5 Cara Hemat Paling Realistis dan Mudah

Bagaimana ya cara hemat paling realistis? Segala cara sudah di lakukan demi hemat, tapi rasanya menyesakan dan akhirnya boros lagi.

Menjelang akhir bulan, kita sudah mantap ingin mulai belajar berhemat. Tapi ketika gajian, malah kalap lagi beli ini dan itu. Setelah membeli, baru menyesal karena harus siapkan mental mengelola bugdet yang mepet sampai akhir bulan nanti.

Hmm… apakah Anda juga sedang merasakan hal yang sama? Jika iya, artikel ini adalah jawabannya, jadi jangan sampai ada poin yang terlewatkan ya!

Manfaat Berhemat

Berhemat adalah salah satu mindset yang bisa membantu kita menyimpan lebih banyak untuk mencapai tujuan keuangan. Meskipun memang cara terbaik adalah dengan menaikan income, namun hal itu membutuhkan proses dan ada resikonya (bisa berhasil atau bisa gagal) sehingga membutuhkan waktu yang cukup panjang.

Oleh karena itu sambil berusaha meningkatkan income, berhemat menjadi solusi tercepat untuk bisa menabung & investasi adalah ya dengan berhemat.

“You can be rich by deciding you need half as much” (Anda bisa kaya 2 kali lipat dengan memutuskan : kamu hanya butuh setengah dari yang Anda habiskan).

Pernah mendengar quotes ini?

Quotes terkenal yang berasal dari Sahil Lavingia yakni seorang CEO sekaligus penulis buku menggambarkan manfaat dari berhemat.

Namun dalam mengelola keuangan kadang ada orang yang sulit berhemat, atau justru malah terlalu hemat.

Sebenarnya keduanya memang bisa berdampak kurang baik. Karena kalau sulit berhemat, jelas saja keuangan akan bocor sana sini. Tapi kalau terlalu hemat, kebutuhan primer bisa-bisa tidak terpenuhi dengan baik padahal obejektifnya masih mampu.

Jadi harus bagaimana?

Kita harus mencari cara hemat yang paling realistis dan mudah dilakukan. Supaya hemat bisa jadi kebiasaan namun tidak jadi siksaan. Yuk kita bahas tipsnya satu persatu!

1. Jangan Berhemat Sembarangan

Jangan Berhemat Sembarangan
gambar : unsplash.com/ Markus Spiske

Agar efektif, cara hemat pertama yang harus di lakukan adalah jangan sembarangan berhemat. Karena judulnya ingin hemat, semua pos dalam budgeting bulanan jadi di kurangi. Jangan!

Ini justru kesalahan yang cukup fatal dan niat berhemat Anda bisa-bisa gagal. Kenapa?

Karena dalam budgeting bulanan, ada yang sifatnya urgent dan tidak, ada yang sifatnya primer dan sekunder, ada yang sifatnya tetap dan tidak tetap nominalnya.

Kalau yang sifatnya tetap di potong, biasanya akan berimbas pada budget yang lain. Hal ini memang karena sifatnya tidak bisa di ganggu gugat. Jadi, dengan mengurangi semua budget tanpa pertimbangan bisa membuat kacau budgeting itu sendiri.

Lebih baik kita list dulu semua pengeluaran normal. Catat semuanya dengan rinci dan kangan sampai ada yang terlewat ya.

Contohnya seperti ini!

  • Makan minum : Rp 1.000.000
  • Akomodasi dan Transportasi : Rp 1.500.000
  • Infaq : Rp 200.000
  • Refreshing : Rp 500.000
  • BPJS : Rp 37.000
  • Iuran warga : Rp 20.000
  • Internet : Rp 100.000
  • Skincare : Rp 300.000
  • Personal care : Rp 100.000
  • Social life : Rp 150.000
  • Maintenance rumah : Rp 100.000

Total pengeluaran bulanan : Rp 4.000.000

2. Identifikasi Tiga Pengeluaran Terbanyak

Tips selanjutnya kalau kita ingin hemat adalah fokus ke top 3 pengeluaran dan siginifikan. Kalau yang kecil-kecil di potong juga, yang ada malah membuat kita lebih tidak happy. Karena kesannya secara umum kita akan hidup serba ‘sulit’.

Jadi yang nilainya kecil tidak perlu di kurang-kurangi, karena tidak akan berpengaruh besar pada nilai saving kita.

Nah biasanya top 3 pengeluaran terbesar anak muda ada di konsumsi, akomodasi dan transportasi serta life style. Betul tidak?

Bagi mereka yang harus ngekost/ mengontrak rumah, tentu tempat tinggal (akomodasi) termasuk dalam top 3 pengeluaran bulanan terbesar. Namun kalau kita masih tinggal bersama orangtua tentu bisa berbeda lagi.

Bagi yang masih single dan sudah berkeluarga juga pasti berbeda. Jadi Anda bisa menyesuaikan dengan top 3 pengeluaran terbesar versi Anda ya.

Kalau Anda sendiri bagaimana? Apa pengeluaran bulanan terbesar Anda? Coba catat terlebih dahulu.

Dalam artikel ini, kita akan menggunakan asumsi pos makan minum/ konsumsi, akomodasi dan transportasi serta life style sebagai top 3 pengeluaran terbesar. Sebenarnya dari 3 pos ini bisa kita hemat. Tinggal bagaimana pintar-pintar kita mencari tahu caranya dan memang mau untuk berhemat.

Baca juga, 9 Tips Budgeting Cerdas Untuk Generasi Sandwich

3. Pisahkan Pengeluaran Tetap dan Tidak Tetap

Cara Hemat Pisahkan Pengeluaran Tetap Dan Tidak Tetap.png
gambar : unsplash.com/ Sincerely Media

Ingat ya, dalam anggaran bulanan kita ada yang sifatnya tetap dan tidak tetap secara jumlah biayanya. Mengidentifikasi dua jenis pengeluaran ini membantu Anda untuk mempertimbangkan manakah anggaran yang kira-kira masih bisa di kurangi.

Seperti misalnya biaya kontrakan/ kosan. Meski termasuk dalam top 3 pengeluaran bulanan terbesar, namun sifatnya sulit di ubah karena urgensitasnya.

Mungkin karena Anda seorang perantau, lokasi kontrakan/kos strategis (dekat dengan pasar, akses publik, sudah nyaman dan kondusif dan sebagainya. Intinya jika ini di kurangi, akan makin menyulitkan aktifitas atau menurunkan produktifitas kita. Jadi tempat tinggal bisa masuk dalam kategori pengeluaran tetap dan tidak perlu di turunkan anggarannya.

Biasanya pengeluaran tetap memang sudah terpola dan agak sulit untuk di ubah. Misalnya seperti biaya tempat tinggal, listrik dan air. Sementara pengeluaran yang fluktuatif masih bisa kita otak-atik jumlahnya, seperti konsumsi dan juga life style.

4. Hemat Dari Pos Konsumsi

Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, pos konsumsi biasanya menjadi top 3 pengeluaran bulanan terbesar. Jadi kita akan langsung lanjut membahas tips berhemat dari pos konsumsi ya.

Cara pertama untuk bisa hemat dalam pos ini adalah menurunkan standart 1 level. Misalnya Anda terbiasa makan di restoran. Anda bisa mencoba order makanan secara online bersama teman-teman agar dapat promo.

Namun kalau kita terbiasa pesan makanan secara online, kita bisa menurunkan standart 1 level misalnya beli makan di warteg. Coba cari warteg terdekat yang bersih.

Tapi bagaimana kalau kita terbiasa makan di warteg?

Sama seperti orang yang terbiasa order makan secara online, bagi kita yang terbiasa makan ‘instan’ di warteg bisa kita turunkan levelnya. Biasanya dengan memasak sendiri. Dengan catatan, kita benar-benar menghitung, apakah dengan memasak lebih hemat atau sebaliknya?

Kalau tidak bisa masak, Anda bisa membuat nasi dirumah dan membeli lauknya saja di warteg. Ini juga bisa menghemat pos konsumsi.

Namun apapun cara yang di sarankan, sebaiknya Anda hitung dulu sesuai dengan konteks masing-masing. Karena bisa jadi hasilnya akan berbeda.

Misalnya saja, Anda memilih untuk masak sendiri. Ternyata, setiap kali belanja bahan makanan ke pasar atau supermarket, Anda tidak bisa menahan diri untuk lihat-lihat dan akhirnya selalu membeli barang lainnya selain bahan yang diperlukan. Ini justru bukan hemat.

4. Hemat Dari Pos Akomodasi dan Transportasi

Tips selanjutnya berasal dari pos terbesar lainnya yakni akomodasi dan transportasi.

Tidak bisa di pungkiri, karena keadaan kita terpaksa tinggal jauh dari rumah. Sehingga membuat kita perlu merogoh kocek cukup besaruntuk tempat tinggal (akomodasi). Begitu pula dengan transportasi.

Sama halnya dengan pos konsumsi tadi, sebenarnya dari pos akomodasi dan transportasi bisa kita hemat kok. Hal terpenting dalam memilih tempat tinggal adalah sadar diri.

Karena biaya tempat tinggal idealnya tidak boleh melebihi 30% income kita. Kalau lebih, maka tandanya sudah tidak sehat untuk keuangan kita. Kalau lebih bagaimana?

Solusinya ya tetap, sadar diri. Pindah dan cari tempat tinggal yang biayanya tidak melebihi 30% dari income kita. Jika ingin berhemat di pos ini kita bisa hemat dengan cara menurunkan level.

Misalnya, kita terbiasa tinggal di apartemen. Maka kita bisa menurunkan 1 level menjadi kost yang eksklusif (biasanya berada di komplek perumahan, ada ac, kamar cukup luas, kamar mandi dalam, namun punya fasilitas umum bersama yang cukup aesthetic).

Atau bagi yang terbiasa nge-kos di kosan eksklusif bisa menurunkan 1 level menjadi kos-kosan biasa dengan kamar mandi dalam. Kosan ini biasanya bisa pilih dengan ac atau tidak, tetap ada fasilitas umum bersama yang biasa saja, namun tidak berada di area komplek, dan luasnya terlalu besar.

Sementara jika kita sudah terbiasa ngekos di kos-kosan biasa kalau mau berhemat dengan cara ini, bisa menurunkan satu level ke kosan biasa dengan kamar mandi dalam. Walaupun kosan dengan kamar mandi luar lebih murah, kita tetap bisa mencari kos yang bersih dan nyaman kok.

Meski menurunkan level tempat tinggal, ingat jangan sampai biaya transport malah jadi membengkak ya. Jadi usahakan untuk tetap balance.

Agar lebih hemat, kita bisa menggunakan transportasi publik masal dan mengurangi pakai taksi atau ojek online. Bisa juga dengan nebeng teman sesekali, berjalan kaki jika cukup dekat atau menggunakan sepeda.

Baca juga, 7 Tips Mengatur Uang Belanja Agar Cukup Sampai Akhir Bulan!

5. Hemat Dari Pos Life Style

Hemat Dari Pos Life Style
gambar : unsplash.com/ Elevate

Pos keuangan dengan budget terbesar ke 3 berasal dari life style.

Menurut saya pribadi, pos ini termasuk pos yang paling mudah di kendalikan. Kasarnya, kalau kita tidak terlalu sering hang out bersama teman kita tetap masih hidup.

Salah satu cara hemat pos life style ini adalah dengan mengurasi nongkrong dan mengikuti kegiatan yang bermanfaat. Misalnya membaca buku, berolahraga, lomba, ikut organisasi di kampus dan sebagainya.

Dibanding pesan kopi Rp 30 ribuan setiap kali nongkrong di kafe. Itu baru kopinya, belum snack atau makan berat kalau kebetulan sedang lapar.

Alternatif lainnya, boleh saja kita mengeluarkan uang dari pos ini untuk kegiatan yang memberikan dampak positif kepada kita. Seperti upgrade skill atau menambah networking.

Baca juga, Cara Membangun Kebiasaan Hemat untuk Mencapai Tujuan Keuangan

Penutup

Mungkin banyak dari kita merasa capek dan gengsi untuk melakukan cara hemat diatas. Itu manusiawi.

Namun coba sesekali, Anda melakukan pehitungan detail. Misalnya kita terbiasa menggunakan taksi atau ojek online dengan biaya Rp 50.000 dengan jarak tempuh 30 menit. Apakah income kita sudah bisa menghasilkan lebih dari Rp 50 ribu/ 30 menit?

Jika sudah, maka tidak masalah.

Kadang memang ada yang harus di korbankan demi mencapai impian kita. Mungkin saat ini gengsi dan capek yang Anda rasakan termasuk biaya yang harus di keluarkan demi mencapainya.

Jadi, sambil berusaha meningkatkan income, mari kita belajar cara hemat yang realistis dengan fokus mengurangi top 3 pengeluaran terbesar. Semoga dengan melakukannya keuangan kita tetap sehat, aset makin membesar, dan tentunya impian kita pun bisa tercapai satu persatu.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar