Cara Jadi Kaya dengan Berhutang Produktif Untuk Pemula

Berhutang produktif? Memangnya ada?

Bagi sebagian orang, berhutang adalah ide yang buruk untuk menyelesaikan masalah yang sedang di hadapi. Ketika mendengar kata ‘hutang’, biasanya di asosiasikan sebagai hal negatif yang akan membuat kita terjebak dalam lingkaran setan dan hanya menambah masalah.

Tapi bukan sembarang melakukan pinjaman, justru berhutang produktif bisa membuat kita semakin kaya loh!

Berhutang sejatinya adalah sebuah alat, tapi hanya jika kita menggunakannya dengan tepat. Sebab nyatanya banyak kok pengusaha sukses yang awalnya bermodalkan hutang. Hal ini karena mereka memilih jenis hutang produktif, bukan hutang konsumtif. Hm.. apa perbedaan dari hutang produktif dan konsumtif ya?

Hutang Produktif dan Hutang Konsumtif

Baiklah, kita bahas dulu topik yang pertama, yakni hutang produktif. Apa itu hutang produktif?

Hutang produktif adalah pinjaman yang di ambil untuk keperluan bisnis. Misalnya modal untuk membeli bahan baku dan menyewa tempat untuk bisnis, membeli kursus online untuk meningkatkan skill/ sertifikasi, membeli properti lalu di sewakan, atau apapun kebutuhan bisnis lainnya. Anda bisa mendapatkan pinjaman produktif dari berbagai sumber.

Baca juga, 10 Pinjaman Modal Usaha Terbaik 2021 (Bunga dan Syaratnya)

Artinya, dengan nominal pinjaman yang Anda ambil tersebut nilainya di arahkan untuk terus bertambah seiring berjalannya waktu. Sampai menjadi sumber penghasilan lain di masa depan.

Lalu apa yang dimaksud dengan hutang konsumtif?

Kebalikan dari hutang produktif, hutang konsumtif justru membuat nilai pembelian dari uang yang di pinjam akan berkurang bahkan menjadi boomerang. Sebab hutang konsumtif digunakan hanya untuk memenuhi konsumsi, mulai dari kebutuhan yang esensial hingga keinginan semata.

Misalnya saja, Anda ingin mengganti smartphone dengan seri yang terbaru, namun caranya dengan mengambil KTA. Smartphone ini cenderung hanya di gunakan untuk kebutuhan keseharian saja. Karena bukan hanya pokok saja yang harus Anda bayar, tapi juga bunganya.

Nah disinilah celakanya hutang konsumtif!

Pinjaman online memang mudah di cairkan, bahkan dengan hitungan detik. Tapi bunga yang harus di bayar sangat besar. Belum lagi jika ada keterlambatan pembayaran. Jika sudah tidak sanggup membayar, maka Anda sangat mungkin akan terjebak dalam lingkaran setan hutang piutang.

Lalu bagaimana caranya berhutang produktif khususnya jika bkita masih merintis bisnis? Yuk lanjutkan membaca artikel ini sampai tuntas!

1. Pastikan Alokasi Penggunaannya

Sumber gambar : pixabay.com/ mohamed_hassan

Hal pertama yang harus kita pastikan adalah tentang alokasi penggunaannya. Seperti yang sudah di sebutkan sebelumnya, hutang produktif dan konsumtif tentu saja akan berbeda secara tujuan. Tapi terkadang bisa saja secara tidak sadar kita mencari-cari alasan untuk berhutang dengan alasan hutang produktif alias rasionalisasi. Apalagi jika Anda berencana untuk berbisnis jasa, konten digital atau jenis bisnis lain yang bukan berupa barang.

Untuk mengujinya, Anda bisa melakukan kroscek pada rencana bisnis yang sudah Anda buat. Nah, hutang yang akan di ambil biasanya akan di alokasikan untuk membeli peralatan atau modal untuk hal lainnya yang mendukung bisnis. Coba identifikasi fungsinya, seberapa signifikan untuk bisnis? Jika kesulitan mengidentifikasi secara detail, buatlah bagan alokasi hutang seperti contoh alokasi penggunaan untuk menjadi content creator di bawah ini!

NoDaftar ModalHarga (Rp)FungsiGoalsRencana Monetisasi (sudah riset/ belum riset)
1Camera6.000.000– Membuat film untuk youtube
– Membuat konten gambar instagram
– Gambar di instagram dan Video youtube berkualitas
– Memahami avatar pasar (audiens) dalam kurun waktu 3 bulan (misalnya)
– Adsense (sudah riset)
– Endorse (sudah riset)
– Affiliate (belum riset)
2Microphone300.000– Membantu suara di konten youtube lebih jernih
3Tripod + Ring light100.000– Membantu angle dan kualitas gambar dan video
4Online Course400.000– Meningkatkan ilmu dan skill dalam pembuatan dan pengelolaan konten
5Dan seterusnya….
Contoh bagan menguji hutang produktif

Baca juga, Tips dan Cara – cara Monetisasi Youtube, Blog, Instagram

Selain bagan diatas, Anda juga bisa mengujinya dengan mempertanyakan hal-hal berikut!

  • Apa produk yang kita hasilkan dari berhutang produktif ini?
  • Apakah jika tidak melakukan peminjaman bisnis masih bisa berjalan?
  • Kapan gambaran pinjaman akan bisa di lunasi?
  • Apakah pelunasan hutang berasal dari keuntungan/ hasil bisnis tersebut atau dari sumber lain dalam 6 bulan- 1 tahun mendatang? (ini akan di dalami pada poin ke 2 nanti)

2. Menghitung Proporsi Hutang

Berapa banyak untuk hutang konsumtif dan berapa banyak hutang produktif Anda?

Jika Anda memiliki hutang lain khususnya hutang konsumtif misalnya cicilan rumah, kendaraan dan lainnya, maka sebaiknya Anda perhitungkan dengan baik tentang proporsi hutang Anda. Jangan sampai dengan adanya hutang akan mengganggu kelangsungan hidup Anda. Misalnya Anda jadi kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Memang betul, bahwa hutang produktif itu merupakan hal yang positif namun tetap harus di pertimbangkan dengan baik. Dan akan lebih baik jika porsi hutang produktif Anda lebih banyak di banding hutang konsumtif. Tapi walaupun begitu, banyak perencana keuangan berpendapat bahwa porsi hutang Anda tidak boleh melebihi 25% penghasilan perbulan. Jika sudah lebih, bmaka hati-hati ini akan menjadi red flag untuk keuangan Anda.

3. Perhitungkan Kemampuan Untuk Membayar Hutang

Sumber gambar : pixabay.com/ Firmbee

Poin ketiga ini sebenarnya masih berhubungan dengan poin sebelumnya. Anda harus tahu kemampuan untuk membayar hutang. Apalagi jika bisnis Anda belum bisa menghasilkan keuntungan secara ekonomis atau masih awal-awal merintis.

Lalu bagaimana jika ternyata kemampuan pembayaran hutang sudah maksimal?

Ketika Anda tahu bahwa porsi hutang konsumsi masih mengambil porsi hutang dari ‘jatah’ maksimal 25% dari pendapatan/bulan itu, maka opsi yang bisa di ambil adalah :

a. Mau tidak mau Anda harus rela menahan untuk berhutang lagi, meskipun itu untuk hutang produktif

b. Anda harus mengurangi pembelian bulanan (berhemat untuk dalam kebutuhan rutin bulanan)

c. Meningkatkan income dengan mencari side hustle untuk membayar hutang (ini tidak di sarankan jika membuat Anda kehilangan fokus)

Kira-kira mana yang Anda pilih jika mengalami kondisi diatas? Opsi a, b, c atau Anda punya alternatif solusi lainnya? Intinya dari poin kedua ini adalah selalu perhitungkan kemampuan dalam membayar hutang produktif.

4. Perhatikan Pengelolaan dan Pengalokasian Hutang

Saya pernah mendengar seorang bijak berkata, kalau jika seorang pebisnis mengambil langkah ‘berani’, sebenarnya itu adalah langkah yang sudah di hitung dan ia melihat 51% potensi keberhasilan dan 49% kegagalan.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa di balik keberanian para pebisnis yang berhutang produktif, di baliknya ada pembacaan potensi keberhasilan meskipun itu tipis. Justru akan aneh jika mereka memilih keputusan berhutang padahal mereka tahu bahwa bisnis tersebut akan lebih banyak gagalnya. Mereka ‘berani’ mengambil resiko, karena menghitung!

Nah, hal ini juga mungkin bisa kita terapkan pada diri kita sendiri. ‘Berani’ berhutang produktif, untuk menggapai impian dan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Memang tidak ada yang pasti. Banyak sekali variable yang di luar kendali kita dan bisa membuat bisnis mengalami kegagalan. Tapi namanya bukan pebisnis jika tidak memiliki plan b,c,d dan seterusnya.

Jadi jangan takut untuk berhutang produktif, namun tetap perhitungkan dan kelola dengan baik pengalokasiannya. Tidak sembarangan berhutang, atas nama hutang produktif.

5. Observasi Data

Sumber gambar : pixabay.com/ Buffik

Jika bisnis sudah mulai berjalan, Anda harus melakukan observasi. Sebab seperti yang sudah di sebutkan sebelumnya, sebagai pemula wajar jika banyak variabel yang masih belum kita tahu di awal bisnis meskipun sudah kita persiapkan dengan maksimal.

Nah justru masa awal berbisnis adalah momentum penting untuk mengumpulkan data. Jadi jangan terlalu down jika bisnis Anda belum berhasil balik modal bahkan jika bisnis belum bisa menghasilkan uang dan menutupi pinjaman. Di era digital seperti saat ini, bisa di bilang bhawa data adalah ‘mata uang’ baru jika kita mampu membaca dan mengelolanya. Supaya kita bisalebih menikmati prosesnya, anggap saja modal awal kita adalah biaya untuk mendapat pendidikan bisnis dilapangan riel.

Apa saja hal penting yang perlu di observasi di masa awal?

  • Siapa pasar kita?
  • Apa yang mereka butuhkan?
  • Apa yang mereka suka dan tidak suka?
  • Dimana mereka biasanya berkumpul?
  • Dari mana asal mereka? (wilayah, alat yang di gunakan untuk menjangkau produk kita dll)
  • Apa saja hal prioritas yang perlu di improve sesuai kemampuan kita saat ini? Apa goalnya?

*Anda bisa memanfaatkan fitur-fitur digital yang tersedia untuk mendapatkan data-data ini (seperti google analytics, instragram insight dll)

6. Evaluasi Pertambahan Aset Secara Berkala

Ketika bisnis sudah mulai bisa menghasilkan secara ekonomis, ini adalah tanda yang bagus. Tapi ini juga berarti Anda harus tetap mengevaluasi pertambahan asetnya secara berkala. Bukan sekedar melihat berapa atau apa saja aset yang bisa di hasilkan dari bisnis kita namun pertambahan aset ini juga harus mampu kita manfaatkan dalam hal pengumpulan data.

Apakah hasilnya sudah bisa menutupi hutang produktif yang Anda ambil sebelumnya? Berapa lama hingga akhirnya bisa ‘balik modal’? Apakah balik modal ini termasuk cepat, medium atau lambat? Apa saja faktor yang mempercepat, menstabilkan atau menghambat (jika ada)?

Semua hal ini harus mampu Anda jawab sebagai asumsi kedepannya untuk mengembangkan bisnis.

7. Disiplin Mencicil Hutang

Tips terakhir dalam berhutang produktif adalah disiplin mencicil hutang. Karena di awal kita sudah menghitung kemampuan dalam membayar hutang, maka asumsinya disini Anda sudah mampu membayar hutang sesuai kesepakatan atau perhitungan.

Jangan menunda-nunda pembayaran jika memang tidak ada sesuatu yang berubah secara signifikan. Kedisiplinan dalam membayar hutang ini penting supaya Anda bisa lebih fokus dalam mengembangkan bisnis. Jika hutang Anda dibiarkan menggunung, maka Anda akan selalu cemas. Hal ini bisa mengurangi kefokusan dan kreatifitas bukan?

Baca juga, 10 Tips Cara Cepat Bebas Hutang Agar Hidup Tenang

Penutup

Begitulah tips untuk menjadi kaya dari hutang produktif. Kesuksesan memang tidak mudah digapai namun dengan persiapan dan ketahanan, maka hutangpun bisa di ‘sulap’ menjadi alat yang tepat untuk menggapainya.

Jadi jangan takut untuk berhutang produktif karena tidak setiap hutang itu berdampak negatif. Asalkan kita tahu tujuan dan merencanakan bisnis serta pembayaran hutang dengan maksimal maka peluang dampak positif akan lebih besar kita dapatkan. Smeoga tips diatas bermanfaat dan bisa Anda praktikan!

Bagikan ;

Tinggalkan komentar