mengelola hutang produktif yang bisa menghasilkan bisnis yang lebih baik.

Dari sini Anda sudah bisa menebak, bagaimana definisi perusahaan yang tidak sehat (sakit) kan?

Bisnisnya pasti tidak stabil kadang untung kadang rugi, biaya dan beban yang di tanggung juga besar, dari segi pengelolaan sumberdayanya sangat berantakan, bahkan hutang perusahaannya lebih besar di banding dengan kemampuan perusahaan tersebut dalam membayar.

Sebagai pemula, Anda pun harus tahu bahwa di pasar modal tidak sedikit perusahaan yang dari luar nampak baik-baik saja. Misalnya saja produk-produknya sering kita lihat di berbagai toko, atau gedung kantornya megah, tapi ternyata kondisi bisnis dari perusahaannya sedang kurang sehat.

Malah justru ada juga yang sebaliknya. Nama perusahaannya mungkin belum terlalu di kenal masyarakat, tapi ternyata profit perusahaannya besar dan stabil serta memiliki manajemen yang bagus. Nah, perusahaan-perusahaan seperti ini biasanya menjadi incaran Lo Kheng Hong.

Pertanyaannya sekarang, lalu bagaimana sih caranya mengetahui mana saja perusahaan-perusahaan yang sehat? Inilah cara untuk melihat rekam jejak perusahaan tanpa terlalu pusing membaca laporan keuangan perusahaan lembar demi lembarnya!

Cara Melacak Saham Sehat dan Saham Sakit

Saat ini, sudah banyak aplikasi yang menyediakan laporan fundamental perusahaan menggunakan grafik. Dengan begitu, kita lebih mudah untuk memahaminya, dibanding membaca ratusan lembar laporan keuangan. Contohnya saja grafik yang ada di aplikasi Ajaib.

Anda bisa memilih terlebih dahulu, emiten mana yang hendak Anda teliti, dengan memilih kode emiten. Lalu pilih menu ‘keuangan’ pada aplikasi.

Misalnya kita sebut saja saham ABCD. Disana ada beberapa grafik yang bisa Anda lihat, diantaranya income statement, balance sheet dan juga cash flow. Ketiga hal inilah yang akan kita bahas untuk mengidentifikasi saham yang sehat dan kurang sehat.

Untuk Anda yang masih belum familiar dengan istilah-istilah keuangan tersebut jangan khawatir. Karena kita akan membahasnya secara detail satu persatu.

1. Income Statement (Laporan Laba Rugi)

Pertama adalah grafik yang menunjukan income statemen atau kita sebut sebagai laporan laba rugi. Di dalam garfik ini, Anda akan melihat rekam jejak penjualan saham ABCD selama beberapa tahun kebelakang.

Selain itu, Anda juga bisa melihat hasil revenue yang menggambarkan seberapa besar uang yang masuk berasal dari penjualan produknya.

Jika jumlahnya semakin besar artinya itu pertanda baik. Lalu ada juga yang namanya net income yang menunjukan sebesar apa keuntungan perusahaan setelah semua pemasukan di kurangi seluruh biaya yang harus di keluarkan perusahaan. Seperti biaya produksi, biaya operasional, pajak dan lain-lain.

Di dalam garfik income statement biasanyanya juga dilengkapi dengan data profit margin atau keuntungan bersih jika di bandingkan dengan pemasukan perusahaan. Jika Anda melihat grafik profit margin terus naik maka hal tersebut adalah pertanda baik.

Karena artinya, laba perusahaan besar sekali jika dibandingkan dengan pemasukan dari penjualan produknya. Semakin tinggi profit margin juga berarti menandakan bahwa perusahaan bisa mengelola dananya dengan efektif dan efisien.

Contohnya saja saham SIDO yang pemasukannya selalu naik setiap tahun bahkan di saat pandemi covid tahun 2020 yang lalu. Dari sini kita bisa melihat bahwa dari segi pemasukan perusahaan SIDO itu sehat sekali.

Contoh lainnya sebut saja saham AISA yang produk snacknya bisa kita temukan dimana-mana. Dari segi revenue saham ini kurang stabil. Sejak tahun 2015, pemasukannya malah turun terus menerus. Bahkan net incomenya sempat minus yang artinya perusahaan tersebut sempat merugi.

Tapi menariknya, profit margin AISA sempat melambung tinggi pada tahun 2019 yang lalu. Padahal di tahun 2017 dan 2018 nya sempat merugi. Hm.. ada apa ya kira-kira?

Nah, jika Anda menemui hal semacam ini Anda wajib mengeceknya di laporan keuangan perusahaan. Ternyata setelah di teliti, meningkatnya net income AISA pada tahun 2019 di sebabkan oleh sisa piutang lain-lain dan di catat sebagai pendapatan setelah salah satu anak perusahaan AISA yaitu PT Dunia Pangan dilikuidasi. Selain itu, net income yang meningkat tajam ini juga berasal dari selisih nilai wajar dari restrukturisasi utang Obligasi Sukuk milik AISA.

Dari sini, Anda bisa mulai menganalisis seperti apa sih saham dari perusahaan incaran Anda.

2. Balance Sheet (Laporan Neraca)

Sekarang kita masuk ke grafik yang kedua yakni balace sheet atau laporan neraca. Di laporan neraca kita akan di tunjukan 3 hal yaitu : Total assets, Total liabilities, dan juga Debt equity ratio. KIta bahas satu-satu.

Pertama, grafik total assets menunjukan keseluruhan nilai kekayaan perusahaan. Mulai dari modal yang di miliki sampai dengan kewajiban yang harus di penuhi perusahaan. Semakin tinggi assetnya berarti perusahaan tersebut nilainya semakin besar.

Kedua, grafik liabilities yang menggambarkan kewajiban yang harus di penuhi oleh perusahaan. Misalnya hutang atau biaya lainnya yang harus di bayarkan kepada pihak lainnya di kemudian hari. Selain itu ada juga Debt Equity Ratio (DER) yang menggambarkan rasio utang perusahaan terhadap nilai ekuitas atau modal perusahaan.

Jika DERnya semakin rendah, artinya beban perusahaan tersebut semakin kecil di masa depan di bandingkan dengan modal bersih perusahaan.

Sebaliknya, jika DER semakin membesar apalagi melebihi nilai 100% artinya rasio utang perusahaan semakin besar bahkan bisa melebihi modal bersih yang dimiliki oleh perysahaan tersebut.

Nah sekarang kita lihat lagi saham SIDO yuk!

Ternyata, total aset SIDO terus bertumbuh naik dari tahun ketahun. Disisi lain kewajiban atau liabilitasnnya SIDO juga naik.

Nah, dalam hal ini, nilai DER dari SIDO sempat naik di tahun 2018 dan juga 2020 namun turun kembali di tahun 2021. Artinya, meskipun total asetnya terus tumbuh namun disisi lain ada kewajiban yang juga terus membesar yang harus di tunaikan perusahaan.

Sekarang kita kembali ke saham AISA!

Pada saham AISA dimana liabitias perusahaan sejak tahun 2014 hingga 2019 yang lalu terus bertumbuh. Sedangkan jumlah asetnya secara signifikan terus menurun. Uniknya, rasio hutangnya juga menurun sejak tahun 2018 sampai dengan tahun 2019. Kok bisa begitu ya?

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, jika terdapat kejanggalan sebaiknya kita langsung cek laporan keuangan perusahaannya.

Dalam kasus AISA ini ternyata penyebabnya adalah adanya penyesuaian yang di lakukan perusahaan karena perusahaan ini memutuskan untuk menghentikan operasiional divisi beras yang dimilikinya pada tahun 2017 yang akhirnya menurunkan aset perusahaan.

3. Cash Flow (Arus Kas)

Terakhir, ada grafik cash flow atau laporan arus kas. Cash flow statement ini menggambarkan bagaimana aliran uang masuk dan keluar. Disini ada 3 hal yang bisa kita amati : Operating Cashflow, Investing Cash flow, dan juga Financing Cash Flow.

Pertama, operating cashflow ini menunjukan bagaimana perusahaan bisa menghasilkan dana kas dari kegiatan operasional untuk mendapatkan profitnya. Jika operating cashflownya positif artinya perusahaan tersebut mampu menghasilkan dana kas dari kegiatan bisnis operasional perusahaan.

Sebaliknya jika nilainya negatif, artinya pengeluaran operasional perusahaan lebih besar di bandingkan pemasukannya.

Yang kedua, ada investing cashflow. Jika investing cashflow nilainya positif artinya bisa jadi perusahaan sedang melakukan penjualan aset-asetnya. Sementara jika negatif, artinya ada uang yang di keluarkan untuk berbelanja aset perusahaan. Misalnya beli tanah, mesin dll.

Biasanya, jika dilihat dari sisi bisnis, investing cashflow yang positif dianggap kurang bagus. Sebab artinya perusahaan sedang melakukan efisiensi atau sedang membutuhkan uang sampai harus menjual aset-asetnya. Penjualan aset tersebut tentu saja bisa berpengaruh pada tingkat produksi yang menurun.

Nah, justru investing cashflow yang negatif justru dianggap wajar. Karena mestinya perusahaan akan mengeluarkan uang untuk membeli maupun merawat aset-aset yang dimilikinya.

Yang terakhir adalah fianncing cashflow yang menggambarkan arus kas yang berhubungan dengan pinnjaman atau utang dan juga suntikan modal dari para pemegang saham. Jika financing cashflownya positif artinya perusahaan mendapatkan pinjaman baru/ berutang. Nah jika negatif, artinya perusahaan sedang membayar uatang ataupun dividen perusahaan.

Baca juga, 10 Saham Blue Chip Terbaik di Indonesia

Untuk menilai hal ini, kita harus melihat dulu latarbelakangnya. Pengajuan pinjamaan perusahaan bukanlah menjadi hal yang buruk jika sebuah perusahaan mengajukan pinjaman baru untuk ekspansi usaha, apalagi jika kita melihat kalau operasionalnya bagus dan rasio utangnya sehat.

Tapi jika pinjaman tersebut tidak disertai dengan manajemen yang bagus dan juga rasio utangnya buruk maka pinjaman perusahaan tersebut perlu kita pertanyakan.

Penutup

Nah itu cara untuk mendeteksi saham sehat dan saham sakit yang ada di BEI. Jadi setelah Anda membaca artikel ini, Anda bisa langsung belajar mempraktikannya untuk deteksi awal pada saham-saham incaran Anda.

TRADING FOREX DI OCTA.ID

PerusahaanPT. Octa Investama Berjangka
Regulasi
Bappebti
54/BAPPEBTI/
SI/05/2013
Min.Lot0.1
Min.Deposit$100
Situswww.octa.id

Tinggalkan komentar