Bisnis Atau Investasi, Mana yang Lebih Penting?

Biasanya, generasi milenial dan gen Z yang baru mulai memasuki dunia karir bingung antara memilih bisnis atau investasi supaya punya tabungan yang bisa lebih besar dimasa depan. Mana sih yang lebih baik di pilih, bisnis dulu atau investasi dulu?

Kita semua tahu kalau saat ini ajakan untuk berinvestasi di suarakan di mana-mana. Kesadaran untuk berinvestasi di Indonesia menjadi lebih besar di banding jaman dulu.

Hal ini memang bagus, namun disamping itu terkadang ada yang terlewatkan oleh kita yang semangat investasi sedang menggelora. Hal ini juga terkadang membuat para pebisnis mulai goyah dan merasa takut ketinggalan.

“Katanya, investasi itu membuat kita bisa kaya sambil ongkang-ongkang kaki alias santai tapi kaya, dibanding bisnis yang harus capek kerja keras cari klien/customer”. “Apakah ini saya waktunya berinvestasi? orang-orang juga sudah investasi, tapi investasi ke saham apa ya?”

Pertama-tama, sebelum membahas jawabannya kita perlu memperjelas dulu perbedaan dari kedua hal ini. Karena mirip tanpa sadar bisnis dan investasi seringkali di samakan, padahal nyatanya berbeda.

Kemudian, kita juga perlu berpijak pada karir yang kita pilih, karena jawabannya akan bergantung dari sana. Nah langsung saja kita bahas dari asumsi yang paling dasar.

Perbedaan Bisnis dan Investasi

Perbedaan Bisnis Dan Investasi
vesSumber gambar : unplash.com/ Gleren Meneghin

Dalam berbisnis, kita akan perlu mengeluarkan modal usaha, skill, waktu dan usaha untuk memperkuat bisnis yang kita miliki. Sedangkan saat berinvestasi, kita mengeluarkan uang yang sudah kita hasilkan entah itu dari bisnis ataupun gaji bulanan agar uangnya semakin berkembang di masa depan.

Investasi itu seperti halnya membeli masa depan yang nyaman dengan uang yang kita miliki saat ini. Kita berkomitmen menyisihkan uang kita untuk memiliki dana pendidikan anak, dana membeli rumah, dana pensiun dll.

Sehingga bisnis itu pilihan namun berinvestasi sepertinya wajib untuk di lakukan baik itu bagi pengusaha maupun karyawan dengan berbagai profil resiko investasi masing-masing.

Baca yuk, Cara Mendapatkan Uang Dari TikTok

Karena investasi itu ada berbagai macam karakteristik yang bisa di sesuai dengan dengan profil resiko dan tujuan kita. Yang paling minimal adalah agar uang kita tidak tergerus oleh inflasi yang pasti naik setiap tahunnya.

Untuk melengkapi penjelasan ini, nanti akan di bahas pula mengenai perbedaan mindset dari seorang pebisnis dan investor. Walaupun seorang pebisnis ikut berinvestasi namun pebisnis tidak selalu harus menjadi investor sebagai profesi.

Bisa Kaya Dari Investasi

Bicara soal investasi seringkali ada ungkapan, kalau kita ingin menjadi investor yang lebih baik maka kita juga harus menjadi pebisnis terlebih dulu. Hm.. sebenarnya itu ada benarnya. Karena dengan menjadi pengusaha, kita akan lebih peka memahami kualitas sebuah perusahaan yang akan kita pilih untuk berinvestasi.

Tapi coba kita perhatikan bapak investor dunia yakni Warren Buffett. Buffett memulai karirnya sebagai investor mulai usia 11 tahun hingga sekarang, artinya ia sudah berinvestasi selama 80 tahun dan tidak pernah membuat perusahaan dari nol.

Bagaimana dengan Berkshire Hathaway?

Berkshire Hathaway adalah perusahaan hasil dari akuisisi Warren Buffett. Dulu ia berinvestasi di sana, kemudian semakin besar, dan akhirnya menjadi milik Warren Buffet.

Dari sana mungkin kita bisa melihat kalau Warren Buffett bisa menjadi salah satu orang terkaya di dunia hanya dari investasi saham tanpa memulai bisnis. Hal ini karena Warrent Buffett adalah seorang investor. Ia memiliki mindset, kepribadian dan skill yang di butuhkan seorang investor.

Bisnis Itu Pilihan Tapi Investasi Adalah Kewajiban

Berdasarkan data statistik, 80% bisnis mati di tahun pertama. Jadi jika ada 100 usaha yang mati, maka hanya 20 yang berhasil bertahan setelah 1 tahun. Lebih dari itu, setelah 5 tahun bisnis yang bisa bertahan hanya sekitar 4% saja. Sehingga probabilitas keberhasilannya sangat kecil.

Majalah Forbes pernah melakukan suatu riset kepada 100 orang terkaya di dunia. Rata-rata dari mereka seumur hidupnya pernah mendirikan 7 perusahaan yang berbeda. Sampai akhirnya mendapatkan 1 perusahaan yang benar-benar bisa mengantarkan mereka masuk dalam nominasi orang-orang terkaya.

Hal ini menunjukan bahwa bisnis adalah bidang yang penuh persaingan dan tentu hanya orang benar-benar minat dan punya modal skill dan kepribadian yang sesuai akan bertahan.

Jika ingin memulai bisnis, kita perlu mempelajari manajemen, marketing, branding, accounting, leadership. Seluruh energi, waktu, modal harus kita berikan di dalamnya. Nah apakah Anda benar-benar minat mempelajari semua itu?

Sedangkan untuk berinvestasi kita hanya perlu menemukan perusahaan yang bagus dan harganya sedang murah lalu menaruh uang kita disana. Walaupun begitu, kita juga tetap perlu modal uang yang sudah berhasil kita hasilkan, memahami bagaimana menemukan, masuk dan keluar dari investasi yang kita pilih dengan tepat.

Namun titik tekannya di sini adalah menjadi pebisnis itu tentu saja pilihan, namun berinvestasi baik itu di instrumen yang rendah atau tinggi resiko perlu di lakukan untuk “membeli” masa depan. Lalu bagaimana jika kita ingin memulai investasi dengan profesi kita sebagai pebisnis?

Investasi Bagi Pebisnis

Investasi Bagi Pebisnis
Sumber gambar : unsplash.com/ Nordwood

Jika kita seorang pebisnis terutama baru memulainya, otomatis secara keuangan, energi, waktu kebanyakan akan masuk ke dalam bisnisnya agar bisa semakin berkembang.

Disisi lain ada kemungkinan bisnis yang kita jalankan juga gagal. Karena itu, dana kita tidak bisa di investasikan ke saham atau instrumen investasi yang lainnya. Nah, inilah beberap hal yang wajib di perhatikan untuk pebisnis pemula yang ingin berinvestasi!

1. Pastikan Dana Untuk Kebutuhan Dasar Sudah Aman

Hal pertama yang harus di lakukan sebelum memutuskan berinvestasi adalah memastikan bahwa dana untuk kebutuhan dasar sudah aman.

Jika kebutuhan dasarnya saja belum ter-cover, kita pasti akan merasa stress yang berlipat. Karena membangun usaha itu pasti membutuhkan energi, mental dan fisik, jadi seandainya kita masih pusing memikirkan besok mau makan apa maka pasti secara mental dan fisik akan terganggu.

Sehingga sebelum berinvestasi, menabung dulu yang cukup untuk bertahan hidup. Apalagi jika ini adalah bisnis pertama dan baru masuk fase awal/ merintis.

Kita tidak bisa hidup bermewah-mewah mungkin di awal karena apapun yang Anda miliki harus di investasikan kembali ke bisnis Anda. Bisnis kita masih sangat rapuh dan memerlukan perhatian ekstra dari segi waktu, energi dan juga uang, sebab kalau tidak ukuran bisnisnya akan stagnant (tidak akan bertumbuh).

Dengan kata lain, instrumen pertama yang harus kita invest adalah bisnis kita sendiri. Apa bentuknya?

Semua cara yang membuat bisnis kita bisa tumbuh dan berkembang. Salah satu yang terpenting dalam bisnis selain ide bisnisnya itu sendiri, akan kita bahas di poin selanjutnya.

2. Owning The Business Not Operating The Business

Mindset ini yang harus dimiliki oleh para owner. Namun sayangnya banyak sekali pengusaha pemula yang justru mindsetnya hanya mengoperasikan bisnisnya. Sebenarnya tidak masalah dan justru perlu jika di awal kita paham teknisnya. Apalagi di masa awal kita masih sendirian.

Namun dalam perjalanan, kita harus memikirkan End Game atau hasil akhir dari bisnis yang kita jalankan. Disinilah kita mulai beralih dari operate the business menjadi own the business, dimana yang bekerja adalah kita sebagai team. Coba mulai memetakan struktur organisasi perusahaan. Maksudnya, orang dengan skill seperti apa saja yang kita butuhkan dalam bisnis kita.

Petakan semuanya. Bayangkan jika kita punya uang yang banyak, bisnis kita membutuhkan orang seperti apa saja. Jadi, saat ada pemasukan dari bisnis jangan langsung di konsumsi untuk sendiri, tapi investasikan untuk membesarkan bisnis. Nanti setelah bisnis berkembang, kita investasi pada team.

Pertama, mencari orang yang bisa mengisi posisi yang role pekerjaannya sangat banyak menghabiskan waktu kita dan kita tidak terlalu mampu di sana.

Yang kedua, kita cari orang yang bisa mengisi posisi dengan role yang crucial tapi kita tidak ilmunya. Yang ketiga ketika perjalanan usaha sudah cukup jauh, maka carilah orang yang bisa menggantikan kita. Sehingga kita tidak harus hadir setiap hari dan bisa memantau dari jauh.

3. Meningkatkan Self Awareness

Mungkin beberapa dari kita berpikir, “Duh, tapi saya takut ketinggalan. Orang lain sudah mulai berinvestasi, sementara saya belum”. Jadi lebih baik pilih bisnis atau investasi?

Dalam hal ini, di butuhkan self awareness untuk membedakan mindset pengusaha dan investor. Nah, Gary Vee adalah orang yang cukup bagus menjadi contoh self awareness di konteks ini. Dia pernah bilang bahwa jika dia mau, mungkin dia akan menjadi investor.

Tapi dia tidak memilih itu dan tetap menjadi pengusaha, karena dia sadar bahwa dia sangat menikmati kerja kerasnya menjadi pengusaha. Serunya menghadapi masalah, bertemu dengan orang, membangun sebuah team, bertemu klien dan bekerja hingga 12-13 jam sehari. Itulah yang membuat dia bahagia.

Dia memilih menjadi pengusaha padahal dia sudah punya cukup uang untuk menjadi investor. Ya ini karena yang membuat jiwanya merasa hidup adalah semua hal yang berkaitan dengan bisnis.

Baca yuk, 9 Channel Youtube Inspiratif

Nah, jika Anda dalam posisi yang masih bingung mau memilih menjadi pengusaha atau investor coba tanyakan pada diri sendiri : “Mana yang lebih mencerminkan diri Anda : sebagai pengusaha atau sebagai investor?” Jawabannya pun tidak mesti salah satu, tapi bisa dua-duanya. Jika dua-duanya, maka temukan keseimbangan versi Anda sendiri.

Kesimpulan

Jadi, lebih baik bisnis atau investasi dulu? Jawabannya tergantung, karena keduanya memang 2 hal yang berbeda. Bisnis adalah pilihan, jika Anda punya minat yang tinggi dan skill Anda mendukung maka Anda bisa memilih untuk berbisnis. Sedangkan investasi adalah hal yang wajib baik bagi Anda yang memang seorang pebisnis maupun bukan.

Namun jika Anda seorang pebisnis maka Anda perlu memperhatikan kepada apa dan kapan saat yang tepat untuk menginvestasikan uang Anda. Karena jika salah timing, bukan hanya bisnis Anda yang hancur tapi kehidupan juga bisa berantakan. Di masa awal bisnis sebaiknya tidak dulu pusing untuk investasi ke saham ini dan itu. Cukup investasi pada bisnis Anda dan besarkan bisnis.

Selain itu, jika Anda masih bingung memilih profesi sebagai pebisnis dan investor maka tingkatkan juga self awareness Anda. Karena pebisnis tidak selalu harus menjadi investor sebagai profesi, walaupun berinvestasi itu wajib. Tapi jika Anda juga merasa minat dan mampu menjadikan bisnis atau investasi sebagai profesi maka Anda sendiri yang bisa menemukan titik keseimbangannya.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar