Apa Itu Property Crash dan Inilah Cara Menghadapinya

Property crash is coming! Benarkah demikian?

Akhir-akhir ini mulai banyak orang yang melepas aset propertinya dengan harga rugi. Contohnya saja pemilik apartemen yang merelakan propertinya tersebut di jual di bawah harga belinya karena kesulitan mencari penyewa.

Apakah ini pertanda property crash? isu ini kerap dikaitkan dengan resesi global yang sedang terjadi di berbagai negara. Namun sebelum berasumsi macam-macam mungkin akan lebih bijak jika kita memahami terlebih dulu tentang seluk beluk property crash.

Jadi, apa itu property crash, kenapa bisa terjadi, apa tandanya dan apa yang sebaiknya di lakukan? Semuanya akan dibahas dengan rinci dan lengkap disini. Yuk baca artikelnya sampai selesai!

Pengertian dan Faktor Penyebab Terjadinya Property Crash

Apa Itu Property Crash Dan Bagaimana Cara Menghadapinya
gambar : unsplash.com/ Towfiqu barbhuiya

Bagi mereka yang sudah berpengalaman di dunia properti tentu sudah tidak asing dengan istilah ini. Namun, bagi kita yang masih awam, mungkin kita bertanya-tanya apa sih yang dimaksud dengan property crash itu?

Property crash bisa di artikan sebagai kondisi jatuhnya harga properti di karenakan adanya perubahan ekonomi yang fundamental dalam waku yang relatif cepat. Dengan kata lain, hal ini menggambarkan bahwa dunia properti sedang collapse.

Property crash ini tentunya memberikan dampak negatif. Terutama bagi property developer maupun owner yang sedang menjual rumah atau properti lainnya.

Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya property crash. Mulai dari faktor internal dan juga eksternal negara.

Misalnya seperti daya beli masyarakat yang menurun sehingga kemampuannya memiliki properti juga ikut turun, meningkatnya pengagguran, suku bunga yang naik sehingga pemilik properti tidak sanggup bayar cicilannya.

Baca juga, Cemas Hadapi Resesi? Ini 7 Rencana Bisnis yang Bisa Anda Terapkan

Selain itu, beberapa faktor terkini berkaitan dengan isu property crash tahun 2023 adalah :

FED Fund Rate

Federal funds rate atau suku bunga sentral antarbank yang berlaku sebagai biaya pinjam meminjam di Amerika. Loh, bukannya hal ini terjadi di Amerika?

Benar, tapi karena kebanyakan negara menggunakan dollar dalam melakukan kegiatan impor dan ekspor sehingga FED fund rate menjadi acuan standar ekonomi dunia. Lalu apa hubungannya dengan property crash yang bisa berdampak pada kita?

Nah, ketika bank harus meminjam dengan bunga yang lebih mahal, maka secara otomatis bank juga harus menaikan suku bunga kepada peminjam retail seperti kita.

FED fund rate sudah naik sebesar 3,25% dan diperkirakan akan terus naik sampai dengan 4,75%. Angka ini hampir sama dengan pada saat menjelang krisis real estate tahun 2007 lalu. Jadi, hal yang sama mungkin saja terjadi jika kenaikan FED fund rate ini terus berlangsung.

Nilai Dollar Semakin Kuat

Faktor lainnya yang menjadi penyebab property crash yakni nilai dollar yang semakin menguat. Sehingga membuat bahan baku import lebih mahal.

Ditambah lagi karena krisis supply yang belum bisa di atasi hingga saat ini karena zero covid policy di China. Padahal bahan baku bangunan kita masih banyak berasal dari import.

Indeks dollar atau nilai acuan dollar terhadap mata uang lain yang tinggi ini juga merupakan tanda bahwa saat ini bukanlah saat yang tepat untuk seller market. Tapi justru pas sekali untuk buyer market. Selain itu, indeks dollar sering juga di jadikan acuan investasi jangka menengah dan jangka panjang.

Adanya Culture Shift

Sejak pandemik covid 19 tahun 2020, kita jadi punya kebiasaan cara bekerja yang baru. Dari yang dulunya work from office menjadi work from home.

Sistem work from home bahkan terus berlangsung sampai saat ini. Sebab biaya yang energi dan biaya untuk kebutuhan bekerja jadi lebih rendah. Banyak perusahaan yang akhirnya memberlakukan fully remote ataupun hybrid (wfh dan wfo secara bergantian).

Akibatnya, orang-orang yang tadinya menyewa tempat tinggal di perkotaan kembali pulang ke daerah asalnya masing-masing dan bekerja dari rumah.

Bahkan berdasarkan data statistik per tahun 2022 ini, 40% apartement di Jakarta dalam keadaan kosong. Hal yang hampir sama terjadi pada office spacenya. Untuk mengantisipasi dampak negatifnya, pemerintah meluncurkan visi digital nomad yang mengizinkan WNA tinggal di Indonesia selama 5 tahun.

Baca juga, 8 Tips Tetap Produktif Saat Work From Home Karena Corona

Banyak Orang yang Ingin Mengurangi Aset Non-likuid

Banyak orang menjual propertinya karena ingin mengurasi aset non-likuidnya. Kenapa?

Karena ingin ingin memiliki cash agar bisa membeli aset yang lebih murah atau sedang diskon pada saat krisis. Sebab di saat krisis terjadi, selalu ada kesempatan bagus. Namun masalahnya, saat ini investor membutuhkan cash, bukan properti.

Perpindahan Generasi

Penyebab selanjutnya adalah karena terjadinya perpindahan generasi dari boomers kepada milenial dan zoomers Dan seperti yang kita tahu, beda generasi biasanya melahirkan perbedaan mindset.

Generasi boomers kebanyakan menyukai investasi dalam bentuk emas dan properti. Karena mereka merasakan sendiri kenaikan harga emas dan properti yang sangat signifikan pada masanya.

Sedangkan milenial dan zoomers berbeda. Jika Boomers tidak terlalu paham soal teknologi digital, tapi milenial dan zoomers hampir semuanya di digitalisasi. Mulai dari buku menjadi e-book, uang mennjadi crypto hingga properti menjadi metaverse. Itulah alternatif investasi yang banyak di mereka pilih.

Tanda-tanda Akan Terjadi Property Crash

Tanda-Tanda Akan Terjadi Property Crash
gambar : unsplash.com/ Goh Rhy Yan

Bagaimana kita bisa tahu akan terjadi property crash di masa depan? Sebenarnya ada beberapa tanda yang menandakan akan terjadi property crash, apa saja itu? Yuk kita bahas!

Harga Properti Terjun Payung

Tanda akan terjadinya property crash yang pertama yakni harga properti jatuh jauh di bawah harga pasaran. Ini berbeda sekali dengan housing bubble yang mana ketika terjadi krisi ekonomi harga rumah malah meningkat pesat.

Kenapa?

Sebab, kondisi ekonomi yang collapse membuat banyak orang terpaksa menjual properti mereka dengan harga murah (agar cepat terjual). Namun, tunggu dulu! Harga properti yang terjun payung ini bukan satu-satunya tanda bahwa industri properti akan jatuh. Masih ada tanda yang kedua.

Suku Bunga Naik

Ya, benar. Suku bunga yang naik secara drastis juga merupakan tanda akan terjadinya property crash.

Seperti yang sudah di sebutkan sebelumnya, ketika suku bunga menjadi sangat tinggi banyak orang yang akhirnya kesulitan membayar cicilan properti. Maka dari itu, tidak heran kalau banyak dari mereka memilih menjual aset propertinya.

Banyak Aset Properti yang Dijual

Ciri akan terjadi property crash yang terakhir adalah banyaknya aset properti yang dijual oleh pemiliknya. Awalnya hanya di suatu daerah saja, dan kemudian makin meluas.

Jika Anda mendapati hal ini terjadi selama beberapa bulan atau bahkan ebberapa tahunn, artinya industri properti sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Investasi Properti di Indonesia

Sebelum kita membicarakan soal cara menghadapi property crash, apakah Anda tidak penasaran tentang bagaimana kondisi kecendungan orang Indonesia terhadap properti?

Ternyata, secara umum properti masih menjadi investasi favorit masyarakat Indonesia sampai saat ini. Namun jika Anda juga berminat membeli properti untuk investasi, disarankan untuk membeli produk turunan properti ataupun rumah second yang dijual di bawah harga pasar.

Baca juga, 5 Jenis Investasi Properti Menjanjikan yang Bisa Dipilih

Cara Menghadapi Jatuhnya Industri Properti

Cara Menghadapi Jatuhnya Industri Properti
gambar : unsplash.com/ Jhon Jim

Walaupun properti secara umummasih di sukai di Indonesia, tidak ada salahnya jika kita berhati-hati jika suatu hari property crash benar-benar terjadi di Indonesia. Nah, apa sih yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya?

1. Jangan Asal, Gali Informasi dengan Cermat!

Hal pertama yang perlu di lakukan adalah riset. Proses ini sangat penting dan tidak boleh dilewatkan saat property crash sedang terjadi jika tidak ingin rugi. Apa saja yang perlu di cari tahu?

Lakukan riset untuk mengetahui kapan properti mencapai titik terendahnya. Mulai dari riset secara online hingga melakukan diskusi langsung dengan agen-agen properti. Dengan begitu, kita mampu membaca arah market saat property crash ini terjadi.

Riset yang di lakukan memang bersifat prediksi, bisa benar dan sebaliknya. Namun di banding hanya menebak-menabak (gambling) dengan nasib, lebih baik mencari data dan melakukan analisa rasional.

2. Jual Untuk Investasi Jangka Pendek

Setelah riset, langkah selanjutnya tergantung dari tujuan yang Anda miliki. Jika seandainya Anda ingin berinvestasi secara jangka pendek, Anda bisa menjual properti yang Anda miliki meski sedang terjadi property crash.

Tapi, ingat jangan asal menjualnya ya!

Dengan data yang dimiliki, jual lah properti Anda di saat harga belum terlalu jatuh. Hal ini dilakukan untuk menghindari jatuhnya harga properti yang Anda miliki saat hendak di jual.

Setelah itu, beli kembali properti saat harga mencapai titik terendahnya. Biasanya hal ini dilakukan oleh fulltime investor untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek,

3. Simpan Properti Untuk Investasi Jangka Panjang

Jika Anda bukan fulltime investor, sebaiknya Anda melakukan langkah lain. Jangan jual properti Anda dan tetap simpan untuk investasi jangka panjang.

Sebab harga properti bisa naik lagi setelah property crash berakhir. Artinya Anda akan tetap bisa mendapatkan keuntungan kembali dimasa depan.

Jadi, sebisa mungkin bertahanlah dengan properti tersebut selama Anda masih mampu membayarkan angsurannya. Selama tidak menjualnya, property crash ini tidak akan berdampak apa-apa bagi aset Anda.

4. Tetap Update Informasi Terbaru

Langkah terakhir yang perlu terus Anda lakukan adalah tetap meng-update informasi terbaru. Terutama jika Anda ingin berinvestasi secara jangka pendek.

Hal ini wajib dilakukan agar Anda bisa menyesuaikan strategi yang tepat. Sebab saat terjadi property crash, banyak faktor yang bisa mempengaruhi market.

Sehingga bisa jadi akan ada kondisi yang berubah dan mengharuskan Anda bermanuver. Jadi, jangan lupa untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.

Baca juga, 5 Investasi Tepat Dikala Suku Bunga Naik

Kesimpulan

Ketika terjadi property crash, harga properti tidak akan langsung naik secara cepat. Oleh karena itu kita perlu menyiasatinya dengan cara yang tepat.

Bagaimana menurut Anda? Apakah properti crash akan benar-benar terjadi di Indonesia? Kira-kira langkah apa yang akan Anda lakukan? Menahan atau menjual properti untuk investasi jangka pendek?

Apapun pilihan Anda, yang penting Anda memilihnya dengan rasional dan tidak panik. Selalu lakukan riset dan analisa sebelum menyikapi isu ekonomi, termasuk property crash 2023.

Yuk Bagikan

Tinggalkan komentar